Di Bukit Kaki Ibu
sudah kau temukan paluh kenangmu di cangkir itu?
di bukit kaki ibu
: lembah segala lelah yang habis terjarah
peluh keringat bapak
: pupuk subur benih cinta yang kanak,
rindu yang kau teguk hikmat
di beranda ingatanmu
kutemukan tubuhmu yang mungil
berlari di tanah lapang menimang senang
mengutuk cinta yang pura-pura dewasa
: laku yang menggariskan liku dan hanya
menggoreskan luka dalam dada
sudah kau temukan paluh kenangmu di cangkir itu?
embun atap subuh yang teduh
: air suci penghidupan
kuncup kembang penantian sang martir—tuan seluruh getir
: rindu yang kau teguk nikmat kedua
kalinya di beranda kenyataanmu
cinta yang beku
kububuhi sedikit bubuk mesiu
yang siap meledakkan saraf malammu
agar kau kelalap lelap dari panggung sandiwara
Pusara Kata, 2019
Sepotong Ibu
iba di bui, menenggak
sesendok ego dalam diri
padam bara syahwatnya
tanggal baju kemudaannya
tatkala selaput nikmat merekah jadi buah
benar ketulusan?
atau semata kesenangan?
denyut menetas oleh tangis
tanda habis penawaran sang tuah
sampai kerut topeng yang menempel
benar bahagia?
atau palang derita?
ego di bui, menenggak
sesendok iba titisan sepotong diri
ibu
Pusara Kata, 2019
Amara
setelah sepi dijatuhi hukuman mati,
jiwa-jiwa fasih yang fakir kasih
di ringkus musik yahudi dan petik bulan
warna-warni di gedung huru-hara
: sarang budak cinta, bius fatamorgana
pening dan pekat pesing cecap tuak barat,
obat kuat musafir yang bertolak dari pesisir mesir
: menu spesial perayaan untuk diri
yang divonis kesunyian abadi
Pusara Kata, 2019
Sejajar
subuh memburu dengkur
lengking si kusir cidomo
haru kembang layu
parau gema muadzin di surau
: lenting desing peluru yang menembus
gendang telinga jua si sopir bemo
sindrom insomnia tlah beku
di kaki langit kelabu
riwayat lesu dan seluruh kelu
kala deru tapak bersarung menyeru
kalam ilahi kehadapan-Nya
: ia yang saudagar, ia yang proletar
barang empat menit hidup sejajar
Pusara Kata, 2019
Ngaji
tabir pikir dan hati, hambur
tatkala sang esa menghisab bibir-bibir mungil
yang mengeja hati-hati
tubuh ayat dan lekuk bunyi;
termaktub sekerat buana peradaban suci,
rumpun ilmu sejagat galaksi
perjalanan bumi dan nabi
silsilah puisi
padang iman rupawan—pelangi di hadapan,
memompa khusyuk kepala
yang haus mengisi dan mengkaji.
Pusara Kata, 2019
Mata-mata Hujan
1/
dongeng-dongeng mengering
meruah nyata jadi sejarah
tinggal jejak kesenangan
di antara gugur daun kemuning
dan kepahitan oleh geger insan yang batil
2/
ikan-ikan bermigrasi
ke perut pria paruh baya buangan kota
tikus-tikus berlari
dari rengkuh sembah ibu kota
3/
padi-padi mengurus, kemegahan tergerus
di liang tanah yang tandus
: homo homini lupus
4/
angin membawa pesan duka kepada anyam bambu
menghanyutkan sisa bahagia saban malam dari dinding batu
5/
si tua merapal do’a tak putus-putusnya
Pusara Kata, 2019








