Kemanakah Tuhanmu hari ini?
Apa ia yang menjelma jadi gedung-gedung tinggi?
Apa ia yang memenuhi kantong-kantong orang berdasi?
Atau ia yang memenuhi jalanan kota setiap pagi?
Kemanakah Tuhanmu hari ini?
Jalan-jalan ketauhidan terjajah
Pemikir congkak, menjarah
Menuhankan yang bukan tuhan
Menghilangkan esensi ketuhanan dari kehidupan
Ada manusia yang kemudian engan mengakui Tuhannya
Ada manusia yang menuhankan sesamanya.
Ada manusia yang membela Tuhan dengan sangatnya
Piye karepe iki?
Tuhan kok dibela, Beliau kurang apa?

Mungkin bukan Tuhan yang kurang
Kita saja manusia yang selalu kurang
Kurang dalam memaknai kehidupan
Kurang dalam memahami peran kemanusiaan
Kurang dalam segala hal, karena kita tak lagi menuhankan Tuhan
Mungkin kita alfa akan esensi ketuhanan
Yang menjadi sumber eksistensi kemanusian
Kemanusiaan dikebiri
oleh kepentingan segelintir pribadi
Rasa saling menghargai
Tergerus tinggi hati yang menjadi
Habblumminannas tak adalagi yang mengenali
Kemudian manusia lenyap dari peradaban
Terganti binatang buas yang menguasai kehidupan
Saling mencaci menjadi sarapan pagi
Ujaran kebencian adalah hal yang tak terganti
Manjadi pemenuh ruang publik sehari-hari
Kemanusiaan hilang bersama
manusia yang tenggelam dalam peradabannya sendiri

Tidak! Tidak! Tidak seperti itu!
Bukan kemanusiaannya yang tenggelam
Lantas apa?
Atau manusianya yang tak paham
Tidak! Tidak! Tidak pula serperti itu!
Yang hilang jauh sebelum itu semua adalah satu
Ya… hanya satu…
Satu yang melenyapkan segalanya.
Tanggungjawab moral kemanusiaan.
Tak adalagi pribadi yang memilikinya
Tak adalagi pribadi yang memperjuangkannya
Moral tak lagi digubris
Keadilan hanya sebatas kata pemanis
Yang tak memiliki basis
Realitas keadilan tak pernah menjamah
Nilai kesetaraan dalam kemanusiaan

Kesetaraan apalagi yang mau kau bicarakan
Kesetaraan yang bagaimana lagi yang ingin kau utarakan
Jika kau saja enggan bersalaman dengan berbeda keyakinan
Kau enggan menyapa mereka yang terpinggirkan
Kau enggan tersenyum pada mereka yang terkucilkan
Tapi aku heran denganmu.
Ya… Kau!
Yang menganggap dirimu Tuhan
menyuarakan kesetaraan dengan mulutmu saja
Tapi hati dan pikiranmu enggan menerimanya
Kaum-kaum yang tertidas kau abaikan
Mereka yang lemah kau acuhkan
Minoritas seakan musuh
Memandang sebelah mata yang lusuh
Itu yang kau anggap setara?
Sedangkan dirimu saja masih dalam tirani ketidaksetaaran
yang menganggap diri sendiri setara hanya dengan sesama saja

Itu yang kau bilang merdeka?
Kau saja masih terkungkung tirani pemikiranmu sendiri
Itu yang kau katakan pembebasan?
Sedang kau saja masih terbelenggu rasa takut disetiap pagi
Kau takut, ketika kau menyuarakan kemanusiaan
kau dibungkam habis-habisan
Kau takut, ketika kau berujar akan keadilan
kau dihujat dianggap menyalahi aturan
Kau takut, ketika kau memaksakan kesetaraan
Kau dihina, dikucilkan dari peradabaan
Itu yang kau katakana pembebasan?
Bagaimana kau mau membawa jiwa-jiwa mereka merdeka
Sedang kau sendiri, enggan membebaskan dirimu dalam pemikiran
Kau terlalu merumitkan kebebesan
Kau direpotkan oleh pemikiranmu sendiri yang haus kemerdekaan

Gitu aja kok repot,
Anekdot sederahan itu membuatku terjaga
Ternyata manusia sudah terlalu parah menjadi manusia buta
Mereka buta dalam melihat realitas
Buta dalam menafsirkan setiap permasalahan hidup tiada batas
Manusia dibutakan gemerlap duniawi yang fana’
Budaya materialistis yang dibawa kapitalis
Telah menjadi gaya hidup yang seakan-akan dianggap fantastis
Ya.. Fantastis memang,
Sampai-sampai menjadi sebab jati diri hanya terkenang
Identitas yang dalam bayang-bayang
Dan bangsa yang terkenal akan kesederhanaannya
Kini benar-benar hanya menjadi sebuah kenangan saja
Romantisme kesederhanan budaya bangsa yang tak sederhana
hanya menjadi kisah klasik saja
dan semua kembali fana,
hanya karena manusianya saja
enggan menyederhanakan yang sederhana
akh… Aku ingin terlelap saja agar tenang,
tak perlulah dipikir repot-repot
Gitu aja kok repot..

Jangan!
Jangan kau abai dengan semua ini!
Kau tak malu dengan pendahulumu?
Kau tak malu dengan mereka?
Yang telah menanamkan nilai-nilai itu?
Monggo, kita refleksi diri
Apa yang seharusnya diperbaiki
Diri kita dengan Tuhankah?
Atau dengan sesama manusia dahulu?
Hablumminallah telah lama luntur
Hamblumminannas tak lagi teratur
Kau mati rasa untuk saling menghargai sesamamu
Kau kaku untuk menjalin persaudaraan dengan yang berbeda suku
Sebab itu, karna kau tak lagi menjadi manusia
Sebab itu, karna kau tak lagi adil dan setara
Dan rasa persaudaraanmu hambar
Karena sikap yang enggan untuk saling berkabar.

Tidak, tunggu sebentar, aku ingin berkabar kepadamu
Tentang dedaunan yang gugur senja itu
Aku melihat senyum manis tersunging dari bapak bangsaku
Diantara sejuknya angin yang berhembus kala itu
Beliau berbisik pesan kepadaku,
Nduk, bangsa ini perlu orang-orang seperti kalian,
Pribadi berintegritas
Bermoral kemanusiaan tanpa batas
Berproses dengan penuh tanggung jawab yang tak bebas
Berani dengan konsekuensi yang menguji mentalitas
Berkomitmen kuat namun bersikap selembut kapas
Serta kunci dari segala kunci keistiqomahan tak berbalas
Adalah rasa sabar dan ikhlas
Akan seberat apapun proses menujung ujung tak berbatas
Karna kelak kau akan diagungkan menjadi sosok kesatria yang pantas
Dalam kehidupan yang berbatas.

Ya, hidup ini sangat berbatas
Bahkan bercengkrama denganmu saja
mungkin tak sempat aku tuntaskan senja ini
Peluklah Pancasilamu,
Jangan kau biarkan mereka menggantinya
Teggakkan Bhineka dalam Tunggal Ikamu,
Jangan sampai tumpah pecah, dalam negeri yang masih terjajah
Terjajah budayanya,
hilang akan kearifan lokalnya
Dan semua tak lagi memiliki pijakan
Sosial, politik dan kebudayaan
Tak lagi memiliki eksistensi dalam kemasyarakatan
Nilai-nilai itu gugur senja tadi bersama dedaunan
Ya, itu yang seharusnya terus kau pertahankan
Kearifan lokal yang menjadi dasar segala tindakan
Membumikan keadilan
Merawat kemanusiaan
Terbuka dalam segala pemikiran
Tak buta terhadap perkembangan
Demi kejayaan peradaban di masa depan

Spesial dibacakan pada Haul Gus Dur Garuda Malang di GKI Bromo Malang

Malang, 16 Desember 2018
Nur.il

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here