Setiap memasuki bulan November, wajah para pahlawan kembali menghiasi ruang publik. Upacara diselenggarakan, bendera dikibarkan, dan kutipan perjuangan ramai dibagikan di media sosial. Nama-nama seperti Bung Tomo, Soekarno, Hatta, hingga Jenderal Soedirman kembali disebut. Namun, setelah 10 November berlalu, perhatian terhadap sejarah perjuangan bangsa perlahan meredup.
Kita seolah memiliki waktu khusus untuk mengingat para pahlawan, yakni ketika kalender menunjukkan tanggal 10 November. Padahal, pengorbanan mereka tidak seharusnya hanya menjadi ingatan tahunan.
Delapan puluh satu tahun lalu, Surabaya menjadi saksi perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Indonesia memang telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tetapi ancaman terhadap kedaulatan belum berakhir. Kedatangan pasukan Sekutu memicu ketegangan, terlebih setelah terjadi sejumlah bentrokan antara rakyat dan tentara Inggris.
Situasi semakin memanas setelah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Penggantinya, Mayor Jenderal E.C. Mansergh, kemudian mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Melalui selebaran yang disebarkan dari udara, rakyat Surabaya diperintahkan menyerahkan senjata dan memenuhi tuntutan Sekutu paling lambat pukul 06.00 pada 10 November.
Namun, ancaman tersebut tidak membuat semangat perlawanan padam. Pada pagi 10 November 1945, serangan besar-besaran pasukan Inggris pun dimulai. Di tengah situasi itu, Bung Tomo menjadi salah satu tokoh yang mengobarkan semangat perlawanan melalui siaran radio. Seruannya membangkitkan keberanian rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar pernyataan yang dibacakan pada 17 Agustus, melainkan sesuatu yang harus dijaga meskipun nyawa menjadi taruhannya. Peristiwa tersebut bukan hanya tentang pertempuran antara dua kekuatan militer. Di dalamnya ada rakyat biasa yang harus meninggalkan rumah, keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, dan para pejuang yang mempertaruhkan hidup tanpa mengetahui bagaimana akhir perjuangan mereka.
Lantas, setelah 81 tahun berlalu, apa yang telah kita lakukan untuk meneruskan semangat perjuangan tersebut?
Menghormati pahlawan tentu tidak salah jika diwujudkan melalui upacara, ziarah, maupun berbagai kegiatan peringatan. Namun, penghormatan akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti sebagai rutinitas tahunan. Kita tidak cukup hanya menghafal nama tokoh, mengutip pidato perjuangan, atau mengenang tanggal pertempuran. Ada nilai yang jauh lebih penting untuk diwariskan, yakni keberanian, kejujuran, kepedulian, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan bersama.
Bentuk perjuangan generasi sekarang memang berbeda. Kita tidak lagi harus berhadapan dengan dentuman meriam untuk membuktikan kecintaan kepada tanah air. Perjuangan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjalankan amanah dengan jujur, membela mereka yang diperlakukan tidak adil, serta tidak menutup mata terhadap kesulitan orang-orang di sekitar kita.
Sayangnya, semangat semacam itu sering kali lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kita bisa begitu lantang menyebut nama pahlawan, tetapi terkadang abai terhadap nilai yang mereka perjuangkan.
Hari Pahlawan seharusnya tidak hanya menjadi kesempatan untuk menoleh ke masa lalu, tetapi juga ruang untuk bercermin. Sudahkah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan begitu besar kita isi dengan sesuatu yang berarti?
Barangkali, persoalan kita bukan kurangnya peringatan Hari Pahlawan, melainkan kurangnya kesediaan untuk menghidupi nilai kepahlawanan dalam keseharian.
Sebab, pahlawan tidak semestinya hanya hidup dalam buku sejarah, foto di dinding, atau upacara setiap November. Mereka juga harus hidup dalam tindakan generasi yang mewarisi kemerdekaan. Jangan sampai kita begitu rajin mengenang perjuangan mereka, tetapi lupa meneruskan nilai-nilai yang telah mereka tinggalkan.

Penulis: : Muhammad Khafid Muktadir (Mahasiswa Pascasarjana Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta)







