“Dongeng memang tidaklah sebagaimana kehidupan nyata. Namun kehidupan setiap manusia tak ubahnya sebuah dongeng,” Aesop

Aesop adalah legenda penulis cerita hewan dan interaksi antar hewan dengan segala polemik kehewanannya. Sosoknya diperkenalkan oleh Aristoteles, Herodotus, dan Plutarch. Ia adalah seorang pendongeng yang hidup sekitar tahun 650 SM, ada pula yang menyebutkan tahun 550 SM. Aesop tidak banyak diceritakan oleh orang, ia lebih dikenal sebagai budak seorang Yunani kaya di Samos, sebuah pulau kecil di laut Aegea. Pada akhirnya ia dibebaskan dari budak karena kecerdasannya dalam menggubah cerita.

Aesop diyakini telah menulis dongeng sekitar dua ribu. Meskipun, beberapa dongeng adalah cerita bangsa Yunani yang diceritakan ulang. Sebagaimana kelahirannya, kematiannya pun tidak jelas, ada yang mengatakan bahwa Aesop meninggal di Delphi ketika diutus Raja Croesus dari Lydia.

Kini terdapat buku terjemahan Aesop yang berjudul Kumpulan Fabel. Buku ini diterjemahkan oleh Nurul Hanafi. Hanafi adalah penulis dan penerjemah kelahiran Bantul, 1981. Ia menyukai kajian sastra Inggris era Elizabethan hingga restorasi, drama klasik Yunani, dan lainnya. Salah satu karya Hanafi adalah novel Piknik, terbit tahun 2005.

Kumpulan Fabel Aesop diterbitkan oleh Kakatu, September 2016. Ada seratus lima puluh dongeng di dalamnya. Beberapa yang telah populer di antaranya adalah Serigala Berbulu Domba dan Angsa Bertelur Emas.

Fabel dikenal sebagai sastra anak-anak, berfungsi untuk menyampaikan moral, melalui kisah binatang. Kisah yang menunjukkan watak kebinatangan yang mampu mengilhami anak untuk belajara moralitas. Padahal, perihal moral, bukan hanya anak-anak yang membutuhkan itu.

Moral menjadi kebutuhan setiap orang, bukan hanya anak-anak. Fabel perlu diangkat kembali sebagai kisah yang pas untuk menampar moralitas kita yang kekanak-kanakan. Sebagaimana metafor-metafor dalam beberapa judul buku di antaranya yang penulis ingat adalah Animal Farm karya George Orwell dan Anjing Masuk Surga karya Dawam Raharjo.

Animal farm yang berikutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mahbub Djunaidi dengan judul Binatangisme berkisah tentang sekelompok hewan yang menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan yang mereka miliki. Para petani manusia itu menindas para hewan. Lalu mereka sendiri mengendalikan peternakan, hanya untuk melihat keadaannya menjadi merosot dan mereka sendiri bertindak semena-mena.

Sedangkan dalam cerpen Anjing Masuk Surga bercerita mengenai sekeluarga muslim memelihara anjing yang mula-mula dimaksudkan untuk menjaga rumah, kemudian berubah menjadi sahabat, dan akhirnya menjadi keluarga. Anjing bernama Hector menjadi teman baik pemiliknya, Usamah. Hector menjadi penegak keadilan ketika ada pencopetan di pasar dan pencurian ayam di kampung, meskipun pada akhirnya Hector yang selalu disalahkan orang lain.

Dongeng binatang dengan binatang atau binatang dengan manusia selalu menjadi kisah menarik. Watak kebinatangan kerap kali dikaitkan dengan watak manusia. Sehingga menjadi kritik moralitas kita semua, siapa yang lebih binatang dari binatang atau manusia.

Kembali kepada sebuah dongeng Aesop yang berjudul Serigala Berbulu Domba, dikisahkan ada seekor serigala kesulitan menangkap seekor domba, karena penggembala dan anjingnya selalu siaga. Suatu hari, serigala menemukan sehelai domba. Tak kehabisan akal, serigala pun memakai kulit domba di tubuhnya, dan bergabung bersama kawanan domba. Seekor anak domba mengikuti serigala yang menyamar, setelah cukup jauh berjarak dari gerombolan, ia segera menerjang dan menyantap anak domba.

Buku Aesop Kumpulan Fabel

Serigala berbulu domba ini mengisahkan bagaimana kepura-puraan bisa memangsa siapa pun. Permukaan bukan lah cerminan diri seseorang. Kulit bukan lah gambaran dari watak sesungguhnya. Bisa jadi penampilan itu anggun, alim, dan bersahaja. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan uang rakyat dikorupsi.

Apalagi, serigala berbulu domba ini dikorelasikan dengan fenomena pseudo-agamis. Wajah bersorban sambil berteriak takbir, menggema keagungan Tuhan, akan tetapi moralnya jauh dari nilai agama. Kesantunan tidak nampak pada covernya yang alim itu. Hingga pada sebuah fenomena di Jawa Barat akhir tahun lalu, yang menghujat-hujat, menyalahkan dan mengutuk pemilik anjing yang anjingnya masuk masjid- membuta dan berkehendak mau memenjarakan si pemilik anjing.

Fabel Aesop lainnya adalah Angsa Bertelur Emas. Seorang pria datang ke sarang angsa dan menemui angsa bertelur. Telurnya ditemui berwarna kuning keemasan, disadarinya bahwa ternyata angsa itu bertelur emas. Setiap pagi ia ke sarang dan mengambil telur emas tersebut untuk dijual ke pasar. Ia pun kaya berkat menjual telur emas tersebut. Alhasil, ketamakannya muncul dan disembelihlah angsa itu dan dibelahlah perutnya. Kecewa pun datang, emas tak lagi ditemukan.

Ketamakan yang sejatinya adalah watak binatang, dalam kasus fabel Angsa Bertelur Emas, ketamakan merasuki seseorang. Ketamakan membuat ia lupa dari mana kekayaannya berasal, dari mana telur emas itu berasal. Manusia kadang lalai dengan siapa ia berterima kasih dan menyukuri setiap apa yang ia peroleh.

Dalam konstalasi ekonomi atau pasar bebas, kebanyakan dari kita lupa akan hal itu. Keserakahan untuk terus mendapatkan untung kerap kali terngiang dalam diri. Sehingga, banyak orang berduit selalu tidak cukup puas dengan yang ia dapat. Akhirnya, ia mengeksploitasi alam, memonopoli, dan menguasai lahan. Hingga pada akhirnya alam sudah tidak bisa memenuhi sifat tamaknya. Keseimbangan alam pun sirna, datanglah bencana yang tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi orang lain. Begitulah ketamakan, tidak hanya merugikan diri kita, tapi orang lain.

Kisah lainnya yang tidak kalah menarik adalah Lelaki, Anak, dan Keledai. Lelaki dan anaknya berjalan menyertai keledai, di suatu perjalanan warga desa berkata, “Dasar bodoh kalian, untuk apa punya keledai, kalau tidak dinaiki”. Maka sia ayah menaikkan anaknnya ke atas keledai. Saat diperjalanan, mereka pun diomongi oleh orang lain, “Lihatlah, anak malas, ayahnya berjalan, sedangkan ia enak-anakan di atas keledai”. Kemudian, ayahnya punya ide agar anaknya jalan dan dirinya menaiki keledai, di jalan pun mereka disapa orang lain sembari berkata, “Memalukan sekali lelaki tua itu, ia biarkan anaknya yang malang itu berjalan keletihan”. Akhirnya, mereka memutuskan ide lainnya yang menurutnya efektif dengan mengikatkan keledai ke sebuah galah. Keledai pun diangkat dari galahnya oleh ayah dan anaknya. Semua orang melihatnya sambil menertawakannya, saat berada di atas jembatan keledai pun jatuh ke sungai. Akibat kakinya masih terikat di galah, keledai pun merontah-rontah dan tenggelam.

Lelaki, Anak, dan Keledai memberikan pesan kepada kita agar tidak mudah terpengaruh dengan omongan orang. Gunjingan orang lain akan mengakibatkan diri kita terbebani, apalagi dengan menuruti masukannya yang tidak masuk akal. Orang lain adalah orang tang belum tentu mengenal kita. Orang lain berkata yang belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan, kehendaki, dan benar.

Orang lain hanya bisa menilai kita dari luar. Solusi dari mereka patut dipertimbangkan, karena kita yang melakukan. Tidaklah mungkin kita menjadi plin plan dengan omongan orang lain, apalagi yang belum kenal kita. Omongan itu bisa jadi sebuah solusi, dan tidak menutup kemungkinan adalah sebuah petaka.

Tidak hanya perihal binatang, Aesop juga berkisah tentang Dewa Merkurius dan Pencari Kayu. Suatu hari seorang pencari kayu itu menebang pohon yang di dekat sungai, ketika itu kapaknya terjatuh ke sungai. Dewa Merkurius pun turun ke bumi dan menyamar menjadi manusia, dan menemukan kapaknya. Kapak pertama berwujud emas, kedua berwujud perak- keduanya disodorkan ke penebang kayu itu. Penebang kayu menolak kapak itu, karena bukan itu miliknya. Akhirnya, Dewa Merkurius pun memberikan kapak aslinya. Kemudian, tragedi itu diceritakan penebang kayu itu kepada temannya. Temannya yang serakah meniru dan dengan sengaja menjatuhkan kapaknya ke sungai, langsung saja Dewa Merkurius memberikan kapak emas, tanpa ditanya teman penebang pohon tadi langsung menyambar bahwa itu miliknya. Dewa pun muak dengan ketidakjujurannya, tiada kapak pun diberikan kepada teman penebang kayu tadi.

Pesan moral dari beberapa gambaran novel, cerpen, dan fabel yang diaktori oleh para binatang bukan hanya sebuah pesan untuk anak-anak. Sangatlah jelas bahwa pesan yang ada dalam dongeng-dongeng itu bernilai hikmah akan kebijaksanaan kita sebagai manusia. Manusia yang belajar dari binatang, belajar dari dewa (malaikat), dan belajar menjadi manusia. Sehingga, manusia mampu menemukan kemanusiaannya yang paripurna. Manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang menyadari kebinatangan dan manusia yang menyadari kemalaikatan dalam dirinya.

Karena sesungguhnya dalam diri manusia ada watak binatang dan malaikat. Manusia bisa menjadi lebih binatang dari binatang. Manusia juga bisa lebih malaikat dari malaikat.

Akhir kata, fabel Aesop bukan lah fabel untuk anak. Fabel Aesop adalah fabel untuk semua orang guna menjadi manusia. Fabel Aesop bukan sekedar kisah moral, dongeng dalam buku ini adalah alegori politik, yang menggambarkan betapa golongan yang kuat selalu berusaha menguasai, mengendalikan, dan bahkan menghancurkan mustadhafin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here