Langit tak biru. Semuanya kelabu. Tanah tak kering. Dibasahi benda-benda putih yang terus berjatuhan. Daun-daun tak berembun. Bunga-bunga tak dapat menampakkan kemolekannya. Semua hanya membeku dengan sempurna. Surya pun tak mampu meleburkannya.

Kupu-kupu sayap terang yang biasanya melintas pun tak nampak. Kendaraan yang sliweran hanya berjalan perlahan, menghindari kemungkinan menjadi headline surat-surat kabar yang akhir-akhir ini hanya berisi insiden kendaraan tergelincir. Atau manusia-manusia yang membeku dan mati saking dinginnya suhu udara.

Bangku-bangku taman pun dingin. Seorang gadis yang duduk di salah satu bangkunya terlihat sedikit menggigil. Ia seakan duduk di atas sebuah balok es. Semua membeku. Namun ia tetap sibuk dengan buku di pangkuannya. Ia terlihat menorehkan sesuatu di atasnya. Entah itu apa. Entah bagaimana ekspresinya saat ini. Sulit dijabarkan–meringis karena kedinginan atau tersenyum penuh kemenangan.

Emma Jasons begitu ia dipanggil. Begitu cantik kedengarannya. Ya. Cantik. Karena memang begitu orang mendeskripsikan seorang Emma. Cantik dengan kulit putihnya yang bak berlian. Bibirnya yang bersemu layaknya bulu-bulu indah flamingo. Hidungnya yang mancung terbentuk begitu sempurna. Pipinya yang selalu terlihat bersemu sekali pun tak pernah terpoleskan blush on. Manik hijau emerald yang menghiasi matanya selalu memikat tiap kali ia mengerjap kelopak matanya yang tak kalah indah. Rambut honey blonde-nya yang panjang dan lurus menambah pesonanya yang memukau.

Sesekali ia menatap ke jalanan–yang masih setia berselimutkan salju–kemudian sibuk kembali pada bukunya. Masih tak jelas bagaimana ekspresinya. Sudah berapa lama ia berada di sana. Namun sepertinya hawa dingin hanya terasa sampai kulit mulusnya. Mantel merah jambu yang ia kenakan rupanya cukup ampuh untuk melawan hawa dingin yang menerpa tubuhnya.

Sampai tiba pada suatu saat, Emma menutup bukunya. Ia memandang ke arah tiang lampu taman yang berada tepat di seberang jalan di hadapannya. Seorang pria berambut curly dengan beanie hijau lumutnya berdiri di dekatnya. Rupanya Emma menyadari kehadiran pria ini. Ia memicingkan matanya kemudian mengemasi bukunya dan berjalan menyeberangi jalan–menuju ke arah tiang lampu taman atau lebih tepatnya pria tersebut.

“Harry,” panggilnya. Uap dingin keluar dari mulutnya menandakan suhu tubuhnya sedang rendah.

“Oh, hai, Emma,” ucap pria tersebut seolah menyambut kedatangan Emma. “Kau melihat kedatanganku rupanya.”

“Tentu saja,” sahut Emma lalu berjalan meninggalkan Harry, nama pria tersebut.

Harry, tentu saja mengikuti Emma. Ia melangkah lebih cepat dari Emma untuk menyejajarkan Emma. Ia merapatkan tubuhnya ke dalam mantel – atau lebih tepatnya jaket hitamnya.

“Kau pasti sedang memperhatikanku tadi, ya?” Emma mengerling ke arah Harry.

Pria tampan ini mencoba menghindari tatapan mata Emma. Ia menengadahkan kepala ke langit sembari menggaruk tengkuknya – aku berani bertaruh tengkuknya tak gatal. “Oh, aku hanya menanti kawanan kupu-kupu melintas.”

Emma sendiri dengan bodohnya hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Cukup lama mereka membisu. Berjalan mengikuti kemana laju kaki membawa. Sampai akhirnya keheningan di antara mereka terpecahkan.

“Emma,” Harry berbisik. Si empunya suara menoleh ke arahnya. “Kau mau aku mengantarmu pulang?”

Emma mengernyitkan dahinya. “Apa itu tidak merepotkanmu?”

Lalu dengan cepat Harry menjawab, “Oh, tentu saja tidak. Tidak sama sekali.”

“Bagus, lah,” jawab Emma membuat Harry bernafas lega, menciptakan busur-busur senyum di bibir Harry maupun Emma. “Aku malas menelepon taksi atau lebih buruk menunggu bus kota yang melintas.”

Harry tersenyum penuh kemenangan. Mereka terus berjalan. Berjalan menuju area parkir taman ini.

“Hei Harry, bagaimana kau bisa berada di sana tadi?” tanya Emma.

“Aku sedang mencari Niall saat ku lihat”

“Niall?” Emma memotong kalimat Harry yang belum ia rampungkan. “Niall Horan? Kau bersama Niall tadi, Harry?”

Kedengarannya mungkin hanya pertanyaan biasa. Tapi itu terdengar sedikit memaksa. Harry menghela nafas pendek. Ia tahu, ada sesuatu dibalik pertanyaan Emma. Ya, tentu saja! Siapa yang tak tahu bahwa Emma tertarik pada si Horan itu.

“Ya,” ucap Harry pendek. “Tapi aku tak tahu di mana dia sekarang.”

“Astaga, Harry!”  seru Emma, setengah memekik. Kedua tangannya menutup mulut dan sebagian hidungnya. “Betapa bodohnya, kau! Itu dia Horan sedang berjalan kemari.”

Harry menatap ke depan. Seorang pria berambut pirang dengan mantel hitamnya berjalan ke arah mereka berdua.

“Harry! Ke mana saja kau?” tanya pria tersebut. “Taksi yang ku pesan sudah datang. Aku bisa pulang sendiri.”

“Oh, bagus kalau begitu, Niall,” timpal Harry pada pria yang rupanya bernama Niall ini. “Aku akan mengantarkan Jasons pulang.”

Niall hanya melirik sedikit ke arah Emma lalu mengangguk–menanggapi pernyataan Harry. Namun tiba-tiba Emma maju selangkah ke depan.

“Uhm, Harry tentu tidak keberatan jika kau bersama kami. Ya ‘kan, Harry?” Emma mengangkat alis ke arah Harry–meminta jawaban. “Jika kau enggan pergi dengan taksi itu, kau bisa pulang bersama kami, Niall.”

“Tidak, terima kasih,” ucap Niall singkat. “Lagipula aku akan mampir ke Nando’s.”

“Nando’s?” Emma mengerling. “Maukah kau mengajakku, Niall? Ku mohon. I haven’t had lunch yet! C’mon!

Niall mengerutkan kening. “Kau pulang saja dengan Harry! Tak usah merepotkanku!”

Ia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Emma yang mulai berkaca-kaca. Harry mendekatinya lalu merangkulnya.

Emma mengambil tisunya yang ke sekian ratus. Ia telah menghabiskan berlembar-lembar kertas begitu sampai apartemen tadi. Kedua temannya–Samantha dan Ayla–yang berada di samping kanan dan kirinya tak tahu apa yang harus mereka perbuat. Sam–Samantha–hanya menepuk-nepuk pundak Emma sambil merangkulnya. Sementara Ayla membantu Emma mengambil lembar demi lembar tisu dari tempatnya untuk kemudian digunakan mengusap air mata Emma lalu dibuang.

“Oh, tragisnya kisah cintaku,” isak Emma sembari mengusap pipinya yang dibanjiri air mata. “Dan bahkan ia tak meresponku–sedikit pun.”

“Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya,” timpal Ayla. “Mungkin ia buta atau bagaimana. Gadis secantik Em kalah oleh makanan. Huh, lelaki macam apa, itu?!”

“Dan aku tak habis pikir,” Sam turut menimpali. “Kenapa kau masih saja mengejarnya, Em?”

“Aku pun tak tahu, Sam,” jawab Emma masih berlinangan air mata.

“Yah, cinta memang buta,” kata Sam.

“Dan aku tak percaya akan cinta,” ucap Ayla. “Mungkin Niall juga demikian. Oh, sudahlah, Emma. Lelaki di dunia ini masih banyak! Tak hanya Niall. Kau bahkan bisa memacari lelaki setampan Orlando Bloom sekalipun. Kau cantik, muda, cerdas. Lelaki mana yang akan menolakmu? Mungkin hanya lelaki-lelaki bodoh yang melakukannya. Yah, lelaki bodoh. Seperti Niall.”

“Banyak. Tapi tak ada yang seperti Niall, Ayla Jones!” oh, tangis Emma pecah kembali. “Matanya. Bibirnya. Hidungnya. Rambutnya. Suaranya. Semua berbeda! Niall yang teristimewa di hatiku, Ayla! Oh, tidakkah kalian tahu itu?!”

“Kalau begitu tidak  ada gunanya kau menangis, Em,” suara lembut Sam membuat tangis Emma terhenti–setidaknya untuk saat itu. “Kau harus mengejarnya–bukan meratapinya. Kejar dia, Emma! Jangan menyerah. Dia pasti akan takluk akan semangatmu!”

Bloody hell, shut up your fucking shit, Sam!” gusar Ayla sembari berdiri dan menekuk kedua tangannya di depan dada. “Emma telah mengejar-ngejarnya selama empat bulan dan sampai saat ini tak terjadi perubahan yang signifikan. Justru Styles yang–ku rasa–jatuh cinta pada Emma. Aku berani bertaruh Niall sebenarnya sudah tahu bahwa Emma mengejarnya–menginginkannya. Dia saja yang tak waras. Entah setan macam apa yang telah merasukinya. Aku bahkan curiga dia memang tidak normal.”

Emma menatap Ayla tajam. “Maksudmu, kau berpikir Niall biseksual?”

Ayla sendiri hanya menganggukkan kepalanya ringan. Kedua tangannya masih ditekuknya di dada.

“Kau jangan menuduh Niall, ya!” kini tangisan Emma berubah menjadi amarah. Emma bediri dan menunjuk-nunjuk Ayla dengan jari telunjuknya yang ramping–God, bahkan jemarinya pun terlihat sempurna.

Sam yang melihat kejadian ini seger berdiri untuk melerai kedua sahabatnya. Di antara mereka bertiga memang Samlah yang paling dapat mengendalikan emosi termasuk amarahnya.

“Niall tidak mungkin biseksual. Aku yakin itu!” gertak Emma.

“Hei, nona-nona,” Sam berusaha memisah keduanya.

“Oh ya?” Ayla maju–tak gentar melawan sahabatnya sendiri. Ia sangat percaya pada argumentasinya. “Tau dari mana, kau?! Bahkan berbincang dengannya saja kau tak pernah!”

“Aku tahu dari matanya. Mata tak akan bisa bohong, Ayla!” Emma pun juga tak mau kalah rupanya.

“Kalau kebohongan bisa dinilai dari mata, negara tak butuh polisi tegas. Tanyakan apa dia melalukannya, tatap matanya. Itu tidak berfungsi di jaman sekarang ini, Nona Jasons!”

“Tapi aku dapat merasakannya! Dengan hatiku. Karena aku masih memiliki hati. Tidak sepertimu!”

“Teman-teman, hentikan ini,” ucap masih Sam berusaha menengahi.

“Oh, jadi kau pikir aku sudah tak punya hati? Ha?!” rupanya usaha Sam tidak berhasil!

“Memang! Dan kau juga tak memiliki otak!”

“Apa?!” seru Ayla lantang. “Apa kau bilang?!”

“Kau tidak memiliki otak! Sudah jelas sekali Niall itu bukan seorang biseksual!”

“Lalu apakah kau pernah mendengar ia memiliki kekasih sebelumnya?”

“Aku tak tahu pasti tapi aku lebih percaya padanya daripada pada hipotesa-hipotesamu yang kuno itu!”

“Oh, jadi kau lebih memilih lelaki yang baru kau kenal daripada aku?!”

“Memangnya kau siapa?!”

“Tidak baik kalian berdebat dengan kepala panas,” ucap Sam. “Dinginkan kepala kalian. Berpikir jernih!”

“Diam, Sam!” teriak Emma dan Ayla bersamaan.

“Woo!” Sam berseru. “Lihat! Bahkan saat bertengkar pun kalian masih kompak. Karena kalian memang diciptakan Tuhan untuk bersama. Bersatu dalam sebuah persahabatan dan sama sekali bukan permusuhan. Tuhan menciptakan kalian tidak untuk berseteru satu sama lain. Melainkan untuk saling berbagi kasih dan sayang.”

Cukup lama mereka terdiam.

“Kau salah, Sam,” kata Ayla. Ia memicingkan matanya–menatap Emma dan Sam satu persatu–lalu menepuk pundak Sam dan Emma sembari berkata, “Kami tidak diciptakan untuk bersatu. Tapi kitalah yang diciptakan demikian.”

Sam terdiam. Emma mengangguk. Perlahan, sebusur senyum terkulum di bibir manisnya.

“Kami berdua bukanlah apa-apa tanpamu,” imbuh Ayla. “Kita bertiga diciptakan untuk bersatu. Kita bertiga. Ayla Jones, Emma Jonsons dan Samantha Connor. Bukan hanya aku dan Emma.”

“Benar, Sam,” tambah Emma. “Jika aku surat dan Ayla adalah perangkonya, maka kaulah si pengantar surat. Surat tak akan sampai tanpa pengantar surat sekalipun perangko telah melekat di atasnya. Kau membuat hidup kami semakin semarak.”

“Terima kasih, teman-teman,” lirih Sam.

Emma dan Ayla mengangguk.

“Aku juga berterima kasih padamu, Sam. Kau selalu berpikiran dingin saat kami yang seharusnya melakukannya,” ujar Ayla. “Dan aku minta maaf padamu, Emma. Maaf aku sudah berprasangka buruk tentang Niall. Terima kasih telah menerangkan hati kami, Sam.”

“Aku juga minta maaf telah membentakmu, Ayla. Aku sayang pada kalian,” ucap Emma sembari memeluk Ayla. Ayla membalasnya lalu Sam turut memeluk kedua sahabatnya ini.

“Aku berjanji akan membantumu mendapatkan hati Niall, Emma,” bisik Sam.

“Maka aku akan selalu berada di sisi kalian untuk membantu misi Sam,” sahut Ayla.

Tiga gadis cantik ini lalu tertawa bersama terlena dalam sebuah rasa yang selalu timbul di antara mereka–cinta kasih…

***

“Katakan saja, Em!” Sam mendorong Emma untuk mendekati Niall yang sedang disibukkan dengan gitar dan partitur-partiturnya.

Emma dengan langkah-langkah ragu berjalan ke arah Niall yang tengah duduk mencari kunci-kunci untuk lagu yang diciptakannya. Di balik punggung Emma, tergenggam sebuah kubus kecil berselimutkan kertas merah jambu. Sebentar saja Emma menoleh ke belakang–di balik semak–tempat Sam dan Ayla bersembunyi.

Emma–dengan dibantu Sam dan Ayla–berniat memberikan sesuatu untuk Niall. Sesuatu yang setidaknya akan dikenang Niall untuk mengingatkannya pada Emma. Sam dan Ayla sendiri telah mengamati Niall selama tiga hari penuh untuk mengetahui benda apa yang sangat tak mampu dijauhkan dari Niall. Butuh perjuangan untuk mengetahuinya. Beberapa kali Niall menyadari dua dara ini menguntitnya. Untungnya Sam selalu saja menemukan cara untuk menipu Niall.

Seperti saat Niall makan di kantin, dia curiga pada Sam dan Ayla yang hanya mengaduk-aduk makanannya dan mengarahkan pandangan pada mereka. Sam secara spontan menjejalkan di sendoknya kepada mulut Ayla. Beruntung Niall tidak menaruh curiga berlebihan. Tapi sayangnya, tanpa Sam tahu, isi sendoknya bukan hanya bubur ayamnya melainkan juga mengandung jus Ayla–yang tanpa mereka sadari juga–Ayla tumpahkan ke dalamnya.

Tapi akhirnya, setelah mereka melalui dan melewati begitu banyak rintangan, jawaban dari pertanyaan mereka terjawab. Benda pertama adalah makanan–tentu saja karena Niall adalah Raja Makan. Tapi rasanya tak mungkin jika Emma memberikan makanan karena pasti makanan Niall telah melimpah. Benda kedua adalah gitar. Tapi tak mungkin juga jika Emma memberi Niall sebuah gitar. Niall sudah memilikinya dan pasti sulit untuk berpaling dari gitarnya yang selalu dibawanya itu.

Maka Sam dan Ayla memutuskan untuk meminta Emma memberi Niall sebuah pemetik gitar. Tidak sembarangan tentu saja. Pemetik gitar itu istimewa. Di satu sisi terpahatkan huruf ‘EJ’ atau Emma Jasons dan di sisi baliknya terpahatkan ‘NH’ atau Niall Horan. Cukup romantis memang. Itu adalah ide Sam. Sam yang cerdik!

Tapi masalah kembali muncul. Emma tak memiliki cukup nyali untuk memberikannya pada Niall secara langsung. Mungkin nyalinya tertinggal dalam apartemennya atau bagaimana. Yang jelas, saat ini, lelaki bernama Niall Horan mampu membuat gadis sesempurna Emma Jonsons mati gaya.

*Penulis: Lintang Fajarauna Sophia Perennis (penulis kumpulan buku “Mengenalkan dan Mengekalkan Kehilangan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here