Sebuah Seni Memahami Kekasih

0
174

Identitas Buku

Judul Buku: Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih
Penulis: Agus Mulyadi
Tahun Terbit: 2020
Penerbit: Shira Media
Jumlah Halaman: 120 hlm Soft Cover
ISBN: 978-602-5868-90-0

Akhir-akhir ini mungkin di benak para muda mudi yang kebanyakan sudah bermain media sosial sedang marak dengan berita-berita atau gosip-gosip yang sedang beredar di beranda mereka. Salah satunya mungkin melihat sepasang kekasih yang entah melakukan video tik-tok bersama, jalan-jalan, boomerang di bioskop, makan bareng, atau bahkan ada yang bercita-cita bertaaruf seperti beberapa pasangan selebritis yang diberitakan media belakangan ini.

Tapi kali ini penulis tidak akan membahas tentang beberapa ke”uwu”an yang disebutkan diatas yang mungkin menjadi kriteria yang katanya uwu oleh kebanyakan orang. Sebenarnya penulis tau bahwa akronim dari kata “uwu” yang sebenarnya adalah “unhappy without u”, tapi kebanyakan orang menggunakan kata “uwu” untuk mendeskripsikan suatu yang katanya wah. Kali ini penulis akan mengulas tentang kisah redaktur Mojok.co, Mas Agus Mulyadi dan kekasihnya, Mbak Kalis Mardiasih. Siapa sih yang nggak tau salah satu aktivis perempuan hebat ini? Kalo kata Mas Agus sih “Penulis media atau pengisi acara yang keenceran otaknya sangat wah yang membuat saya sering terkagum-kagum” ceilah.

Dalam buku “Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih”, Mas Agus, penulis buku ini merangkum 38 kisah perjalanan cintanya dengan Mba Kalis yang mungkin sangat inspiratif dan layak diteladani bagi pasangan muda mudi masa kini. Menurut Mas Agus sangat sayang jika kisah perjalanan cinta dan kelucuannya dengan Mba Kalis hanya disimpan untuk dirinya sendiri.

“Memaklumi Kekonyolan Kekasihku adalah Jalan Ninjaku” subjudul buku yang mampu mendeskripsikan betapa konyolnya kekasih Mas Agus, dalam hal ini Mba Kalis. Namun, meskipun bergenre komedi, buku ini memiliki banyak pembelajaran tersirat yang bisa kita ambil.

Salah satunya adalah Sejarah Singkat Tari Soreng yang ternyata menjadi filosofi keris Manten Jawa, perlunya melihat berbagai perspektif dalam mengambil langkah, salah satu perjuangan kisah Mba Kalis dalam memperjuangkan RUU-PKS, tentang pasangan kekasih yang se-iya dan sekata, syarat keluarga sakinah, dan lain sebagainya.

Menurut pandangan penulis, buku ini sangatlah relevan jika digunakan untuk membangun pola pikir agar tidak stuck dengan satu pandangan saja. Terutama dalam menjalin relasi dengan lawan jenis. Ya, bagaimana tidak, dalam buku ini Mas Agus memaparkan beberapa kisahnya menghadirkan pandangan lain terkait pacaran yang kebanyakan orang beranggapan bahwa pacaran mendekati zina, tapi disini saya melihat sisi dimana kriteria pacaran yang mendekati zina adalah pacaran yang kerjaannya bermesra-mesraan menimbulkan syahwat yang akhirnya mendekati zina. Tapi bagaimana jika pacaran yang kegiatan kesehariannya mereview banyak buku atau jurnal, saling support menebarkan kebaikan dan melakukan banyak hal untuk memperjuangkan kemaslahatan umat? Lalu memang sudah komitmen memiliki tujuan baik kedepannya?

Tapi bukan berarti tulisan ini provokasi untuk berpacaran, tepatnya untuk selalu jadilah diri sendiri, tak perlu terbawa arus jika akhirnya latah _”aduh uwu banget sih, jadi pengeeen kaya gini”_ tanpa memikirkan konsekuensi dan pertimbangan untuk nanti, selain itu selalu berusaha menjadi lebih baik setiap hari, dan menjadi bermanfaat untuk semuanya, kini hingga nanti. Di akhir tulisan ini mungkin penulis akan memberikan cuplikan kata-kata Mas Agus yang menurut penulis terbilang manis untuk sosok Mba Kalis. Kata-kata ini ada di lembar bagian depan buku “Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih”.

“Kalis, kekasihku…
Berkali-kali aku bilang. Burung Gereja belum tentu Nasrani, Emprit Haji belum tentu Islam, Ayam Bangkok belum tentu Buddha, dan Jalak Bali juga belum tentu Hindu.
Tapi kalua aku cinta kamu. Itu sudah tentu…”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here