Kalau orang menganggap mengamen merupakan pekerjaan yang sangat-sangat rendah. Bagiku pengamen hanya sebatas pedagang. Mereka memiliki skill berdagang yang tak kalah hebatnya dari orang-orang Madura. Kemampuan mereka dalam berjualan bisa dibilang sangat mahir. Hanya bermodal gitar – bagi yang mampu kalau pun tidak punya masih bisa pakai ecrekan atau maracas alakadarnya yang dibuat dengan menyusun tutup botol minuman berkarbonasi mereka menjual suara mereka. Berusaha menghibur calon pembeli dengan memamerkan langsung barang dagangannya. Kalau pun tidak dibeli? Mereka tak rugi. Tapi, sejujurnya saya menemukan sesuatu yang absurd. Ada beberapa calon pembeli yang tidak sengaja suka dan menerima apa yang dijual oleh pengamen-pengamen ini, tapi ia tidak membayarnya. Pencuri ulung menurut saya.

 

 

Beberapa malam lalu aku duduk di sudut cafe bersama ketiga temanku. Di temaram lampu bertemankan lagu indie khas cafe era klasikal. Kuseruput  sedikit demi sedikit kopi susu pesananku. Kopi dengan warna permukaan coklat bertekstur sedikit lebih kental memberikan sensasi tersendiri di dinginnya malam. Terutama aroma khas kopi yang menguap di langit-langit cafe menambah kenyamanan posisi dudukku di sini.

Ketiga temanku pun menyeruput minuman mereka masing-masing. Masih pukul 8 malam, kami sibuk bersenda gurau. Menikmati kebersamaan tanpa gangguan gadget di tangan kami. Pembahasan dimulai mengenang masa-masa dulu hingga berandai-andai bagaimana ketika nanti kami dewasa. Apakah aku akan menjadi usahawan, atau mungkin temanku akan menjadi bangsawan terkenal. Cukup menghibur untuk remaja seusia kami.

Pembahasan mulai serius ketika seorang pengamen masuk. Pengamen ini bukan sembarang pengamen, sudah berapa kali dia menerima request dari pelanggan-pelanggan cafe. Bahkan, menurut beberapa orang dia sempat mengisi acara-acara ringan di sekitar cafe yang ia datangi. Kuakui suaranya sangat merdu dan halus. Bagi seorang pengamen ia memiliki suara khas serak-serak basah ala Judika.

Saat itu ia menyanyikan lagu berjudul bukti. Lagu yang dilantunkan Virgoun itu ia bawakan dengan merdu. Beberapa kali kuikut bersenandung. Bernyanyi mengikuti irama gitar yang ia petik dan menikmati tiap kata dari lirik lagu itu. Setelah lagu Virgoun dilantunkan, ia tidak langsung pergi. Seperti biasa ia segera dibanjiri request oleh pengunjung cafe. Hingga kuhitung enam lagu yang ia nyanyikan saat itu.

Seperti biasa, setelah bernyanyi ia keliling mengambil upah hasil bernyanyinya. Menghampiri meja satu ke meja lainnya. Hingga tiba di meja kami, ketiga temanku memberikan ia beberapa rupiah sedangkan aku tidak. Bukan maksudku tidak menghargai usahanya, namun bagiku memberikan atau tidak merupakan hak tiap orang bukan? Dan aku memilih untuk tidak memberikannya. Sesudah itu ia melangkah pergi menuju cafe-cafe lainnya.

Tepat setelah pengamen itu pergi, salah seorang dari temanku menegur tindakanku tadi.

“Kau layaknya pencuri”

Seketika aku bingung “Maksudnya gimana? Aku tidak mencuri, mengambil sepeser pun tidak. Aku mencuri apa?”

Ia menyeruput sedikit kopinya, dilanjut menghisap panjang rokok ditangan kirinya. Menghembuskan perlahan kemudian mengatakan dengan nada tegas.

“Pengamen tadi ibarat seorang pedagang. Ia datang kemari menyajikan dagangannya yang berbentuk skill dalam bernyanyi. Ia bernyanyi dengan harapan kita sebagai pengunjung sekaligus orang yang nantinya mendengarkan nyanyiannya bisa menikmati apa yang dia dagangkan. Ketika kita menikmati itu, secara tidak langsung kita sudah membeli barang dagangannya. Kau tau? Kau sangat menikmati apa yang ia dagangkan, dan bahkan kamu ikut bernyanyi.”

Aku termangu mendengarkan penjelasan kawanku satu ini. Bagaimana tidak, ia mengibaratkan pengamen sebagai pedagang yang sedang menjajakan dagangannya berupa kemampuan bernyanyi dan bermain musiknya. Sedangkan, barang siapa yang merasa terhibur akan nyanyiannya, bahkan dia ikut bergoyang, misalnya. Bisa dikatakan dia sudah membeli apa yang dijajakan pengamen itu, dan kewajiban kita untuk membayar. Hei, menarik sekali.

Cangkir kopi diletakkan, sembari mengangkat tangan kirinya yang terselip rokok di antara jemarinya. Temanku satu ini masih ingin berbicara.

“Jika kau menikmati musik itu, namun kau tidak memberikan imbalan bagi mereka karena telah menghiburmu. Bagiku kau pencuri ulung. Tidak pantas mendengarkan senandung yang ia nyanyikan.”

“Baiklah, jika seperti itu pertimbanganmu”

Kuseruput kopiku kemudian menghirup sedikit rokokku dan menghembuskannya lembut. Nikmat sekali nuansa malam ini.

 

Ihzamastury. 17 Desember 2019

Kunil Coffee

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here