Peran Difabel di Era Revolusi Industri 4.0

0
63

Dunia telah disibukkan dengan sifat-sifat yang baru. Membesarkan dunia informasi yang berkembang dengan diiringi berkembang industri di sisinya di setiap sudut bumi berfikir keras untuk merayakan ekonomi yang telah memasukkan generasi ke-empat atau biasa disebut era 4.0. Revolusi ekonomi 4.0 dimulai sejak tahun 90-an kompilasi pertama kalinya internet dapat diakses luas di dunia penjuru dunia. Pada saat itu para ahli dunia masih belum tahu dan tidak menyangka akan efek dari internet yang begitu besar hanya dalam waktu satu dekade.
Revolusi 4.0 terfasilitasi dengan tersedia dunia virtual. Jaringan konektivitas yang mudah menggunakan digital seperti android, tablet, dan gadget lainnya yang mampu mengembangkan ekonomi bagi mereka yang dapat gadget dan bahkan hal-hal yang dapat membantu untuk pusat industri dan ekonomi yang tidak dapat berkembang globalisasi. Tidak sedikit kios-kios kecil di pusat penyimpanan besar dan cepat tidak langsung menambah angka dengan efek yang signifikan terhadap masyarakat bawah.
Efek dari revolusi 4.0 sangat terasa bagi golongan, dari muda-tua, kaya-miskin, bahkan yang normal hingga disabilitas (berkebutuhan khusus). Dari seluruh golongan masyrakat, masyarakat disabilitaslah yang perlu kami sorot lebih dalam, terutama mereka yang masih merupakan produktif. Keterbatasan fisik mereka tidak memunculkan masa depan mereka. Namun, mereka yang nondisabilitaslah yang melanggar puasa masa depan para kaum disabilitas.
Peluang bisnis dan ekonomi yang terbilang besar terutama di Indonesia Tersedia pada pemanfaatan media online, seperti media sosial; facebook, twitter, dan instagram. Pemanfaatan media sosial di masyarakat Indonesia bila kita bandingkan dengan jumlah pengguna media sosial masih sebatas terbilang sedikit. Tidak lebih dari 20% pengguna media sosial menggunakan akun mereka untuk bekerja, berbisnis, bahkan belajar. Sisanya menggunakan media sosial hanya untuk menguntit, melampiaskan emosi, hingga menimbulkan perselisihan antar kelompok dan golongan. Apakah pengguna disabilitas sendiri masih bisa dihitung dengan mata telanjang.
Sejenak kita membahas tentang disabilitas. Disabilitas menurut KBBI adalah keadaan (seperti sakit atau cedera) yang merusak atau mengubah kemampuan mental dan fisik seseorang, dengan kata lain disabilitas juga bisa diartikan orang cacat. Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1997 sendiri Tentang Orang cacat, Orang yang Berbasis Orang yang memiliki kelainan fisik dan / atau mental, yang dapat digunakan untuk Penyelesaian Kecelakaan, Penyandang cacat mental, penyandang cacat fisik dan mental.
Namun, dengan segala situasi yang tidak digunakan untuk membuat, bekerja, dan bahkan berpenghasilan. Salah satu contoh penyandang disabiltas yang berhasil menjadi miliader adalah Habibie Afsyah. Pria kelahiran Januari 1988 ini mengidap kelainan pada otot kaki dan panggul akibat penyakit becker muscular dystrophy. Namun, gagal untuk alasan itu. Ia yang ingin dunia komputer lebih memilih menggeluti dunia internet marketing.
“Jadi, aku memilih dunia internet marketing karena basic-nya aku sudah terbiasa dengan komputer dan internet,” kata Habibie dalam artikel infokomputer.grid.id pada Rabu (16/9/2015).

Dengan dukungan dari ibunya, ia lalu mengikuti kursus marketing di Singapura dengan biaya sebesar Rp. 15 juta. Berawal dari kursus itu pula Habibie berhasil mendapatkan penghasilan pertamanya dari penjualan PlayStation 3 di Amazon sebesar 24 dolar AS
Bila kita membandingkan selisih antara biaya yang ia keluarkan demi kursus Internet Marketing. Biaya tersebut terbilang sangat nekad dan masih belum sebanding dengan penghasilannya saat itu. Akan tetapi, dengan kerja keras dan ketekunan yang gigih ia berhasil meningkatkan komisinya dengan signifikan. Komisi yang ia dapatkan terus bertambah hingga 2.000 dolar AS atau bila kita bandingkan dengan rupiah setara sekitar Rp. 30 juta rupiah. Saat ini, Habibie memiliki lebih dari dua tim yang membantu bisnisnya.
Belajar dari pengalaman Habibie. Terdapat satu faktor pendukung yang sangat penting bagi kehidupan seorang penyandang difabel. Faktor tersebut ialah dukungan dari lingkungan, keluarga, sahabat, teman, hingga pemerintah. Sehingga mereka memiliki motivasi dan semangat lebih untuk berkarya dan berkembang.
Belajar dari mindset yang tertanam secara tidak langsung pada masyarakat terhadap sifat diskriminatif. Masyarakat luas harus menanamkan mindset yang berbeda terutama pada anak-anak di usia pertumbuhan. Mindset saling tolong menolong, bahu membahu, dan saling mengayomi harus lebih ditanamkan kembali.
Kembali ke era 4.0, masyarakat difabel tidak hanya hanya duduk terdiam menyesali keadaan. Mereka harus didukung dan dipandu untuk terjun langsung dalam revolusi ekonomi 4.0. Masyarakat dan pemerintah dengan semestinya untuk membimbing penyandang cacat untuk memanfaatkan dunia maya terutama media sosial. Sehingga, para penyandang disabilitas dapat ikut serta dalam revolusi ekonomi dan angka yang stabil dan stabil.

Refrensi:
infokomputer.grid.id

Penulis: M. Yusril Ihza Mastury
Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan tergabung dalam komunitas Republik Literasi serta Gubuk Tulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here