Setelah ramai kabar tentang penangkapan afiliator macam Indra Kenz pada investasi bodongnya, disusul oleh penangkapan-penangkapan pelaku flexing lainnya, kini masyarakat Indonesia dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang anyir dan menindas masyarakat. Belum kelar dengan urusan masyarakat yang kena mental dengan gaya milenial yang berlagak sultan, crazy rich yang pamer jet, atau kehidupan glamor para selebriti – kini masyarakat ditekan dengan kebijakan yang maha bangsat. Kebijakan kenaikan minyak goreng, kenaikan BBM berjenis pertamax, kenaikan tarif tol, dan kenaikan komoditas lainnya, serta wacana picik presiden tiga periode. Sungguh ini menjadi Ramadan yang penuh tantangan, bukan dari Yang Kuasa, tapi dari yang (Seolah) berkuasa.
Pandemi yang belum sepenuhnya berlalu, belum juga tuntas mengambil tekad untuk bangkit, masyarakat menelan momok yang mengerikan. Momok itu adalah pandemi oligarki. Kepentingan oligarki selalu saja menyusahkan masyarakat. Dan, pandemi oligarki ini lebih jahat dari sekedar pandemi Covid-19.
Apa itu pandemi oligarki? Sebuah virus kecongkakan dan kerakusan para pemerintah (penguasa kecil) dan orang-orang berduit kelas toghut yang dengan sengaja, terencana, terstruktur, dan masif menyerang dan menyengsarakan rakyat. Apa kurang nerimo ing pandum masyarakat kita ini, disuruh vaksin ya vaksin, diserukan di rumah saja ya rebahan, diminta sekolah daring ya cari wifi ke tetangga. Kurang berbakti apa rakyat terhadap pemerintah. Adakah ruh Firaun pada tubuhnya?
Masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat media sosial, yang tebar pesona saja dengan kemewahan-kemewahan, entah itu nyata atau tidak. Tahukah bahwa masyarakat banyak yang mengeluhkan tentang kenaikan-kenaikan itu, menjerit dan tercekik. Mau protes, protes ke mana. Protes sedikit saja, Bu Mega langsung berlagak seperti koki handal yang berperan seolah juru penyelamat atas mahalnya minyak goreng.
Sebelum harga minyak mahal, Jokowi juga tebar pesona dengan mengumumkan bahwa harga minyak 14.000,- rupiah. Satu menit kemudian, minyak-minyak itu bersembunyi di brangkas-brangkas para bajingan. Saya pun tidak pernah melihat dan memperoleh minyak yang katanya 14.000,- itu. Belum pernah dapat, harga langsung saja naik hampir dua kali lipat. Sepanjang saya hidup, saya baru tahu skenario seperti itu. Begitulah model flexing ala pemerintah, yang seolah kaya, habis mengambil saham freeport 50% lah, habis ini itu lah, ini itu banyak sekali.
Hiruk pikuk persoalan ekonomi dan politik pada momen Ramadan ini menjadikan kita semua berpikir keras. Apakah ujian dari pemerintah lebih berat dari pada ujian dari Tuhan? Puasa merupakan perintah Allah agar diri kita menahan rasa lapar dan haus serta menahan diri dari hal buruk yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain, akan kah kita juga bersabar dengan kebijakan pemerintah yang demikian itu.
Sebagai umat beragama, bagaimana sikap kita menghadapi kekuasaan yang lalim. Apakah hanya dengan berdiam diri atau melawan. Islam mengajarkan kita semangat pembebasan semangat menjunjung tinggi keadilan, jika ada penindasan atau ketidakadilan yang dekat dengan kita, akankah kita hanya diam berpangku tangan.
Sebagai agama yang membebaskan, kebijakan pemerintah yang menindas itu wajib hukumnya untuk dikritik dan dilawan. Jikalau pandemi Covid-19 bisa membunuh kita dengan sekejap dan dalam jumlah besar, maka pandemi oligarki pun juga akan membunuh kita dengan perlahan, menyiksa perlahan, dan mati secara massal. Tidak ada yang bertanggung jawab, pelakunya cengar-cengir, tetap ingin memperkaya diri dan keluarganya.
Pandemi oligarki bermula pada keserakahan dan ketamakan pada diri. Sikap ingin puas dan menguasai inilah yang membahayakan. Tidak peduli saudara, jika ada peluang dan kesempatan, cenderung mengabaikan dampaknya terhadap orang lain.
Selain itu, pada aspek ketidakadilan, harusnya pemerintah bisa bersikap lebih adil terkait kebijakan yang dibuat. Jikalau kebun sawit kita luas, ke mana produk sawit itu. Sembunyi ke mana. Minyak sawit kita untuk siapa?
Di Ramadan yang sulit ini, semangat religiusitas puasa Ramadan jangan lah berhenti pada diri sendiri. Semangat puasa Ramadan perlu menjadi semangat kolektif untuk bangkit bersama memerangi segala kemungkaran yang ada di bumi. Janganlah ada yang merasa kaya, lalu cuek dan abai kepada orang lain yang lemah. Jangan merasa lemah, kemudian semakin malas dan pasrah. Janganlah juga kaya pun tak punya, tapi berlagak raja. Jika, pandemi Covid-19 tak ada obatnya, maka pandemi oligarki juga demikian. Jika pandemi Covid-19 ada vaksinnya, maka apa vaksin dari pandemi oligarki itu sendiri. Mungkin, vaksin terbaik melawan pandemi oligarki adalah perlawanan dengan solodaritas kuat saling menguatkan dan saling bergerak menuju kemakmuran bersama.






