“Kok bisa itu lo!” dengan nada yang cukup tinggi “Komnas HAM ikut urus-urus dan membela LGBT” Suara Perempuan paruhbaya itu memecahkan keheningan ruang tamu.

“Emang kenapa mbak?” Sahutku

“LGBT kok dibela, harusnya diperiksakan, direhab, biar sembuh!” Lanjutnya dengan suara yang masih tinggi tekanannya.

Lalu ruangan hening lagi dengan menyisakan hati yang mengerutu.

Dialog di atas adalah nyata. Memang cukup sulit mengajak orang-orang di lingkunganku berbicara sampai berdialog dengan tema-tema keragaman gender dan seksualitas. Bahkan tema-tema ini sengaja dihindari dari perbincangan karena bisa-bisa langsung ditabrak dengan dalil-dalil agama yang memiliki legitimasi benar oleh pemeluknya yang kadang kala tak bisa didiskusikan apalagi ditawar.

Kebekuan dalam upaya membicarakan soal keragaman gender dan seksuaitas membuat mata masyarakat sekitarku dalam melihat hal ini semakin, bahkan sangat binner. Apalagi ditambah dengan pemberian lebel ‘tak normal’ pada laki-laki gemulai dan perempuan maco membuat semakin keruh perihal sadar keragaman gender dan seksualitas. Sehingga tindakan-tindakan menekan, baik perkataan sampai tindakan, sering dilakukan masyarakat pada mereka yang berbeda menjadi sangat sulit terelakkan. Bahkan saya kira masyarakat desaku akan mengamini kalau laki-laki gemulai dan perempuan maco adalah seorang yang sakit jiwanya.

Sejenak melepas kebekuan dialog di lingkungan sekitarku. Pembicaraan tentang keragaman gender dan seksualitas acap kali sangat mbulet karena seringnya acak-kadut dalam mendudukkan masalah dan penggunaan multi persepektif yang hanya menang-menangan. Saat pembahasan mengunakan persepektif budaya, sering uraian argumen akan ditolak oleh persepektif agama.  Lalu uraian-uraian argumen agama akan mandek oleh hadangan hukum negara, dan begitulah seterusnya. Sebenarnya masalah yang muncul bukan karena mandeknya perbincangan saat pembahasan ini dilakukan dengan multi persepektif, tetapi mandek karena tiap-tiap persepektif suka ‘memonopoli kebenaran’. Coba saja saat teman-teman berbicara suatu hal dan menomer-duakan salah satu dari ketiganya, hal ini sulit untuk diterima.

Contohnya saja dalam membahas kodrat serta peran perempuan, sering kali agama dengan dalil-dalilnya dijadikan alat untuk memberangus peran perempuan di muka umum, sehingga perempuan sering kali diterjemahkan menjadi mahluk domestik. Dimulai dengan mencari ayat-ayat yang sekiranya seirama dengan peran domenstik perempuan kemudian dilanjut memaparkan opini pribadi tentang pendomestikan perempuan yang mungkin sering kali hanya mengada-ada. Opini seperti ini akan ditolak oleh persepektif hukum negara yang memberikan peran seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam hal tampil di muka umum, meskipun di beberapa kesempatan ketimpangan juga masih sering terjadi. Pemaparan ini akan kembali berbeda saat dikaji dalam persepektif budaya, yang memiliki kemajemukan yang luar biasa, satu daerah dengan daerah yang lain akan sangat berbeda bagaimana cara memperlakukan peran serta posisi laki-laki dan perempuan di muka umum. Sehingga antara satu persepektif dan persepektif yang lain akan menemui jalan buntu hanya karena ingin menang, menyuruh lawan bicara nurut dan tanpa mau mendengar argumen sebelah. Sehingga munculah stikma-stikma bahwa perempuan yang keluar malam itu nakal, perempuan mencari nafkah itu aneh dan unik, perempuan menjadi pemimpin itu haram dan seterusnya.

Pun demikian dalam membincangkan soal keragaman gender dan seksualitas, monopoli kebenaran dan pemberian lebel normal tak dapat terelakkan. Dalam kasus keragaman gender dan seksualitas, yang mendapat pangkat normal adalah mereka laki-laki maco dan perempuan gemulai. Padahal kenormalan seseorang hanyalah kesepakatan mayoritas. Saya kira saat dunia ini diciptakan Tuhan dengan populasi laki-laki gemulai dan perempuan maco lebih banyak, kitalah -laki-laki maco dan perempuan gemulai- yang akan disebut tak normal.

Apakah teman-teman semua pernah bertanya kenapa biru itu disebut biru? Mungkin ini pertanyaan konyol, tak masuk akal dan tak penting. Tapi menurut saya, pertanyaan ini akan membantu kita dapat memahami bahwa kenormalan seseorang hanya dikarena kesepakatan mayorutas yang tak mau disebut sakit, terbelakang, kelas kedua dan status hina seterusnya. Saat Tuhan membuat kromosom perempuan dengan kode XX dan laki-laki dengan kode XY, kita pun telah bersepakat bahwa yang memiliki kromosom XXY, XXXX, xxyy dan seterusnya sebagai manusia-manusia cacat yang boleh dihina, kemudian disebut sakit dan perlu untuk disembuhkan agar sama dengan kita yang mengaku normal.

Sehingga dari sana, secara pribadi saya ingin menawarkan sebuah pandangan pada mereka yang sering memberi lebel pada orang-orang yang berbeda dengan sebutan ‘cacat, aneh dan sakit’. Yang pertama, mari kita melihat mereka sebagai manusia. Baik dia memiliki kromosom XXY, tak mampu membedakan antara biru tua dan biru muda, terlahir menjadi laki-laki yang gemulai, menjadi perawan yang tak kunjung menikah, jangan sampai kita gunakan kata ‘sakit, aneh dan cacat’ pada mereka, arogan dan merasa normal. Karena mereka yang tercipta berbeda dengan mayoritas adalah manusia yang sengaja diciptakan Tuhan Istimewa. Sehingga dari sana kita akan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Kedua, kita tidak menjadi pelaku monopoli kebenaran. Dunia ini sudah diciptakan Tuhan dengan bentuk bulat, itu menandakan kita tak mungkin bisa mengaku paling tinggi, bahkan saat kita berada di atas puncak tertinggi sekalipun, sebenarnya saat itu kita sedang berada di dunia yang paling bawah saat dilihat dari sisi terjauh dari puncak yang kita injak. Seluruh ilmu pengetahuan juga menolak adanya arogansi kebenaran, karena ilmu pengetahuan tak statis, ilmu pengetahuan akan selalu elastis dengan pertanyaan-pertanyaan antitesis yang akan menciptakan sintesis-sintesis ilmu pengetahuan baru. Dan Ketiga, kita mulai menyebarkan pandangan bahwa dunia ini tak binner. Tak ada manusia yang mutlak baik dan mutlak jahat, dunia ini tidak hanya terisi oleh hitam dan putih, siang dan malam, toh nyatanya senja dan pagi hari kadang lebih menarik dan mengembirakan dari pada siang bolong dan tengah malam. Tak perlu muluk-muluk, mari dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kita, semisal keluarga.

Dari uraian singkat di atas, saya memberi judul artikel ini dengan mengunakan istilah sintesis, tetapi saat pandangan-pandangan seperti ini sudah pernah dirumuskan dan sedang diusahakan, kita tinggal merubah kata sintesis pada judul dengan kata re-aranggemen alias menata ulang, yang mana pada tujuannya kita akan tetap mengupayakan perilaku ‘memanusiakan manusia’.

Wallahu A’lam

Malang, Juli 2017

[dokumentasi gubukjustice: Penulis (kiri) bersama Adeq Yoevita (Ketua IWAMA-Ikatan Waria Malang)]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here