Di era milenial tekonogi berkembang sangat pesat. Melejitnya perkembangan teknologi dari abad 19 ke abad 20 terutama gawai telah membuat babak baru terhadap peradaban manusia. Akses informasi yang semakin mudah masuk, kemudian menciptakan paradigma atau kerangka berfikir baru di masyarakat. Manusia seakan-akan diberi kemudahan dalam berkomunikasi dan beinterkasi jarak jauh dengan seseorang. Namun terkadang, dengan mudahnya fasilitas berkomunikasi manusia lupa akan interaksi dengan  orang yang ada disekelilingnya.

Berdasarakan survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta dari populasi penduduk Indonesia saat ini 262 juta. Rata-rata lama mengakses internet setiap berkisar 1-7 jam. Data ini memperlihatkan dunia maya menjadi ruang interkasi, komunikasi dan informasi penting bagi masyarakat. Di era digital sayangnya masih ada oknum yang sengaja memanfaatkan teknologi untuk membuat propoganda. Indonesia yang dianugrahi pelangi keBhinnekaan dengan hampir 17.000 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke menjadi titik rawan dari provokasi dan fitnah  bernafas kebencian di media sosial.

Di media sosial orang bisa menyembunyikan bahkan memalsukan identitas pengguna, mereka bisa menyebarkan narasi kebencian, menghujat dan memaki dengan bebas. Menjelang pelaksanaan pemilihan umum di tahun 2019 media sosial dianggp paling efektif untuk digunakan sebagai sarana kampanye, tetapi sangat disayangkan ketika kampanye yang dimunculkan di media sosial bernada provokatif dan permusuhan yang berbau suku, ras, agama dan antar golongan. Ketika berita hoaks dan konten kampanye provokatif secara masif dimunculkan di media sosial, maka akan mampu mengubah kerukunan menjadi konflik dan persatuan menjadi perpecahan. Kemudian dari propoganda di dunia maya tersebut akan membuat gesekan antar masyarakat di dunia nyata.

Tidak hanya gesekan di masyarakat, media sosial juga digunakan untuk menyebarkan dogma-dogma radikalisme, sasaran yang mereka tuju adalah kalangan muda terutama mahasiswa baru yang memasuki masa transformasi dari Sekolah Menengah Atas ke Perguruan Tinggi. Dilatarbelakangi oleh pergerakan organisasi mahasiswa yang mulai terkikis, idealisme mulai luntur. Diskusi dan kongkow-kongkow organ mahasiswa mulai sepi. Kampus sebagai kawah chondrodimuko bagi mahasiswa tidak lagi diminati untuk menciptakan pemikiran yang kritis-transformatif. Dari keadaan seperti itu kemudian dimanfaatkan kelompok konservatif untuk menyebarkan ideologi radikal kepada mahasiswa melalui media sosial. Tidak heran jika banyak mahasiswa yang kemudian membuat kelompok-kelompok kecil lalu membentuk gerakan separatisme.

HANSIP DUNIA MAYA

Dari berbagai gambaran kejadian diatas, maka saat ini gerakan yang paling relevan adalah diperlukannya hansip atau pertahanan sipil di dunia maya. Pemuda milenial harus memiliki kepekaan terhadap situasi dan kondisi yang saat ini terjadi di negeri kita terutama di ranah sosio kultural masyarakat. Ketika media sosial sudah dimanfaatkan untuk memecah belah dan memunculkan konflik di masyarakat, maka hal yang perlu dilakukan adalah siskampling medsos dengan cara penguasaan media dan kampanye perdamaian

Mengapa perlu penguasaan  media? Karena ketika media sosial sudah kita kuasai, akan mempermudah kita untuk meminimalisir penyebaran isu-isu propoganda, hoaks dan ujaran kebencian. Bahkan dari media sosial kita juga mampu membuat paradigma baru terkait nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air.  Dari media sosial kita dapat mengkampanyekan budaya kearifan lokal untuk mempertahakan identias bangsa serta menjaga marwah kesatuan dan persatuan

Mengapa generasi milenial? Karena generasi milenial adalah agen perdamaian. Generasi yang hidup di abad 20 sangat cepat dan tanggap terhadap penguasaan ilmu teknologi. Sehingga untuk merespon segala bentuk gerakan separatisme, diperlukan ketangkasaan atau agility dari generasi milenial untuk memerangi hal tersebut di media sosial. Dengan melihat kondisi minat baca generasi milenial saat ini yang cenderung berkurang, sehingga mudah melihat sesuatu hal secara positivisme. Maka untuk menciptakan generasi yang waras generasi millenial harus bisa jeli dalam menggunakan media sosial, salah satu cara dengan belajar literasi berbasis media.

Hal ini adalah langkah yang baik mengingat akhir-akhir ini radikalisme telah menjamur di negeri kita. Maka media sosial perlu kita ambil alih untuk menyebarkan perdamaian. Sehingga dengan masifnya gerakan siskampling yang dipelopori hansip generasi milenial di dunia maya  dapat meningkatkan rasa kenyamanan dengan memantau, melaporkan dan mereduksi hoaks, ujaran kebencian yang dapat mengganggu interaksi yang nyaman dan damai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here