Revolusi industri 4.0 masih menjadi topik hangat yang relevan untuk dilihat dari berbagai perspektif. Termasuk melalui dunia kepenulisan, sastra dan jurnalisme. Yang menjadi pertanyaan besar adalah masihkah sastra dan jurnalisme menjadi barang antik di era ini? Atau kemudian sudah digantikan eksistensinya oleh tulisan-tulisan hoaks dan ujaran kebencian yang tengah memenuhi khazanah bacaan masyarakat saat ini. Hal ini yang kemudian menjadi kegelisahan para pegiat sastra, dan jurnalis-jurnlis di Indonesia untuk kemudian kembali membangkitakan semangat literasi masyarakat di era yang serba teknologi ini.

Kurang leih seminggu yang lalu, Gubuk Tulis Malang mengadakan Mendadak Jagongan bersama Soesilo Toer, adik dari pujangga terkenal Pramodeya Ananta Toer. Dengan tema “Sastra dan Jurnalisme di Era 4.0”. Tema ini dipilih karena kondisi kesusastraan dan juga dunia jurnalistik yang kian pudar di kalangan masyarakat millenial. Berbeda dengan era 90an dimana sastra dan jurnalisme merupakan barang mewah yang setiap pribadi berebut untuk menjadi yang terbaik dalam melahirkan karya. Sedangkan, saat ini produktifitas tulisan sastra mulai kehilangan ghirah nya, begitu pula dengan jurnalisme yang tak sedikit banyak jurnalis kehilangan jati dirinya karena terpengaruh lingkungan.

Menurut Mbah Soes, Hidup ini perihal fakta dan kenyataan, dan semua kenyataan harus diragukan. Termasuk didalamnya untuk meragukan sastra. Kenapa kemudian sastra perlu di ragukan? Karena sastra merupaka hal yang sangat komplek, bahkan dapat dikatakan multikompleks. Karena sastra tidak sebatas untuk menghibur dan meninabobokkan pembaca, akan tetapi bagaimana melalui sastra mampu untuk meledakkan semangat juang dan usaha untuk bangkit kembali bagi orang-orang yang jatuh.

Dalam buku Pram dalam Bubu,  Mbah Soes lagi-lagi menyinggung sastra. Menurutnya sastra adalah suatu bentuk pelarian. Penulis menafsirkan pelarian disini lebih mengarah pada tools atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara berbeda.  Hal ini terlihat dengan jelas di Era Orde baru. Dimana pada saat itu wartawan sangat sulit untuk bersikap kritis dalam media, sehingga mereka mengungkapakan kritik terhadap pemerintahan melalui satra, sehingga tak jarang kita temui banyak sastrawan yang juga berprofesi sebagai wartawan.

Relasi antara pers dan sastra yang sangat kuat ini sulit kita temui saat ini. Yang terjadi justru media yang bergerak di bidang sastra sulit untuk berkembang.  Kecenderungan masyarakat yang lebih senang menikmati bacaan-bacaan ringan dan tak berbau sastra dapat menjadi salah satu alasan kuat mengapa hal tersebut dapat terjadi. Selain itu, kemudahan akses teknologi dan berita juga menjadikan sastra dan jurnaisme bukan lagi menjadi barang mahal yang untuk menikmatinya memerlukan perjuangan.

Sebelum mengakhiri Jagongan Mbah soes sedikit menjelaskan agar sebagai generasi muda untuk produktif dalam melahirkan tulisan dan aktuf mengonsumsi buku-buku berkualitas, “Saya ini bukan sastrawan, tapi penulis. Sedangkan Pram adalah pengarang yang perlu memikirkan dan merenungkan apa-apa yang akan di karang, sedangkan saya bebas mau menuliskan apa saja tanpa ada tuntutan harus bagaimana. Agar menjadi pribadi cerdas pacaranlah. Saran saya pacaran dengan Busulami (Buku, Surat Kabar, Majalah,  menemukan Intisari) Namun jangan kelewatan dalam mencibta nanti justru kau kehilangan potensimu, mencintailah sewajarnya saja.  Dan terakhir teruslah melahirkan anak-anak rohaniah intelektual yang mampu mencerdaskan banyak orang.”

 

*Tulisan ini disarikan dari notulensi moderator pada acra Mendadak Jagongan Gubuk Tulis bersama Mbah Sosesilo Toer

 

Penulis:  Nuril Qomariyah

Mahasiswa Fisika di UIN Malang, mencintai sastra dan segala bentuk  kepenulisan. Baru memiliki satu anak rohaniah, yakni antologi puisi “Berbicara pada Angin”. Aktif dalam beberapa organisasi termasuk di Komunitas Gubuk Tulis, dan saat ini menjadi fasilitator Desa Sains (Kampus Desa Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here