Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

0
99

Identitas Buku

Judul Buku: Seakan Kitorang Setengah Binatang; Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

Penulis: Filep Karma

Cetakan: 1, 2014

Penerbit: Deiyai, Jayapura

Jumlah Halaman: 137

Sinopsis Seakan Kitorang Setengah Binatang; Rasialisme Indonesia di Tanah Papua

Perjalanan Papua bersama Indonesia banyak sekali menyimpan luka dan duka bagi mereka orang-orang Papua. Status Papua yang merupakan salah satu wilayah resmi di Indonesia, pada kenyataannya mengundang sejumlah fakta yang mempertanyakan status tersebut. Salah satu tokoh dari Papua yang ikut mempertanyakan status tersebut adalah Filep Karma. Sebagai anak Papua, ia menyaksikan berbagai ketidakadilan yang dilakukan Indonesia yang salah satunya diwakili oleh aparat.

Filep Karma menjadi saksi bahwa kehidupan masyarakat Papua dipenuhi oleh teror yang disebarkan oleh rancunya status Papua sebagai – yang katanya merupakan – bagian dari Indonesia. Hak mereka cenderung diabaikan, mengalami diskriminasi baik di luar atau di dalam wilayah Papua. Kepentingan maupun kebutuhan mereka di kampung halaman sendiri sangat susah untuk dipenuhi. Keistimewaan yang ia dapatkan sebagai anak seorang Bupati, mengantarkannya pada kemudahan untuk meraih pendidikan hingga perkuliahan. Jika dibandingkan dengan banyak masyarakat Papua lainnya yang sulit untuk duduk di bangku pendidikan, Filep Karma bisa dikatakan beruntung.

Pendidikan inilah yang kemudian membantu Filep untuk melihat permasalahan yang dialami oleh masyarakat Papua. Filep mulai mendalami isu-isu yang selama ini dianggap remeh kebanyakan orang di Indonesia. Banyak sekali terjadi pelanggaran HAM di tanah Papua. Ia kemudian mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak manusia Papua yang ditindas dan dilindas. Pada tahun 1998, ia ditangkap oleh aparat dalam peristiwa Biak Berdarah. Pengibaran bendera Bintang Kejora berujung pada penangkapan Filep Karma. Pengadilan menjatuhi hukuman 6,5 tahun penjara dengan tuduhan makar. Proses banding yang ia lakukan pada tahun 1999, membuat ia kemudian dibebaskan dari tuntutan hukum.

Pada tahun 2004, ia kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Tuduhan yang dialamatkan padanya sama dengan yang sebelumnya, makar. Selama masa-masa hukuman itu, Filep menjadi saksi sekaligus korban atas perlakuan-perlakuan yang tidak adil yang ia alami bersama dengan orang-orang di penjara. Filep menceritakan kesulitannya memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makan, peralatan mandi, pelayanan kesehatan, hingga perlakuan buruk para petugas di tahanan kepada para tahanan.

Tindakan pemerintah Indonesia yang menahan Filep di penjara ini, banyak dikejam berbagai pihak. Filep menerima banyak sekali mendapat dukungan berupa surat yang dialamatkan kepadanya selama di penjara dari berbagai penjuru dunia. Berbagai pembelaan  terhapad Filep diupayakan oleh banyak pihak seperti Human Rights Watch (HRW), Amnesty In-ternasional (AI), Freedom Now, Komisi untuk Orang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), dan banyak lainnya.

Kelebihan Buku

Buku ini ditulis dalam bentuk essay yang dirangkai dari mewawancarai Filep Karma. Tutur kata Filep Karma yang dirangkum itu mudah untuk dipahami bagi para pemula yang ingin mengetahui konflik-konflik yang terjadi di Papua. Orang-orang yang tertarik untuk mempelajari konflik yang ada di sana, mungkin ada yang kebingungan untuk mempelajarinya dari mana. Komplikasi yang terlihat selama ini di pemberitaan-pemberitaan media, bisa terlebih dahulu diserdehanakan dari mempelajari sebuah perspektif. Salah satu perspektif menarik, adalah Filep Karma ini.

Dari uraian wawancara tersebut, terlihat bahwa Filep Karma menguasai seluk beluk konflik yang terjadi di Papua, dan bisa memaparkan sejarah yang melatarbelakanginya. Selain uraian wawancara, buku ini juga menyajikan penjelasan dari sisi hukum yang dijelaskan dengan runut dan dapat dipahami oleh pemula. Penjelasan-penjelasan itu dimuat dalam penyajian fakta-fakta di bagian Lampiran. Di bagian ini dijelaskan bagaimana status Filep Karma ketika ditangkap, dimasukan ke penjara dan diadili di persidangan dengan cara yang sewenang-wenang.

Selain Filep Karma sendiri, ada beberapa orang yang turut mengisi bagian dalam buku ini. Beberapa orang terlibat dalam kegiatan mewawancarai Filep Karma dan juga ada yang terlibat dalam penulisan bagian Epilog. Pada bagian epilog dihadirkan sebuah gambaran mengenai Filep Karma oleh Anugerah Perkasa. Pada epilog ini kembali diceritakan ketidakadilan yang dialami oleh Filep Karma baik itu yang dialaminya semenjak ia ditangkap dan dipenjarakan maupun ketika ia sakit dan kesulitan mengurusi pengobatan untuk dirinya. Perjuangan yang dilakukan oleh Filep Karma digambarkan dengan apik di bagian epilog.

Kekurangan Buku

Buku ini memuat kisah Filep Karma yang memperjuangkan HAM di tanah Papua. Kisah Filep yang diceritakan hanya sampai pada tahun 2014. Belum jelas mengenai kepastian nasib Filep sekarang. Selain itu, karena ini berupa perspektif dari satu pihak, untuk para pembaca yang ingin mendalami isu-isu di Papua, agaknya harus mencari perspektif lain. Hal ini diupayakan agar kita sebagai pembaca lebih bijak lagi dalam menilai isu-isu kemanusiaan yang terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here