Oleh:Wawan Purwadi

Di momen kemerdekaan bangsa indonesai 17 Agustus 1945 -17 Agustus 2019 ini kita telah memasuki usia ke-74. Mungkin momen ini sangat sakral bagi sebagian orang. Karena setiap tahun kita peringati untuk mengigat perjuangan para pendahulu yang telah rela mencurahkan jiwa raga untuk memperjuangkan.

Semoga jiwa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia diberikan tempat terindah oleh Allah Swt. Namun, belum selesai disana kita di bulan ini kehilangan ulama besar kebanggaan umat muslim indonesai bahkan dunia. Ia, Syaikhina Maimoen Zubair-Sarang, Rembang atau orang memanggilnya Mbah Moen, kemudian KH. Muhlas Dimyati, Gedongan, Cirebon, disusul KH. M. Sulton Fathoni, salah satu pengurus PBNU juga telah meninggalkan kita. Semoga beliau-beliau diberikan tempat terindah di sisi Allah Swt. Amiiin.

Kita sebagai generasi penerus bangsa semoga mewarisi ghiroh(semangat) berjuang untuk tetap menjaga persatuan bangsa indonesia dari apa yang telah mereka perjuangkan semasa hidupnya. Jangan sampai opini-opini yang dibanguan untuk memecah belah bangsa Indonesia tidak bisa kita bendung. Ingat bahwa di bulan agustus ini momen di mana kita mengenang peristiwa besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagaimana bangsa ini dibangun oleh berbagai lapisan masyarakat untuk berjuang bersama-sama. Mereka tidak pernah berpikir atau berdebat soal suku, ras atau latar belakang agama yang diyakini. Tapi berpikir bagaimana berjuang bersama melepaskan diri dari penjajahan.

Ingat bahwa, teriakan NKRI harga mati tidaklah cukup. Yang paling terpenting adalah mengamalkan ideologi bangsa Indonesa dengan sikap orang Indonesia seutuhnya. Bukan menjadi pribadi bangsa lain yang hanya menimbulkan perdebatan.

Kenapa demikian? Karena pada hari ini kita masih mudah tersulut api amarah dan perdebatan yang membuat sebagian masyarakat tidak punya arah untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang salah.

Contoh saja kasus penangkapan 19 mahasiswa saudara kita asal papua di Jalan Kalasan No. 10, Surabaya Jawa Timur pada Jumat (16/8/2019) sore. Mereka dituduh mematahkan tiang bendera yang terpasang di depan asrama. Sampai ada salah satu orang yang diduga statusnya sebagai anggota TNI menggedor-gedor pintu mereka dengan marah-marah. Sehingga muncul rasa takut, mereka pun tidak berani untuk keluar asrama. Karena takut mendapatkan perlakuan tidan menyenangkan (seperti kekerasan) oleh masyarakat setempat. Dari kejadian tersebut berlanjut sampai terjadi tindak penangkapan terhadap puluhan mahasiswa Papua tanpa dasar. Mereka dituduh secara sepihak melakukan perusakan simbol negara. (Tirto.id, 18 Agsutus 2019).

Dari peristiwa itu, masyarakat masih berpandangan bahwa orang Papua itu sulit diatur dan suka membuat kekacauan. Hal ini sebenarnya adalah pandangan yang salah.

Kita harus ingat betul bahwa bangsa ini dibangun dari jiwa yang besar, bukan dibangun dari amarah yang tidak berdasar. Kalau penulis boleh mengingatkan, dulu kita dikenal menjadi bangsa yang selalu menjunjung tinggi moralitas, tapi sekarang kita menjadi pemarah dan arogana sampai tidak memperdulikan orang lain. Jangan sampai zaman semakin modern, tapi kita malah berlaku keji terhadap saudara sendiri.

Kita harus ingat, bahwa perilaku rasis adalah salah satu perilaku yang akan memecah belah bangsa Indonesia. Jangan sampai kita menderita belakangan karena atas perilaku yang kita perbuat sendiri, dan orang lain tersenyum lebar di atas penderitaan kita. Junjung persatuan dan kesatuan, merdeka!!!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here