Salah satu langkah yang perlu dialami dalam sebuah proses belajar tentang sesuatu apapun hal adalah proses penghayatan, atau dalam istilah yang lebih menjelaskan dengan detail langkah itu disebut proses internalisasi. Maksudnya sederhana. Bahwa ketika mendapatkan pelajaran tertentu seseorang membutuhkan moment untuk memasukkan pembelajaran terpenting yang diperolehnya tersebut kedalam kesadaran dirinya. Jika proses pembelajaran tersebut dikristalkan, setidaknya akan menghasilkan nilai utama diri (value) yang akan tetap berada dalam kesadaran (penghayatan), mempengaruhi proses berpikir lebih lanjut, membentuk cara baru dalam memproduksi perkataan, dan selanjutnya terwujud dalam bentuk tindakan nyata. Bisa dikatakan proses internalisasi ini semacam upgrade software atau sistem applikasi dalam diri seseorang. Proses ini tentu tidak terjadi sekali jadi dan lantas berhenti, melainkan terus menerus dan dengan tingkat pembaharuan yang selalu baru tergantung dari apa saja yang tertangkap seseorang sebagai pelajaran bagi dirinya.

Dalam dunia teknologis yang menawarkan cara pandang multidimensi terhadap realitas sekarang ini, jelas pembelajaran dapat dipicu dan dihasilkan dari beragam sumber. Bisa dikatakan sumber-sumber pembelajaran yang begitu melimpah berseliweran tiap detiknya dalam kesadaran itu sebenarnya mengandung unsur-unsur pembawa perubahan diri yang tidak kecil. Maka mengenal dan dengan jeli mengalami moment internalisasi proses pembelajaran adalah kuncinya. Sejauh mana dan seberapa banyak pembelajaran yang kita peroleh dari dunia di sekitar kita itu tergantung pada kesediaan dan kemampuan kita untuk mengkristalkannya menjadi value agar dapat merasuki penghayatan diri kita dan selanjutnya merubah cara pandang dan tindakan kita kepada dunia. Jadi jangkauan pengetahuan seseorang terhadap realitas sebenarnya terletak pada bagaimana dirinya mengakui dan memaksimalkan kapasitas dirinya dalam melakukan proses internalisasi itu.

Contohnya seperti ini. Jika saat ini di sekitar kita berseliweran tentang segala macam informasi mengenai sikap dan tindakan toleransi dan intoleransi, lengkap dengan segala jenis analisis intelektual, nasihat bijak, dan provokasinya, sebenarnya kita disuguhi sebuah media pembelajaran untuk memikirkan dan menghayati bentuk relasi antar manusia lengkap dengan informasi mengenai bagaimana manusia menghargai orang lain dan menghargai dirinya sendiri. Pembelajaran penting tentang bentuk relasi dan bagaimana manusia melihat diri kemanusiaannya pada akhirnya mengkristal pada nilai tentang manusia. Disinilah proses internalisasi terjadi namun juga berada dalam area paling kritisnya. Apakah keutamaan manusia itu, pentingnya, berharganya, fungsinya, dan sebaliknya dari itu semua, adalah pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan menentukan hasil proses dari internalisasi itu. Jika, katakanlah, kita menaruh penghayatan, kepercayaan, dan keyakinan bahwa manusia itu berharga dan penting eksistensinya, maka itulah value kita. Begitulah yang biasanya dijadikan dasar proses berpikir lebih lanjut tentang makna kemanusiaan dan sikap yang berperikemanusiaan.

Mengapa saya harus susah payah lagi menjelaskan salah satu bagian kecil dari teori pendidikan kuno ini? Secara pribadi harus diakui bahwa kendala terbesar proses internalisasi adalah tembok-tembok yang tercipta dalam diri kita sendiri akibat dari – ini justru celakanya – penolakan kita pada kapasitas diri yang kita miliki. Cara kerja rumit antara logika otak kanan dan kiri, kesadaran diri yang meliputi keinginan dan ketakutan, serta perasaan hati yang dipenuhi dengan beragam perasaan bosan, iri, benci, takut dan berani, selalu membutuhkan moment-moment kritis yang mendewasakan dan membawa seseorang pada level value yang lebih bermakna. Jadi, semakin kita bisa menengarai dan menandai moment penting itu, semakin kita bertumbuh dan berkembang. Secara praktis, tiga hal di bawah ini adalah kegalauan saya:

Pertama, kita mampu membayangkan atau bahkan menjadikan hasil pembayangan kitu itu sebagai sumber pengetahuan, melainkan tidak menghubungkan bagian-bagian terpentingnya. Konon pernah diteorikan oleh Benedict Anderson bahwa bangsa adalah sesuatu yang kita bayangkan bersama. Pembayangan itu membutuhkan sumber-sumber (sejarah, mitos, garis teritori, bahasa, dan bentuk kekuasaan ideal) yang bisa diterima bersama dan dijadikan sebagai alat penghayatan bersama. Begitulah proses menjadi bangsa selalu merupakan proses mencipta ulang itu semua demi eksistensinya. Reproduksi makna berbangsa menjadi penting dan untuk itulah perlu terus menerus dilakukan. Itulah sumber pengetahuan yang terus ditawarkan kepada kita. Yang tinggal di balik bukit tak terlacak radar di Papua sana, dengan cara ini dapat dengan mudah dihayati, atau diminta menghayati sebagai bagian dari pembayangan masal itu. Yang tinggal di bawah jembatan di metropolis pusat degub jantungnya bangsa inipun, dapat dengan mudah dirasionalisasi menjadi bagian dari bangsa ini. Tinggal orang mau menerima pembayangan umum itu atau tidak. Begitulah eksistensi suatu bangsa terjaga dan terpelihara. Apakah penghuni balik bukit Papua yang kaya emas namun miskin itu terhubung dengan pengumpul kardus bekas yang tinggal di bawah jembatan di Jakarta? Samasekali tidak. Bahkan terhubung dengan apa isi bukit yang turun temurun dihormati sebagai Ibunya itupun bisa jadi merupakan tindakan makar. Pembayangan memang menjadi problem dasar realitas keterhubungan. Tapi itulah inti persoalan yang mau dijawab. Karena realitas keterhubungan itu resisten terhadap intervensi, dan dengan begitu berbahaya bagi invasi.

Sebenarnya secara klasik pembentukan polis yang berbasis pada komunitas terkecil setempat bahkan sekecil keluarga sudah disadari sejak jaman Aristoteles. Keterhubungan adalah bangunan paling kokoh pembentukan sebuah masyarakat. Keluarga-keluarga yang terhubung membentuk klan, klan-klan yang terhubung membentuk Desa, desa-desa yang terhubung membentuk Region dan seterusnya hingga meliputi seluruh muka bumi. Begitulah akhirnya apa yang dihubungkan ini juga menjadi realitas ‘ada yang tidak dihubungkan’, atau ‘ada yang dengan sengaja diputus hubungannya’. Pada saat seperti inilah idea tentang sebuah bangsa sebagai batas-batas keterhubungan dan keterpisahan menjadi kesadaran penting bagi manusia. Keterhubungan dengan mudah menjadi nampak merupakan penyebab keterpisahan. Belum lagi jika keterhubungan itu dipertanyakan pada bentuk-bentuk paling realistisnya. Setingkat region mungkin lebih mudah melihat bagaimana keterhubungan dapat meliputi (hampir) keseluruhan aspek dan fungsi kelompok masyarakat dalam wilayah regionnya. Namun seluas sebuah bangsa?

Maka baik model pembayangan maupun model keterhubungan, yang seringkali simpang siur digunakan sebagai jargon politik kekuasaan itu pada kenyataannya bukanlah bagian internal dari value seseorang menjadi warga dalam sebuah wilayah tertentu. Mengapa begitu? Karena pada kenyataannya, ada beribu kategori non alamiah yang diciptakan oleh kesadaran massa untuk menentukan seseorang adalah sepenuhnya subyek bagi hidup menjadi sebuah bangsa. Bahasa, agama, etnis, tempat tinggal, adalah identitas generik paling problematik yang selalu berada diantara menghubungkan dan memisahkan, diantara pembayangan-pembayangan itu. Kedua model ini jelas merupakan pondasi kesadaran menjadi sebuah bangsa, dan dengan begitu menjadi sumber pembelajaran terpenting bagi tiap individu yang ada di dalamnya. Nah pertanyaan mendasarnya, jika hal ini dikristalkan menjadi sebuah nilai, proses internalisasi apakah yang akan terjadi?

Dalam kisah-kisah klasik dan dongeng-dongeng kejayaan sebuah bangsa, kombinasi antara kesadaran berdasarkan pembayangan dan kesadaran berdasarkan keterhubungan itu seringkali diolah sedemikian rupa dalam bentuk-bentuk yang sederhana. Mojopahit jelas bukan contoh ideal kejayaan Nusantara, sekalipun itulah yang paling mendekati. Keterhubungan simbolik yang tersebar diseluruh wilayah nusantara seringkali melampaui konsepsi historis yang benar ditemukan ada. Demikian juga pembayangan menjadi bagiannya adalah sebuah kebanggaan sekaligus ketidakpahaman tentang konsepsi geografis. Sederhana karena yang dibutuhkan dalam keterhubungan itu adalah perasaan berharga bagi eksistensi Nusantara. Juga sederhana karena pembayangan itu dipenuhi dengan perasaan hormat mendalam pada Nusantara. Jadi bukan Nusantara nya yang merupakan pembayangan, bukan teritorinya yang diyakini sebagai keterhubungannya. Kesadaran diri dari masing-masing orang untuk meletakkan nilai penghargaan dan penghormatan itulah yang sebenarnya merupakan “ada” nya Nusantara. Apakah model internalisasi seperti ini yang sekarang ini menghinggapi generasi baru Nusantara yang menamakan diri Indonesia?

Setelah mengalami ujian sejarah, fasilitas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayangan keIndonesiaan itu komponen-komponennya sudah semakin jelas dan komplit tersedia. Mekanisme keterhubungan ontologisnya pun dengan sangat praktis telah didukung oleh sistem kemanusiaan universal dan sangat kokoh berakar kultural pada kesadaran tiap orang. Maka jika dua hal ini masih menimbulkan pertanyaan dan persoalan pada arah teknis politisnya, nampaknya kita perlu kembali melihat apakah proses internalisasi diri anggota bangsa ini sudah selesai atau masih butuh momen-momen petingnya. Setidanya kita menjadi tersadar bahwa berlimpahnya alat keterhubungan dan semakin mudahnya akses untuk melakukan pembayangan belumlah cukup untuk menjadi pijakan kuat terjadinya internalisasi diri menuju kedewasaan – berbangsa sekalipun.

Sebelum menuju pergumulan yang kedua dan ketiga, maka ada baiknya jika paling tidak kita sekarang melihat pentingnya dasar-dasar sistem berpikir. Karena tanpa dasar yang diakui realistis terjadi dalam diri kita, maka segala kekayaan informasi yang melimpah tersedia disekitar kita tidak akan sempat menjadi berguna bagi diri kita, nah apalagi bagi orang lain. Begitulah untuk sementara, karena proses internalisasi itu butuh energi, kopi panas tentu tepat menjadi pilihannya. (Bersambung..)

*Penulis: Kristanto Budiprabowo

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here