Tahapan Pemilihan Kepala Daerah atau biasa kita singkat Pilkadal. Eh, maksudnya Pilkada, sekarang sudah mulai dilanjutkan setelah sempat tertunda akibat pandemi Covid-19. Saat wabah yang tak diundang ini mulai ikut nongki-nongki di Indonesia, tahapan Pilkada terhenti pada tahapan penyerahan daftar penduduk potensial pemilih pemilihan. Setelah memasuki masa transisi, pemerintah kembali melanjutkan tahapan Pilkada pada 15 Juni 2020 lalu dengan agenda pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih.

Namun bukan hal itu yang ingin saya ceritakan. Tetapi tentang reaksi masyarakat menghadapi Pilkada yang sudah sering kita lalui bersama. Sering ada cerita unik tersendiri. Wabilkhusus, terkait tipologi masyarakat dalam menghadapi momen rutinan lima tahunan ini.

1. Pemain utama

Yang dimaksud pemain utama disini adalah calon kepala daerah. Jauh-jauh hari sebelumnya, mereka sudah memasang banner dimana-mana. Bahkan di batang pohon yang tak bersalah, tega dipaku demi memasang wajah eloknya nangkring di jalan-jalan perkotaan dan desa-desa. Tentu ini bagus, sebagai wahana promosi untuk mengenalkan visi-misinya ke publik. Visi-misi kan untuk lima tahun ke depan, program pro rakyat, pro rakyat kecil, pro rakyat terpingirkan. Sementara pohon kalau mati gara-gara paku, toh bisa ditanam lagi. Sekali lagi, ini demi kebaikan umat lima tahun ke depan.

Tidak hanya itu, mereka juga sibuk meyakinkan rakyat dengan berkeliling kemana-mana. Dengan bangga, mereka mengenalkan dirinya sebagai calon kepala daerah. Meski rekom partai pun belum jelas. Namun, ini adalah teladan yang bagus sebagai pemimpin umat. Sifat optimis harus di ajarkan sejak dini.

Lobi-lobi untuk mendapatkan rekom partai mulai diincar, berfoto dengan tokoh nasional. Sebagai modal awal meyakinkan masyarakat bahwa dirinya bakal didukung banyak orang. Meskipun orang yang dikunjunginya pun kadang mbathin. “kok ya enek, wong koyok ngene nyalon’. hahahaha

Namun, sikap optimis harus tetap ada. Ini prinsip para sufi.

2. Tim Sukses

Sebagai tim yang dipercaya sebagai garda terdepan untuk memenangkan calon kepala daerah, tim sukses adalah organ paling penting dalam pilkada. Kalau dulu, saat kecil saya sering nonton film kartun doraemon, dimana kartun yang digemari jutaan anak-anak di seluruh dunia ini bisa mengabulkan segala keinginan Nobita. Begitu juga tim sukses. Mereka ini, derajatnya sudah diatas Doraemon. Bukan hanya keinginan Nobita yang bisa mereka kabulkan, tapi seluruh rakyat yang mau memilih calon kepala daerah yang mereka usung pasti semuanya dikabulkan. Hebattt!

Persoalan pengangguran. Oke setelah calon kita jadi, kita selesaikan persoalan itu. Masalah jalan aspal desa yang kondisinya sudah seperti wahana baru ‘jeglongan sewu’, mereka dengan lugas menjawab “beres’. Masalah kesehatan, mereka jawab “semua gratis’. Kurang hebat bagaimana lagi? Ini membuktikan derajat tim sukses itu sudah satu tingkat diatas Doraemon. Keren!

3. Penggembira

Penggembira disini adalah mereka yang tidak masuk dalam tim sukses, tapi postingannya setiap hari tentang pilkada. Sosoknya penting agar suasana pilkada semakin meriah. Bayangkan, jika sosok ini tidak ada, alangkah sepinya dunia ini. Mereka bakal sering bercerita ke orang banyak bahwa dirinya dekat dengan semua pasang calon kepala daerah. Foto-foto bersama calon kepala daerah pun tiap hari dia share ke semua akun media sosial yang dia punya. Captionnya tentu tulisan yang konstruktif, mulai dari arahan, saran, serta kritik. Jika sesekali postingannya dilihat oleh salah satu tim sukses tentu akan dibalas. Tim sukses menjawab, “semua akan selesai jika calon kepala daerah yang saya usung terpilih”. Luar biasa!

Penggembira disini, seringnya macak Gyawaattt terus, sekan-akan pilkada ini adalah ‘peperangan’ tingkat tinggi. Jadi, semua harus disikapi secara serius. Tentu hal ini bagus, demi kemaslahatan umat semua harus disikapi secara massif, terstruktur, dan sistematis. Good Job!

4. Masyarakat Awam

Masyarakat awam yang dimaksud disini adalah Mak Markonah si penjual sayuran, Pak Amin tukang ojek, Bu Sulis penjual gorengan. Mereka ini malah jarang sekali tahu info-info tentang pilkada. Tak jarang mereka acuh terhadap hal ini. Pasalnya, bagi mereka Pilkada dan Pil KB (Keluarga Berencana) bedanya hanya tipis.

Pilkada kalau jadi, Pasti Lupa. Pil KB, kalau lupa, sering jadi”. hahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here