Kamis lalu, saya mengikuti sebuah short course bertemakan agraria di Dusun Junggo Tulungrejo Blimbing Kota Batu. Acara yang diadakan oleh salah satu omek di Kota Malang ini mewajibkan pesertanya untuk live in, atau tinggal langsung di rumah warga dan wajib mengikuti kegiatannya selama beberapa hari.

Awalnya saya sempat mengalami kesulitan beradaptasi karena suhu yang dinginnya bikin saya istighfar berulang kali, hehe maklum lokasinya ada di kaki gunung, sementara keseharian saya ada di daerah yang selalu merasakan panas karena polusi kendaraan dan lihat mantan yang bahagia sama pacar barunya *eh gimana

Dusun Junggo menurut saya bisa menjadi obat untuk orang-orang seperti saya yang sudah lelah dengan kehidupan kota dan lelah dikejar kenangan bersama mantan heuheu. Mata yang biasanya hanya bisa memandang tembok rumah tetangga, tetapi di Junggo saya bisa memandang surganya hijau-hijauan. Kebun apel yang amat luas, matahari yang terbit dari balik pepohonan, bahkan gunung yang gagah menjulang. Namun hal menyedihkan adalah ketika saya mendengar kabar bahwa Junggo sedang memangku masalah berkenaan dengan agraria.

Selama disana, saya berkesempatan berkenalan dengan keluarga kecil Bu Tiya. Kami berbagi cerita tentang banyak hal, yang saya rangkum dengan judul bumi dan perempuan. Bumi dan perempuan, dua hal yang selalu membuat saya bergetar mendengarnya. Karena sampai saat inipun telinga saya selalu mendengar adanya opresi yang bernada sama pada diskursus tentang perempuan maupun diskursus tentang lingkungan, entah itu secara konseptual, simbolik, maupun linguistik.

Bu Tiya merupakan buruh kebun di kebun apel milik pabrik produsen perkakas yang namanya sudah dikenal besar di Indonesia. Begitu juga dengan suaminya. Namun menurut saya ada suatu ketimpangan disini. Perihal upah kerja mereka. Bu Tiya bercerita  bahwa pekerjaan mereka adalah sama, memetik apel yang sudah bisa dipanen dan membersihkan dedaunan. Tetapi mereka menerima upah yang berbeda. Lebih besar upah suami bu Tiya daripada bu Tiya sendiri.

Permasalahan yang sudah menjamur menurut saya terjadi pada buruh, perihal upah kerja. Perbedaan upah kerja antara pekerja laki-laki dan perempuan. Ketika saya tanya lebih lanjut kepada Bu Tiya mengapa upah kerja perempuan lebih rendah daripada laki-laki, Bu Tiya tidak bisa menjawab tepatnya. Bu Tiya hanya mengira-mengira. “mungkin karena laki-laki tenaganya lebih kuat mbak, daripada kita.” Hal itu semakin melanggengkan konstruksi sosial yang mengatakan bahwa laki-laki selalu lebih kuat daripada perempuan.

Mengacu pada pendapat Mansour Faqih, bahwa perbedaan gender terbentuk oleh banyak hal yang disosialisasikan, diajarkan, yang kemudian diperkuat dengan mengkonstruksinya baik secara sosial maupun kultural. Melalui proses panjang tersebut pada akhirnya diyakini sebagai sesuatu yang kodrati baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan, hal ini kemudian direfleksikan sebagai sesuatu yang dianggap alami dan menjadi identitas gender yang baku. Pengertian identitas gender itu sendiri adalah definisi seseorang tentang dirinya, sebagai laki-laki ataupun perempuan, yang merupakan interaksi kompleks antara kondisi biologis dan berbagai karakteristik perilaku yang dikembangkan sebagai hasil proses sosialisasi.

Kabar yang sedang ramai dibincangkan oleh media perihal Junggo adalah sengketa lahan yang sedang terjadi antara warga dan pihak yang menjadikan Junggo sebagai desa wisata. Saya sempat berbincang dengan Bu Tiya tentang itu, namun yang saya bicarakan dengan Bu Tiya lebih kepada bagaimana keterlibatan perempuan dalam permasalahan itu. Menurut keterangan Bu Tiya, perempuan lebih banyak berperan di belakang. Dalam artian, ketika ada rapat antar warga dengan pihak lainnya, yang lebih berperan aktif adalah bapak-bapak Dusun Junggo, bukanlah ibu-ibu. Ibu-ibu akan masuk dalam forum rapat apabila diajak oleh suami mereka atau hanya sekedar menggantikan suami ketika sedang berhalangan hadir.

Terlepas dari permasalahan perempuan, ada satu permasalahan yang denting pula. Perihal perebutan lahan. Entah dengan maksud apa sebuah PT seakan mengusik ketenangan penduduk setempat yang telah merumat tanah itu bertahun-tahun lamanya hingga turun-temurun. Jika kita merujuk pada teori konflik oleh Karl Marx, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Perspektif sosiologis yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau komponen yang mempunyai kepentingan berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

Begitulah yang terjadi di Junggo. Tanahnya memang tidak sedang dihabiskan lalu dijadikan gedung yang menjulang. Akan tetapi perebutan kekuasaan, yang mana pihak perusahaan ingin menguasai lahan dan mengusir warga desa setempat. Menurut saya itu adalah sebuah gerbang menuju eksploitasi lahan yang bersifat kapitalistik.

Bumi merupakan gambaran dari seorang perempuan. Dalam konsep feminisme menyebutkan pengistilahan bumi adalah sebagai ibu. Maka, bumi dan perempuan saling berkaitan erat. Jikalau buminya rusak, maka yang terkena imbas besarnya adalah perempuan. Kau merusak bumi sama saja secara perlahan kau merusak perempuan. Kau mengeksploitasi bumi, berarti kau merampas kesejahteraan bagi perempuan. Perempuan yang merupakan seorang ibu, lalu bagaimana dengan keturunannya?

Apakah bumiku akan menjadi korban eksploitasi oleh kapitalisme? Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan? Bagaimana keadaan ibu pertiwi kita? Akankan sama nasibnya dengan lahan yang menjadi ajang perebutan kekuasaan agar dapat dimanfaatkan tanpa timbang perhitungan? Bumi dan perempuan, semoga sejahtera…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here