dan selalu menjadi maksudku, untuk mengangkat suara keras-keras, karena hanya publikasi saja dapat membawa perbaikan yang kita harapkan atas keadaan yang membutuhkan perbaikan itu…

Memang itu lebih baik, jadi segera pasang senapan buka peperangan jadi sudah sejak dari awalnya kepada masyarakat pribumi kami katakan kepadanya, dari golongan apa kami ini “___Tulis Kartini

Kartini dan Lingkungan
Kartini wanita pertama dalam dunia tulis menulis yang membawa nilai kesetaraan, tanpa jengah kartini menulis apapun yang menjadi gejolak dirinya pada masa itu. Hal ini menarik, karena sejatinya yang diperangi secara gentol oleh kartini adalah sikap feodal yang justru dimunculkan oleh lingkungannya, keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi aristrokat yang saat tu sedang pesakitan.

Sikap-sikap yang muncul kemudian adalah reaksi kartini akan posisi dirinya sendiri, bermula dari perbedaan dirinya dan saudara-saudaranya di rumah agung. Kartini menggambarkan posisi anak yang dilahirkan oleh ibu utama sangat mulia, dirinya yang lahir dari ibu kedua berada pada rumah yang berbeda. Dari sini amat jelas jika Kartini sejak kecil sudah menerima konflik batin tentang proses poligami yang wajar dan biasa dilingkungannya. Kartini menggambarkan itu menyakiti kedua wanita, yakni ibu tiri dan ibu kandungnya.

Kendati demikian, Kartini kecil sangat memuja sosok R. M. A Sosroningrat sebagai ayahnya, beberapa korespondensinya kepada sahabatnya Stella sangat menyanjung ayahnya sebagai junjungan utama, dia rela melepaskan “ingin demi baktinya pada Ayah, yang lantas semua keinginannya itu tertumpah ruah pada surat-surat dan tulisnya.

Kasihan ayahku tercinta, ia telah banyak menanggung, dan hidup ini masih jua ditempakan kekecewaan-kekecewaan menyedihkan pula kepadanya. Stella, ayah tiada mempunyai sesuatu kecuali anak-anaknya, kami inilah segala-gaalanya baginya, kegembiraanya, penghiburku. Aku mencintai kebebasanku, o, dialah segala-galanya yang kumiliki dan nasib saudariku meminta perhatianku; aku rela membantu mereka kuat-kuat, dan siap sedia menyerahkan apapun korban yang dipintanya, agar dapat memperbaiki nasib mereka. Aku pandang menjadi kebahagiaan hidup, bila dapat dan boleh menyerahkan diri seluruhnya buat pekerjaan ini. Namun lebih baik daripada semua itu seluruhnya ialah Ayahku….

Dalam hal ini juga, Kartini melakukan refleksi dengan tulis menulis, bisa penulis bayangkan tanpa deskripsi Kartini tentang keluarganya yang ningrat, mungkin sejarawan Indonesia akan kesulitan mendeskripsikan bangsawan jawa pada masa koloni dengan detil.
Saat pendidikan adalah haram untuk selain bangsawan, kartini menginginkan sebaliknya, dengan tujuan pengetahuan itu harus dijamah oleh siapa saja.

Lagi-lagi, perjuangan pertamanya dalam hal ini adalah buku dan pena, dia menuliskan kondisi masyarakat yang sudah lumrah dengan kemelaratan, kemiskinan, dan lebih kronik dari itu semua adalah tidak adanya pengetahuan didalamnya. Dia menulisnya dengan keresahan yang tinggi akan kondisi masyarakat, kesadaran sosial yang dia dapat tidak dimiliki bangswan-bangsawan lainnya yang hidup dengan serba keukupan, karena hukum feodal mengatakan jika kemelaratan itu pantas untuk rakyat jelata.

Melihat kondisi itu, bagi Kartini perlawanan yang jelas adalah mengusir kebodohan untuk kemajuan dan kemakmuran. Karenanya, dia ingin pendidikan disetarakan untuk siapa saja, tidak mengenal kelamin wanita dan laki-laki, kelas, ras dan agama tertentu.

Menulis, Harapan Masa Depan
Bahwa nilai yang dibawa kartini sudah amat sangat jelas, Kesetaraan & Ilmu Pengetahuan. Beberapa kondisi yang ia lawan secara gencar adalah kedua nilai tersebut. Kartini yang didik oleh Ibu tiri karena lahir dari ibu kedua mengalami kondisi konflik poligami yang amat rumit dalam keluarga bangsawan. Kartini harus menerima saat dia tidak berada di gedung utama pada saat-saat tertentu, menerima ibu tiri sebagai ibu utama, menerima wanita-wanita selanjutnya sebagai ibu muda. Kartini menggambarkan kondisi ini sebagai penyakit yang akan membawa derita bagi wanita pribumi, kondisi yang harus dijauhkan dari perempuan. Meskipun hal tersebut juga dilakukan oleh ayahanda Kartini.

Anehnya kemudian, Kartini yang menggugat Poligami malah menikah dengan suami yang sudah memiliki istri kesekian. Nampaknya, Kartini tidak memiliki kekuatan untuk melawan kondisi yang menimpa dirinya meski dalam suratnya berulang-ulang dia tidak ingin menjadi Raden Ayu yang akan membelenggunya dari aktivitas produktivitasnya sebagai wanita yang berabisi tinggi pada ilmu pengetahuan dan gerakan sosial. Penyerahan itu tidak lepas dari kecintaan kartini yang amat besar terhadap ayahnya yang selalu ia sebut demi cintaku pada ayah…

Pertanyaannya kemudian, apakah Kartini menyerah dan Kalah? Kartini yang cendekia memahami jika perlawanannya bukan pada penolakan kondisi namun dengan tinta yang akan kekal abadi, Kartini ingin menyebarkan virus kebebasan pada perempuan melalui tulisnya akan Kesetaraan dan pentingnya pengetahuan terlihat jelas pada penegasannya berulang-ulang jika dia tidak mau dipanggil Raden adjeng Kartini, dia menginginkan semua orang hanya memanggilnya sebatas Kartini… senada dengan apa yang ditulis Pram Panggil Aku Kartini Saja…

Nampaknya, Kartini melihat penolakan melalui sikap saat itu hanya akan menyakiti Ayah dan hanya akan berimbas pada pembebasan dirinya, namun tidak, bukan itu mimpi Kartini, Kartini memiliki mimpi yang besar, kepedualian yang tinggi akan nasib para wanita dengan menulis dan memberikan pengaruh yang luas untuk keberlangsungan kesetaraan pada masa- masa berikutnya.

Menulis adalah protes Kartini, buah pikir darinya akan kekal abadi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here