Gegap gempita nan sumringah menyambut bulan suci Ramadan terpancar pada wajah masyarakat islam Indonesia. Jika diibaratkan puasa adalah perang melawan hawa nafsu dan komitmen menahan diri dari makan, minum, serta keenakan duniawi lainnya; maka masyarakat islam Indonesia cenderung memulai pertempuran dengan baik, yakni dengan hati yang ceria. Keceriaan itulah yang menjadi bekal baik menyambut Ramadan dengan santai dan tetap khidmat.
Mengapa bisa demikian? Bertahun-tahun orang islam berjumpa dengan bulan Ramadan. Sekali dalam setahun. Momen sekali setahun ini lah yang menjadi ingatan yang kerap kali melekat pada diri setiap orang. Bahwa, Ramadan bukan hanya soal sahur, menahan lapar dan haus, atau buka bersama. Tetapi, ingatan tentang Ramadan adalah ingatan tentang pengalaman- pengalaman kebudayaan setiap individu pada lokalitas tradisinya masing- masing.
Pengalam- pengalaman itulah yang menjadikan Ramadan sebagai bulan istimewa, setidaknya bagi penulis sendiri. Mengapa tidak, karena pada Ramadan ini lah banyak hal di tepian antara Surga dan Neraka terdapat Surga yang lain. Karena, membincang Ramadan tidak hanya berbicara soal pahala dan dosa.
Bagi penulis di usia kanak- kanaknya, terlampau banyak memori yang asyik diceritakan dan asyik pula untuk didengarkan dari cerita kawan. Memori itulah yang mengajak kita bernostalgia akan asyikknya menjalankan hari- hari di bulan Ramadan. Bisa dikatan berpuasa di bulan Ramadan dengan ketawa- ketiwi.
Mungkin itulah tugas kebudayaan, menjadikan sesuatu yang serius menjadi ringan dan riang. Ketika para pendakwah sembari mengutip argumen Imam Ghozali bahwa puasa itu tingkatannya ada tiga, di antaranya; puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus (khususil khusus). Di mana puasa umum adalah puasa yang sekedar menahan makan minum dan kemaluan, sedangkan puasa khusus adalah puasa yang menjaga setiap panca indera kita dari hal-hal yang negatif atau tidak disukai Allah, serta puasa khususil khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan serta menjauhkan diri dari menyekutukan Allah.
Dari ketiga tingkatan itulah ada tingkatan yang menurut penulis terlewat dari pandangan Imam Ghozali, yakni tingkatan puasa berkebudayaan – entah masuk pada tingkatan bawah, tengah, atau atas. Tingkatan ini sedikit mengada- ada, memang tujuannya tulisan ini juga mengada- ada, untuk dibaca atau diabaikan saja. Puasa berkebudayaan ialah aktivitas ibadah puasa di bulan Ramadan yang dilakoni dengan tradisi- tradisi baik yang dekat dengan kita, serta tradisi- tradisi yang mampu menguatkan kebersamaan kita sebagai bangsa.
Seperti halnya, sebelum memasuki bulan Ramadan, terdapat tradisi megengan. Tradisi megengan merupakan peringatan bahwa orang islam akan menjumpai bulan Ramadan dan patut sekiranya menyambutnya dengan penuh suka cita. Megengan sendiri artinya menahan alias ngempet dalam bahasa jawa – menahan untuk tidak melakukan hal-hal buruk yang dapat membatalkan puasa. Megengan kerap dijumpai di Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Yogyakarta.
Sedangkan di beberapa daerah juga ada agenda serupa, tetapi istilahnya berbeda, seperti unggahan di Jawa Barat dan punggahan di Sumatera Utara. Seperti halnya “unggah file” melalui internet untuk menaikkan file agar bisa mencapai puncak yang diinginkan. Begitu pula unggahan atau punggahan, di mana ke duanya adalah peringatan untuk naik tingkat, yakni tingkat untuk melatih diri mengelola diri itu sendiri menjadi lebih baik.
Sedangkan, jikalau hendak menyusur pada tradisi lain menjelang bulan Ramadan ialah ziarah kubur. Sejak kecil penulis juga diajarkan orang tua untuk berziarah kubur, mendoakan orang tua yang telah mendahului, serta membersihkan kuburan. Ziarah kubur merupakan perjumpaan antara yang hidup dan yang mati, karena sejatinya hidup adalah mati itu sendiri dan mati adalah hidup itu sendiri. Ziarah kubur adalah momen mengunjungi keluarga kita yang telah purna mengarungi kehidupan, agar segala yang ahli kubur pelajari saat hidup menjadi pelajaran dan pengingat bagi kita untuk mawas diri.
Maka, kita yang masih diberikan nafas dan mampu menghirup aroma Ramadan sangat dianjurkan untuk bersyukur karena masih berjumpa dengan Ramadan itu sendiri. Di mana Ramadan adalah bulan kita ditempa untuk lebih menjadi manusia. Sehingga, banyak ilmu, pengalaman, dan amalan di bulan Ramadan.
Selanjutnya, di balik surau yang masih hening, kita dikenalkan dengan perdebatan kapan dimulainya bulan Ramadan. Penentuan terkadang menuai hasil berbeda, kadang pula sama. Keriuhan tentang awal dan akhir Ramadan bagi setiap anak adalah pengetahuan dan tradisi. Pengetahuan akan sebuah pengamatan ilmiah atas dunia astronomi dan tradisi akan menghargai satu sama lain. Jauh sebelum ada media sosial, perbedaan itu kita nikmati dengan santai saja.
Ketika surau mulai berkumandang, geliat anak- anak di kampung sangat luar biasa. Perlengkapan tempur seperti, kentongan, drum, hingga mercon tak pernah luput untuk digaungkan sepanjang malam. Berputar- putar mencari mangsa, membangunkan orang, dan tak jarang ada yang marah karena suara mercon yang terlalu keras – alhasil kenalah siram seember air bekas cucian piring – kobokan.
Ngantuk saat ngaji posoan di pagi hari menjadi pemandangan yang biasa. Kiainya mendekte makna dari kitab kuning dan menjelaskannya, tetapi santrinya malah tidur selonjoran sampai kebablasan. Hingga pada siangnya, kalau tidak kuat menahan panas matahari, maka berendam adalah solusi.
Tingkah kanak-kanak itulah yang menjadi pengalaman berharga. Setelah itu, bersiap mencari takjil gratisan di masjid yang kemudian viral menjadi Para Pencari Takjil (PPT). Kenyang, tarawih pun lemas, kadang ngantuk – alhasil mencari surau dengan nahkoda yang mampu melaju dengan kencang. Tujuh menit sampai garis finis. Ngos- ngosan terbayar cepat. Dan, bersiaplah tadarus al-Qur’an. Hajar jajanannya, bergegaslah main bola di lapangan sekitar surau – yang mengaji cuma satu, kalau capek ya memanggil temannya yang main bola. Pertandingan pun tertahan sebentar dan pergantian pemain. Sampai larut, bersiap lagi dengan perlengkapan patrol untuk membangunkan orang sahur. Jika bosan, rudal konvensional pun dinyalakan – rudal bambu yang diisi karbit yang biasa dikenal bumbung. Selain itu, yang tidak bisa dilupakan adalah sepak bola api, bola yang terbuat dari bata ringan berlumur minyak tanah lalu dibakar dan ditendang-tendang di lapangan seadanya.
Begitulah anak- anak dahulu menjalankan puasa, banyak canda dan permainan. Karena, bagi anak- anak, Ramadan adalah momen menghidupkan surau dengan suka cita. Surau- surau mendadak ramai saat Ramadan, digunakan mengaji kitab, sholat tarawih, tadarus, berdiskusi di sela tadarus, hingga bermain. Tetapi, saat ini surau atau bahkan masjid bak jeruji penjara yang pagarnya semakin tinggi, pintunya bergembok, dan ada CCTV. Demi keamanan, oke saja, tapi masih ada alternatif untuk itu. Banyak anak menjauh dari surau mengingat suraunya yang tak lagi roboh sebagai mana kata AA Navis, tapi suranya kini berdiri kokoh berpagar besi menakut-nakuti siapa yang hendak mendekat.






