Jika ditanya profesi apa yang paling penting di muka bumi ini, saya tentu menjawab wartawan. Ya, karena saya wartawan. Ini tentu jawaban subjektif. Sama subjektifnya ketika sastrawan besar Gabriel Garcia Marquez mengungkapkan kalau wartawan adalah profesi terbaik. Pria yang akrab disapa Gabo ini bilang seperti itu karena dia mengawali karir sebagai wartawan. Bukan guru agama atau mudin nikah.

Seandainya dia mengawali karir sebagai guru agama atau mudin nikah, mungkin Gabo akan menyebut kalau dua profesi inilah yang paling penting. Tapi, menurut saya dua profesi itu memang penting. Orang akan kesulitan beribadah, jika tidak ada guru agama. Orang akan kesulitan menikah jika tidak ada mudin nikah. Tingkat kepentingan mereka sebenarnya melebihi wartawan. Karena orang tidak mungkin kesulitan baca berita ketika tidak ada wartawan. Ya, karena semua orang sekarang sudah bisa memproduksi berita sendiri. Minimal memproduksi berita di media sosial mereka masing-masing. Soal beritanya hoax atau tidak, itu urusan lain.

Selanjutnya, mari kita bahas peran guru agama. Saya tidak membahas lebih panjang tentang mudin nikah karena saya tidak punya kompetensi tentang profesi ini. Sebaliknya, guru agama adalah profesi yang begitu dekat dengan saya. Almarhum Ayah saya adalah seorang guru agama SD. Meski namanya guru agama, yang diajarkan oleh ayah hanya satu agama saja yakni Islam.

Alasannya sederhana, siswa di sekolah tempat ayah saya mengajar semuanya beragama Islam. Di SD itu jugalah saya sekolah. Otomatis, ayah saya juga mengajar saya. Total teman siswa di kelas saya bisa dibilang lebih sedikit dari jumlah siswa di film laskar pelangi. Ya, totalnya hanya enam orang. Tentu saja, mereka berasal dari satu kampung dan semuanya muslim.

Karena pelajaran agama di SD cenderung praktek tentang peribadatan, maka yang paling relevan diajarkan adalah peribadatan tentang Islam. Jika semua siswa Islam, tentu mereka membutuhkan tata cara ibadah orang Islam, bukan tata cara ibadah agama lain.

Meski begitu, bukan berarti ayah saya tidak toleran. Saya mengenal beliau sebagai orang yang sangat toleran dan baik hati. Ketika mengajar di kelas dulu, ayah saya tidak pernah menjelek-jelekan umat agama lain. Bahkan, katanya, kita harus hidup rukun satu sama lain. Itulah hakikat Pancasila dan Islam.

Celakanya, sikap toleran seperti inilah yang mungkin tidak dimiliki sebagian guru agama di sekolah. Ini tentu berbahaya. Guru agama adalah kunci kita mengenal agama dan Tuhan. Jika guru agama tidak toleran, maka siswanya akan menjadi umat beragama yang tidak toleran. Jika guru agama mudah marah kepada umat agama lain, siswanya bisa berprilaku lebih culas kepada umat agama lain.

Tentu apa yang saya sampaikan ini bukan tudingan belaka. Riset tim Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta menunjukan hal tersebut. Dari 500 guru Agama di lima provinsi yang di survey, total 80 persen responden menolak pemimpin nonmuslim. Mereka juga menolak  pendirian rumah ibadah agama lain di wilayah mereka.

Hasil survey ini tentu mencemaskan. Kita bukan negara berlandaskan Islam. Asas negara kita jelas bahwa yang diakui ada enam agama. Jika kita hanya setuju pada pemimpin Islam, ini pengkhianatan pada asas negara kita. Orang boleh saja memilih pemimpin berlandasan agama, tapi jika hal tersebut menjadi pedoman guru agama, berarti ada yang salah dari cara berpikir mereka.

Hal yang sama dengan penolakan pendirian rumah ibadah. Ketika negara ini memperbolehkan umat dari berbagai agama, secara otomatis harus memperbolehkan pendirian rumah ibadah. Akan menjadi ironi jika ada umat beragama, tapi tidak ada rumah ibadahnya.

Kenapa sikap para guru agama ini mencemaskan? Ya, sekali lagi karena mereka panutan. Apalagi, bagi siswa di kalangan perkotaan. Umumnya, siswa di perkotaan mengisi sore hari  dengan kursus. Ketika malam, mereka mengerjakan tugas sekolah. Mereka tidak belajar mengaji di surau-surau sebagaimana kebanyakan anak kecil di pedesaan. Dengan demikian, mereka hanya mengenal Agama di sekolah. Jika guru agama mereka ’sakit’, maka mereka akan sakit juga.

Sebagaimana penelitian tentang guru, perihal siswa yang sakit ini juga bukan tudingan. Di Majalah Tempo edisi 19-25 Juni, dipaparkan penelitian dari Kementrian Agama dan Wahid Foundation terhadap 1.600 pengurus kerohanian Islam (rohis) tingkat sekolah menengah. Penelitian ini dilakukan Mei 2016 saat mereka melakukan kemah kerohanian di Cibubur.

Hasilnya cukup mengagetkan. Yakni 75 persen siswa SMA mendukung kekhilafahan. Parahnya lagi, sepertiga dari mereka memahami kalau jihad itu adalah mengangkat senjata melawan orang kafir. Sederhananya, mereka mendukung ide HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah itu. Sepertiga dari mereka juga setuju melakukan cara-cara kekerasan dalam berjihad.

Ini tentu ironi. Para siswa rohis itu adalah representasi kaum beragama di sekolah. Tapi pikiran mereka sakit. Kita sebut sakit karena para siswa itu tinggal di Indonesia, bukan di negara Islam. Setuju pada konsep khilafah, berarti mereka setuju kalau Indonesia bubar. Lantaran, sistem khilafah mensyaratkan kalau ada kepemimpinan lintas negara yang dipimpin oleh khilafah muslim.

Lalu, bagaimana cara kita menyembuhkan pikiran yang sakit itu? menurut saya, yang perlu dibenahi terlebih dulu bukan siswanya tapi guru agama di sekolah. Saya membayangkan guru agama di sekolah bisa menyederhanakan cara berpikir mereka. Tidak perlulah mereka neko-neko dalam memandang agama.

Ini seperti ayah saya yang tidak pernah neko-neko dalam memandang Islam. Jika saya simpulkan dari aktivitas keseharian ayah saya, menjadi kaum beragama berarti melakukan ajaran agama. Ya, shalat, zakat, puasa, dan haji jika mampu. Selain itu, ketiga pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, ayah saya selalu shalat dhuha. Salah satu pesannya yang terus saya ingat hingga kini, bacalah surat Al Waqiah agar rezeki lancar. Ayah saya tidak pernah berpesan macam-macam seperti memusuhi orang kafir, memilih pemimpin islam, menjauhi tetangga yang kristen, dan lain-lain.

Sikap yang tidak neko-neko seperti itulah yang dimaksud. Tidak neko-neko berarti mengajarkan konsep kesederhanaan sebagaimana diajarkan semua agama. Juga sikap saling mengasihi antar sesama. Kau tahu, sikap saling mengasihi inilah yang menjadi sikap tuhan di semua agama. Tuhan umat Islam, juga mengasihi umat agama lain. Buktinya, mereka juga diberikan rezeki, hidup yang aman, sentosa dan lain-lain. Saya kira, di agama lain juga seperti itu.

Memperbanyak guru agama yang tidak neko-neko inilah yang menurut saya menjadi pekerjaan rumah Kementrian Agama. Selain itu, ini juga tugas organisasi moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Kita berharap anak-anak muda NU dan Muhammadiyah banyak yang fokus berdakwah. Salah satunya dengan menjadi guru agama di sekolah.

Saya khawatir, jika anak-anak NU dan Muhammadiyah sibuk berpolitik praktis semua, ini menjadi peluang bagi kelompok konservatif mencari pengikut. Kekhawatiran ini jugalah yang disampailan Antropolog kenamaan Martin van Bruinessen. Menurut dia, pengaruh kelompok progresif dan moderat di masyarakat memudar,  karena kelompok ini lebih banyak masuk ke politik praktis dibanding bergelut di organisasi kemasyarakatan.

Pada akhirnya, hidup adalah medan pertarungan. Tentu ini pilihan bagi para pemuda NU dan Muhammadiyah, yakni mau bertarung di sekolah atau bertarung di partai politik. Setiap pilihan mempunyai sisi baik dan buruknya masing-masing.

*Penulis: Irham Thoriq (Jurnalis dan Penulis Buku Pembisik Kedunguan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here