Matamu yang nanar,…
Bahasamu yang kasar…
Dan sikapmu yang liar…
Seberapapun tajamnya, hanyalah kerikil kerikil yang akan menguatkan otot otot jari kaki kami
Keikhlasan kami bukanlah iklan atau propaganda yang memperhitungkan untung dan laba, tapi lebih dari panggilan jiwa.
Satu hal yang membuat mataku berkaca-kaca,
Ketika menyaksikan langkahmu yang tertatih-tatih memperjuangkan harapanmu, sendiri kau ayunkan tanpa dukungan.
Hingga kau tak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan.
Saat ini bagimu, menggenggam intan mungkin bukanlah keniscayaan, tapi
kelak,…
Kun fayakun Tuhan,
Siapa yang dapat menghentikan….
Oleh karena itu, teruskan langkah, ayunkan kaki kakimu, nyalakan api tungkumu.
hanguskan kekecewaan, benci, dendam dan sesal yang menyumpal, supaya harapan tidak lagi terpenggal.
Sudahlah, Nak…takkan ada habisnya jika dibicarakan.
Bila kau letih dan penat,
Tidurlah di pangkuanku hingga kau lena, sampai fajar tiba.
Kan kusulam cinta dan kasih sayang yang hilang yang tak pernah kau rasakan
Jika kelak tak ada kesempatan bagi kami untuk menggosok bongkahan batu menjadi permata,..
paling tidak, kami dapat menitipkanmu kepada semesta, agar kau tetap terjaga.
Penulis
DRA. SUKITRI
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 2 Cluring, Kab. Banyuwangi








