Semangat kaum mahasiswa memang tidak ada habisnya. Di masa-masa menjadi mahasiswa, walau mahasiswa yang dijuluki kupu-kupu (kuliah-pulang) sekalipun bukan berarti ia anti sosial. Pasti ada tindakan-tindakan yang sebenarnya juga bermanfaat untuk sekitarnya.

Gerakan-gerakan peduli sosial, komunitas kajian, seringnya diprakarsai oleh kaum mahasiswa. Kota Malang, Jogja, Jakarta adalah tiga kota yang menurut penulis banyak sekali diramaikan oleh organisasi yang dipelopori kaum mahasiswa. Entah itu sebutannya organisasi, komunitas, kumpulan kecil atau apalah. Pada intinya sekumpulan manusia yang memiliki visi yang sama. Mulai dari pembahasan politik, ekonomi, sampai gerakan solidaritas sesama.

Berbicara tentang gerakan solidaritas, sering kita dengar istilah “gerakan gender.” Dan umumnya yang berada di dalamnya adalah kaum perempuan. Tapi bukan berarti tidak ada kaum laki-laki sama sekali. Bahkan di berbagai gerakan tersebut tak jarang kaum laki-laki menyeimbangi, mendukung gerakan pro gender.

Gerakan gender ini lebih seringnya menyuarakan tentang hak-hak perempuan, keadilan bagi perempuan. Karena memang realitanya masih banyak perempuan yang termarginalkan, stereotype terhadap perempuan masih terus berkeliaran, korban pelecehan dan kekerasan (which is perempuan) kian menambah. Bahkan tak jarang kawan-kawan perempuan yang tergabung dalam gerakan tersebut malah yang menerima resikonya, menjadi “tokoh korban” untuk menyelamatkan korban.

Gerakan-gerakan seperti itu sejatinya sangatlah perlu dukungan yang kuat. Termasuk oleh orang-orang yang berada di internalnya. Sebagai contoh, komunitas A menetapkan sebagai komunitas yang gerakannya melalui literasi. Mengangkat isu-isu tentang perempuan melalui sebuah tulisan. Menyebar luaskan tulisan tersebut agar orang-orang di luar sana juga dapat merasakan buah karya pemikiran dan pengetahuan tentang gender itu. Tetapi perlu diingat, orang-orang yang berada dalam komunitas A haruslah sudah paham dengan isu apa yang diangkat dan walau antar personal beda pemikiran dan pendapat, setidaknya orang-orang yang tergabung dalam komunitas A memahami perbedaan pemikiran tersebut dan menyepakati bagaimana langkah yang akan diambil.

Contoh lain, komunitas B yang lebih concern di gerakan advokasi. Biasanya antar orang dalam menghadapi problem pastilah memiliki cara penyelesaian yang berbeda. Ada yang memilih untuk memulihkan psikis korban, ada yang langsung memproses untuk mempidanakan pelaku. Jika perbedaan langkah itu terjadi antar orang-orang di komunitas B dan tidak disepakati langkah bagaimana yang diambil, bisa jadi korban semakin jadi “korban”, niatnya meminta bantuan tapi malah yang dimintai bantuan ribut sendiri antar sesama.

Kasus yang terjadi di komunitas B akhir-akhir ini sepertinya menjadi virus di setiap gerakan. Tidak hanya gerakan perempuan saja sebenarnya. Tetapi karena penulis memiliki pengalaman di gerakan perempuan, penulis ingin menceritakan bagaimana pola “penyakit” yang sedang menjadi trend di sektor gerakan perempuan saat ini. Semoga bisa menjadi refleksi.

 

Komunitas Bukan Sekadar Tempat Transit

Banyak komunitas yang saat ini memilih untuk vakum. Bukan tidak bisa bergerak karena terhalang Covid, tetapi karena para penggeraknya memang sedang merasakan kejenuhan tersendiri.

Seiring berjalan waktu, seseorang akan mengalami perbedaan dalam menanggapi problem yang terjadi di depannya. Ada yang memilih lebih soft, kalem-kalem wae, ada yang semakin menggebu berapi-api. Semua itu bisa terjadi karena faktor pengalaman yang selama ini dijalankan. Semakin berpengalaman seseorang, semakin ia bisa memilah dan memutuskan bagaimana untuk menyelesaikannya. Pola berfikir akan terus diasah dengan problem-problem yang dihadapi. Terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk. kalau tidak geger otak duluan. Begitu katanya.

Dalam tiga pekan ini penulis menerima kabar banyak rekan memilih mundur dari beberapa sektor gerakan. Alasan terbanyak karena sudah merasa tidak cocok dengan koleganya. Regenerasi itu pasti terjadi. Apalagi untuk gerakan (yang diisi oleh mahasiswa) di kota-kota rantauan. Karena seringnya kota tersebut hanya sebagai tempat transit. Setelah ia menyelesaikan studi, seringnya ya memilih pergi. Entah itu kembali ke kampung halaman atau merantau lagi di lain kota. Dengan begitu, keluar-masuk anggota akan terjadi.

Ada pula beberapa yang memilih mundur karena merasa tidak sepemikiran lagi dengan koleganya. Beberapa hari lalu, penulis menemukan akun-akun twitter berbalas sindirian. Ternyata ia saling menyindir orang yang menjadi partner berjuangnya dalam menyuarakan hak-hak perempuan sejak bertahun-tahun lamanya. Hanya karena salah satu diantara mereka merasa tidak sepemikiran lagi ketika menghadapi problem yang sama dan memilih untuk berantem daripada mencari jalan keluarnya.

Parahnya, ada beberapa yang memilih mundur karena sudah mendapati toxic dari kawan perempuan di komunitasnya. Lah kok bisa gerakan perempuan malah memberi toxic ke kawan perempuannya? Iya nyatanya bisa tuh. Bisa jadi antar personal memiliki misi yang berbeda dan menanggalkan begitu saja misi wadah gerakannya (komunitas). Walhasil ketika salah satu terlalu menggebu ingin misinya itu terwujudkan, tanpa ia sadari membuat koleganya merasa tidak nyaman bahkan timbullah toxic. Terdengar lucu tapi menjijikkan memang ketika gerakan perempuan yang harusnya membantu kawan-kawan perempuan lainnya tapi malah membunuh kawan-kawan perempuan di dekatnya.

 

Ramahkah Gerakan Perempuan Saat Ini?

Jika gerakan perempuan hanya dijadikan tempat hura-hura, ingin mendapatkan eksistensi agar ketika diundang acara bisa menuliskan dengan tinta tebal AKU LOH TOKOH FEM1N1S, AKU LOH NAQ SENSITIF G3ND3R, AKU LOH QHAUM GER4K4N PEREMPUAN, ampun Tuhaaaaaaan musnahkan saja orang-orang macam itu dari dunia ini. Problem-problem yang dihadapi perempuan sudah terlalu banyak, masa iya ditambah problem retjeh macam begituan lagi?

Terlepas dari apa maksud terselubung dari oknum-oknum semacam itu, yang jelas gerakan perempuan akan kacau jika oknum-oknum macam itu dibiarkan bahkan sampai berkembang biak. Tidak hanya di satu komunitas saja, tapi bisa jadi akan merambah ke banyak komunitas. Gerakan perempuan tidak akan ramah untuk perempuan. Gerakan perempuan malah akan menjadi alternatif bagi kaum-kaum yang menginginkan eksistensi saja tanpa mempedulikan apa yang terjadi pada kawan-kawan perempuan lainnya.

Dan ini sudah menjadi rahasia umum. Yah kalau umum sudah tahu, bukan rahasia lagi namanya. Gerakan perempuan akhirnya diisi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak peduli terhadap perempuan, tapi seakan mendukung perempuan. Nyatanya dibelakang panggung malah masa bodoh dengan problem-problem yang ada.

Akhirnya musuh dari gerakan perempuan ini, patriarki dan segala macamnya itu malah bisa beranak pinak dengan subur. Gerakan perempuan menjadi bahan olok-olokan.

“Musuh terberat perempuan memanglah bukan patriarki, tapi rekan perempuannya sendiri.”

Kalimat itu yang selalu penulis ingat ketika memutuskan untuk terjun di gerakan perempuan. Tidak semua perempuan memiliki frekuensi pemikiran yang sama. Bahkan saking merajalela budaya patriarki, perempuanpun bisa menjadi bomerang bagi perempuan lainnya. Itu mengapa musuh terberat perempuan bukan lagi patriarki, melainkan rekan perempuannya sendiri. Perempuan-perempuan yang sudah terjebak oleh patriarki seakan merasa bahwa pemikirannya itulah yang benar utuh (sebagai pemikiran yang mewakili perempuan). Samar-samar terlihat ternyata malah mematikan.

Berada di posisi tengah memang tidak mudah. Tapi apa salahnya membuka fikiran dan berusaha menebar kebaikan? Melihat konflik tidak hanya dari satu sudut pandang saja sangatlah penting. Pertimbangan yang matang juga diperlukan, agar tidak ada korban baru ketika berusaha menyelamatkan korban. Sesama perempuan harusnya saling menguatkan. Toh kalau memang terjadi perbedaan sudut pandang, harusnya duduk bersama, bukan malah saling berusaha menyingkirkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here