Dari balik jeruji besi

Hatiku diuji

Apa aku emas sejati atau imitasi

Tiap kita menepa diri

Jadi kadar teladan

Yang tahan angin tahan hujan

Tahuan musim dan badai

Meskipun kini hujan deras menimpa bumi

Penuh derita

Topan badai memecah ombak

Gugur patria tembok tinggi memisah kita

Namun yakin dan pasti

Masa depan kan datang

Kita pasti kembali

“Lirik lagu Dialita yang judulnya Ujian”

Penggalan lagu tersebut begitu apik, hendak menceritakan bahwa hidup adalah rangkaian masalah yang mesti dijalani dengan tenang. Lagu yang diciptakan oleh perempuan yang dituding-tuding memiliki keterlibatan peristiwa Lubang Buaya. Dihukum tanpa pengadilan, berdalih sebagai negara hukum, tapi tak ada sedikitpun keadilan bagi mereka. Terkucilkan, dianggap penjahat dan stereotip buruk menjadi identitas mereka, hingga terpanggil oleh alampun, negara belum mampu memberi keadilan bagi mereka. Apakah itu negara hukum?

Kebebasan hidup diambil, tersisa hanyalah kenangan di bui itu. Dinding bui, lantai bui, atau bahkan debu bui, menjadi saksi dari ketegaran perempuan itu. Bui jadi kenang, mereka tak pantang menyerah malah menjadi pahlawan sebenarnya di negeri ini. Seperti salah satu perempuan yang telah menuliskan kehidupan di bui dengan begitu bernas dengan ingatan yang begitu tajam, sebut saja Mia Bustam.

Perempuan yang memiliki nama lengkap Fransiska Emanuela Sasmiati atau dikenal dengan Mia Bustam. Lahir di Surakarta, 4 Juni 1920. Dia terkenal karena kemahirannya dalam seni. Sebab, seni pula yang mengantarkan dia pada kehidupan dan kehancuran. Kehidupan yang diwarnai dengan cinta kasih, seni adalah kehidupan bagi Mia. Mia dipertemukan oleh lelaki yang juga senang dengan seni yang nantinya menjadi patner hidup. Dari cinta mereka pun dikarunai delapan anak. Sedangkan, seni juga yang merenggut kebebasan dia sebagai manusia yang merdeka. Mia menjadi salah satu perempuan yang terkena ciduk oleh pemerintah orde baru. Tak ada alasan pasti, Mia mendekam di bui. Alih-alih mengatakan karena Mia menjadi salah satu pimpinan Lembaga Budaya Rakyat (Lekra) yang punya afiliasi dengan salah satu partai komunis. Simpulnya adalah salah satu korban tragedi pelanggaran HAM berat 65.

Mulanya Mia mengikuti Lekra karena mendapat kiriman undangan sebagai peninjau dalam sidang yang diadakan oleh Lekra. Mia hanya diam dan mendegarkan selama rapat berjalan, karena Mia belum menjadi anggota hanya sekedar peninjau. Bersamaan dengan waktu itu pula, dia bertemu dengan pelbagai tokoh seniman yang keren salah satunya adalah Pram (Pramoedya Ananta Toer). Setelah pulang mengikuti rapat Lekra, Mia mendapat surat dari pimpinan Lekra. Dirinya tercatat sebagai anggota. Dari hal tersebutlah, Mia terlibat dalam semua agenda Lekra. Namun, pada akhirnya agenda yang dilokoninya bersama kawan-kawan lekra itu akan berujung di Bui.

Akhir September 1965

Kala itu, September menjadi bulan kelam, berbagai tempat terdapat aksi coret-coret dari golongan yang isinya hanya memaki, tak ada kesatuan yang terlihat hanya kebencian dari satu golongan ke golongan lainnya. Tepat 1 Oktober, Mia kedatangan tamu dari Jakarta yang menceritakan kekalutan yang terjadi di sana. Di Jakarta telah terjadi coup yang dipimpin oleh Letkol Untung dan didukung oleh PKI. Kabaranya, sutu Dewan Jenderal akan mengadakan perebutan kekuasaan pada 5 Oktober. Akan tetapi, untuk menggagalkan coup itu Untung dan kawan-kawan, mendahuli menculik dan menangkap beberapa jenderal salah satunya adalah Ahmad Yani untuk dibawa ke Presiden Soekarno. Di samping itu, juga telah dibentuk suatu Dewan Revolusi. Kemunculan Dewan Revolusi disebut-sebut sebagai bentuk respons dari adanya Dewan Jenderal yang dituding hendak melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

2 Oktober, terjadi demostrasi besar-besar yang dilakukan oleh PKI dan ormas-ormas lainnya, untuk mendukung Dewan Revolusi. Singkat cerita, setelah demostrasi dilakukan dan berkumpul, seorang perwira, menyambut demonstran dan berpidato dengan berapi-api. Akan tetapi, yang mulanya menjadi kekuatan nampaknya kekalutan, sebab dikabarkan gerakan yang dilakukan oleh Letnan Kolonel Untung telah ditumpas dan keadaan ibukota sepenuhnya dikuasi oleh Panglima Komando Candangan Strategis Angkatan Darat yakni Mayjend Soeharto. Kemudian, kejadian makin mamanas tatkala jenderal yang mula ditangkap oleh jenderal Untung untuk dibawa kehadapan Soekarni selaku panglima tertinggi, ternyata telah dibawa ke sebuah tempat dekar Halim, dibunuh, kemudian dilempar ke dalam sumur kering di tempat yang bernama Lubang Buaya.

Penangkapan Dimulai

Situasi memanas pasca demonstran besar-besaran yang dilakukan oleh PKI dan ormas lainnya. Tempat tanggal 20 Oktober HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) melakukan rapat besar di Alun-Alun Utara mengutuk PKI dan ormas lainnya. Pasca rapat mereka melakukan pawai melewati gedung CHTH (Chung Hua Tsung Hui), selain itu para demonstran meneriakkan berbagai yel-yel, ejekan, dan makian kepada kawan-kawan yang berada di gedung CHTH. Mereka adalah anggota CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), sebuah organisasi mahasiswa di Indonesia, terkait dengan PKI. Alhasil terjadi sebuah keributan. Sebab, dari salah satu peserta demonstran ada yang memaksa masuk ke dalam gedung tersebut. Kemudian, polisi beserta tentara militer turun tangan, tetapi nasib naas menghampiri semua anggota CGMI, mereka ditangkap karena keributan itu. Namun, dari pihak peserta demostran tidak ada satu pun yang ditangkap. Semua anggota CGMI dibawa ke penjara Wirogunan, salah satu yang dibawa adalah Tedja anak Mia Bustam.

Setelah kejadian itu, situasi Yogyakarta semakin tak kondusif semua organisasi maupun individu yang punya hubungan erat dengan PKI, ditangkap satu persatu. Tak jelas kondisi mereka, ada yang dijebloskan di bui, ada pula yang dibunuh, ataupun hilang tanpa jejak. Penangkapan yang amat berutal tak ada kemanusian semua menjelma menjadi iblis yang terlihat. Ditambah lagi, dengan adanya surat kabar, radio dan semua alat media massa yang mengabarkan bahwa kekejaman PKI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat dalang dari adanya pembunuhan para jendral. Artinya, semua kekuasaan sudah disetir oleh dalang dari penangkapan tersebut.

Mia Bustam Tertangkap

Saat, 23 November 1965, ulang tahun anaknya bernama Gunung  yang ke 17. Mia pagi petang sudah bersiap-siap akan pergi ke pasar untuk belanja perayaan ulang tahun Gunung. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar sebuah suara truk yang memasuki halaman Mia. Melalui sela-sela dinding bambu Mia melihat orang-orang berbaju hijau, secara spontan Mia berkata, “Lari!” artinya perintah untuk kabur dengan cepat kepada anak-anaknya. Mereka berhamburan keluar melalui pintu belakang dan terjun ke parit kering yang letaknya sebelah Barat rumah Mia. Orang-orang yang berbaju hijau tiba-tiba mengeluarkan tembakan serta berkata “Semua yang berada di dalam, keluar!” rumah Mia yang penuh ketenangan berubah menjadi rumah yang tiba-tiba terkutuk oleh penyihir jahat. Hanya ada ketakutan, kemarahan, dan kegentingan yang terjadi di rumah itu.

Kemudian, tatkala semua orang diamankan sampailah pada giliran Mia, mereka berkata sambil membentak “Kau naik ke truk sana!” Mia memandang anak-anaknya satu persatu dengan tatapan seorang ibu yang kasihnya abadi sambil berucap, “Wis ya, cah,” dan berjalan meninggalkan tanpa menoleh lagi. Mia pun tak sama sekali mencium dari salah satu anaknya. Kasih seorang ibu yang suci itu, terlukai oleh penguasa yang dolim.

Pasca penangkapan yang terjadi, anak-anak Mia tidak lagi tinggal di rumah yang penuh harapan dan mimpi itu. Akan tetapi, kemudian di antarkan ke Jayengprawiran dan tinggal beberapa waktu. Setelah itu, dibawa ke Jakarta dan diserahkan kepada sepupu Mia di Jalan Lawu. Walaupun pada akhirnya, semua anak Mia tinggal bersama ayahnya di Pasar Minggu.

Cerita di Bui Dimulai

Pasca penangkapan Mia dibawa ke Resor Kepolisian, di sana Mia bertemu dengan bu Naryo (Ketua Cabang Gerwani Sleman). Mereka sama-sama ditangkap tanpa alasan dan menjalani hidup di bui dengan kamar yang berbeda. Mereka tinggal di kamar yang berukuran 2×4 m, gelap dan berbau apek. Tiap jamnya ada saja orang baru yang dimasukkan ke dalam bui. Di Sleman Mia bertutur untuk makan hanya diberikan dua kali sehari sebungkus nasi jagung dengan nangka muda yang direbus tanpa bumbu. Singkat cerita Mia menjalankan pemeriksaan pertama kalinya dengan tuduhan bahwa Mia sebagai dalang dari pembunuhan jenderal di Lubang Buaya dan menjadi salah satu orang yang menyembunyikan para pemberontakan G30S/PKI.

Sesudah seminggu berada di Slamen, semua tahanan politik (tapol) diperintahkan untuk berkemas dan dipindahkan ke Benteng Vredbrug Yogya. Sekitar 3.000 jumlah tawanan hidup di tempat tersebut. Para tapol diberikan jatah makan nasi dua hari sekali dengan lauk pauk yang kadang kondisinya sudah tak layak makan. Sehingga, tidak membutuhkan waktu lama, mulailah korban berjatuhan disebabkan kelaparan yang ekstrim dan pelbagai penyakit yang datang ke mereka. Selain itu, pada momen Natal datang beberapa pastor dan biarawan-biarawati Katolik untuk mengunjungi para tapol bertujuan untuk menghibur para tapol. Akan tetapi, tatkala mereka ingin memasuki bui terdengar suara bentakan, makian, cacian, hingga jeritan tapol yang kena pukul, dan tempeleng, malah ada yang dilempar dari atas ke bawah yang dilakukan oleh perwira. Bahkan kedatangan perwira itu membuat hati Mia tak karuan tatkala salah satu orang tapol mengatakan ditangkap di Rumah Mia.

“Kau! Yang bermuka Kriminal itu! Di mana kau ditangkap?”

“Di rumah bu Mia, pak.”

“Di rumah bu Mia?! Kenapa tidak berada di rumahmu sendiri, he!”

“Saya belajar melukis pada bu Mia, pak.”

“Belajar melukis ! Apakah bu Mia itu pelukis? Anggota apa dia Gerwanikah?!”

“Lekra, pak.”

“Lekra! Mana namanya bu Mia?!”Mia mengancungkan tangan.

“Berdiri kau! Sana bersandar pada dinding!” Lalu dia membentak Mia sambil melotot dan memaki.

“Mengapa kau menjadi anggota Lekra, he! Tak tahu kau lekra itu mantel PKI!” Mia hanya terdiam tidak mengucapkan sepatah apapun. Walaupun pisau berkali-kali dilemparkan ke atas kepala Mia, ke kanan-kiri, Mia tak sama sekali gemetar ataupun Gundah. Akan tetapi, di dalam hatinya hanya ada rasa heran bahwa apa ada yang salah dari PKI dan Lekra? Mengapa dia sangat membenci dua organisasi itu. Dan akhirnya, lelaki yang mulanya berparas ganteng sirna sebab perilakunya lebih baik buruk dibanding iblis sekalipun.

Singkat cerita pada April 1966 Mia dipindahkan ke Wiroguna, sebab bui Banteng akan ditempati khusus untuk sarjana dan mahasiswa. Di bui Wiroguna semua tapol wajib memeluk salah satu agama dikarenakan semua tapol dianggap atheis. Mia memilih katolik sebagai agamanya walupun sebelumnya beragama Islam. Mia memilih katolik dengan dua alasan ketertarikannya pada bacaan buku katolik sejak kecil dan perlakuan para roma dan biarawati yang berpihak kepada tapol.

Setelah dipindahkan ke bui plantungan hingga ke bui Bulu barulah Mia dibebaskan dengan syarat. Akhirnya, setelah mengalami beberapa perpindahan lokasi disertai penyiksaan, Mia bersama temannya dibebaskan pada 28 Juli 1978. Bagi Mia bebas tidak bebas dalam arti sebenarnya. Kebebasan sudah direngut oleh rezim orde baru, terkucilkan dan diberi saksi sosial yang mestinya tidak harus ddidapati oleh mereka. Bebas?! Tidak bebas bahkan mereka tidak diberikan hak politik sebagai warga negara, Apakah itu bebas? Dalam akhir tulisan Mia dalam bab “Pembebasan” pada buku Dari Kamp ke Kamp Mia menuliskan bahwa “Pada pemilu pertama sesudah kami bebas, pada surat panggilan untuk mencoblos, namaku tidak tercantum. Atik rebut, mengurusnya ke Kelurahan. Namun, di sana dia diberi tahu, aku belum boleh memilih. Bagiku larangan ini malah menyenangkan karena partai mana yang akan kupilih. PPP? Golkar? PDI? Sama sekali tidak tertarik.” Sebab, belum tentu semua partai akan berpihak hingga berkomitmen menyelesaikan pelanggaran HAM 1965 di negara ini. Bukan begitu?

Refrensi:

Bustam, Mia. 2022. Dari Kamp ke Kamp: Memor Kedua Mia Bustam. Bandung: Penerbit Ultimus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here