Naomi

0
117

Judul Buku    : Naomi
Penulis      : Tanizaki Junichiro
Penerjemah    : Maulida Sri Handayani

ISBN          : 9786029137231
Terbit        : Juni 2012
Penerbit      : Komodo Books
Ukuran        : 14 x 20,5 cm
Halaman       : 256

Sering kali orang yang lapar memakan makanan dengan rakus makanan buruk namun saat perutnya mencerna ia akan langsung menyadari betapa buruknya makanan itu dan merasa mual (Tanizaki Junichiro)

Diceritakan tentang seorang gadis desa berusia 15 tahun, dan bekerja di sebuah cafe, sebuah tempat yang jauh dari kampung halamannya, Dialah, Naomi. Dalam novel setebal 256 halaman ini sang novelis yang lahir di tokyo 24 juli 1886 dan meninggal di Yugawara Kanagawa 30 Juli 1965. Junichiro Tanizaki menceritakan sosok Naomi, seorang gadis desa yang pendiam dengan raut wajah yang selalu murung.

Tapi berselang beberapa tahun kemdian, yakni setelah Naomi bertemu dengan Joji di sebuah Kafe Diamond. Joji yang pada mulanya ingin merawat dan membesarkam Naomi seiring dengan perjalanan waktu, Joji jatuh cinta, dan menginginkan dambaan hatinya itu menjadi orang yang cerdas, berwawasan dan berpenampilan layaknya orang-orang eropa, yang Joji jumpai baik di tempat ia bekerja maupun di cafe-cafe.

Penulis yang menurut banyak pengamat selalu menampilkan tokoh-tokoh erotis, dekstruktif dan vulgar ini, setidaknya dalam novel ini, berhasil menampilkan karakter Naomi yang sejak mula gugup menjadi gadis yang serba lincah dan tanggap akan sebuah perkembangan.

Tentu, keberhasilan ini disebabkan sang novelis membiarkan karakter dan pandangan tokoh, Joji, yang gamang akan sebuah perkembangan dan modernitas yang baru masuk dan dinikmati masyarakat Jepang.

Perbedaan usia yang terpaut sangat jauh membuat cerita Naomi sangat menarik untuk disimak. Bagaimana Joji merawat naomi melihat pertumbuhan naomi yang tak lepas dari perhatianya sangatlah menyentuh, ia melakukan semua itu hanya untuk seorang wanita yang di kaguminya bertanggung jawab atas segalanya sama halnya menggali kuburnya sendiri, bagaimana tidak saat-saat Naomi mulai menikmati fasilitas yang disuguhkan “sang papa Joji” Disitulah ia merasakan kekecewaan yang sangat dirasa cukup. Harapan-harapan Joji terhadap Naomi seakan hanya bertepuk sebelah tangan. Naomi sangatlah menjijikkan bagi Joji seakan ekspresi angkuhnya berkata.

“Tak ada satupun perempuan yang bias bergaya, seterlihat-barat seperti aku. Siapa yang palin terang kulitnya dari semua? Aku.”

Akan tetapi apa yang di rasakan Joji hanya berlangsung sesaat karena baginya Naomi adalah kenikmatan tertinngi dan ia tak akan pernah merasa kennyang, cinta Joji terhadap Naomi semoga pembaca bias merasakan itu.

Novel ini sangat menguras emosi, dengan kelakuan para tokohnya yang tidak wajar, justru akan membuat kita mengingat sebuh cerita teman yang ada di Kairo, bahwa pernikahan yang sebenarnya akan membuat wanita sangat bahagia. Kebahagian yang diciptakan JoJi dirasakan oleh Naomi itulah yang seharusnya yang perlu di garis bawahi disaat kita membacanya.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari Novel ini ialah: bagaimana cara Joji menguasai emosinya dan Naomi menikmati kehidupannya yang semula pemalu perlahan-lahan melampaui keinginan Joji sendiri, yang sejak awal menginginkannya menjadi gadis berkemajuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here