Amburadulnya pengendalian virus corona di Indonesia dipengaruhi oleh banyak hal. Ada sesuatu yang sebenarnya masuk dalam kategori prioritas akhirnya terserobot oleh sesuatu yang tidak esensial dikeadaan genting seperti saat ini. Banyak pula kebijakan yang akhirnya membuat semakin kacau balau penanganan virus yang viral selama 2020 ini.

Salah satu hal yang paling berperan dalam membuat virus corona menyebar sangat masif di Indonesia adalah mobilitas warga.
Bukannya pemerintah tanpa usaha, awal-awal masa pandemi, Indonesia juga turut serta menerapkan soft-lockdown yang dibungkus dengan nama program PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

Saya sebut soft-lockdown karena memang dalam penerapannya tidak seketat negara-negara lain yang memang dengan terang menamai kegiatan mereka dengan lockdown. Ada beberapa kompromi yang dilakukan oleh PSBB dibanding lockdown yang dilakukan negara-negara lain, seperti masih tetap ada orang yang bisa keluar masuk suatu daerah lain asal memiliki surat jalan dari instansi masing-masing.
Bak jagung, umur PSBB di Indonesia tidak berlangsung lama. Bahkan saat kurva pertumbuhan kasus masih terus naik, pemerintah sudah mengkampanyekan cara hidup baru yang jamak dilakukan oleh negara-negara yang sukses menangani corona. Alhasil, kegiatan mengisolasi diri yang semula diterapkan menjadi semakin longgar dan mobilitas warga juga kembali meningkat.

Mobilitas warga ini pun berakibat pada terus tumbuhnya kasus positif harian. Bahkan semakin hari, muncul “prestasi-prestasi” baru dari penyebaran virus corona di Indonesia, seperti tembusnya 3000 kasus per hari pada beberapa hari lalu. Positive rate yang dimiliki juga tergolong sangat tinggi, yakni 18%, alias dari 100 orang yang dites, 18 orang diantaranya adalah positif corona. Angka ini jauh lebih tinggi dari standar WHO yang mematok pada angka 5% saja.

Sementara jumlah orang yang masih menerapkan gaya hidup di rumah aja juga semakin turun. Pada masa awal-awal pandemi, jumlah orang di rumah nilainya lebih dari 40%, sementara saat ini sudah ada di kisaran nilai 30%, sesuai data yang dihimpun tim dari fakultas kesehatan UI baru-baru ini.

Memang bisa kita katakan bahwa penanganan corona di Indonesia ini sangat tidak ketat, mulai dari aturan yang gampang bobol, tidak adanya satuan yang selalu mengingatkan untuk menerapkan protokol kesehatan tiap hari sampai hukuman-hukuman remeh layaknya main-main. Hal ini menjadi gambaran jelas tentang sikap dari peraturan yang disusun pemerintah memang tergolong sangat lembek, cenderung main-main dan banyak mengutamakan citra di mata publik.

Dalam tulisan ini saya akan utarakan satu contoh aturan yang aneh secara logika sains tetapi tetap dijalankan dan tentu menyumbang tingginya angka mobilitas masyarakat selama masa pandemi.
Aturan yang saya maksud adalah surat keterangan non-reaktif rapid test untuk syarat jalan.

Mungkin sudah banyak di antara kita yang tahu bahwa rapid test yang beredar di Indonesia saat ini memiliki akurasi yang rendah. Hal ini dikarenakan target pendeteksi yang digunakan adalah antibody. Hal ini sangat berbeda dengan tes standar virus corona yang menggunakan PCR. perbedaan mendasar dari PCR dan rapid test antibody adalah jenis target. Sampel untuk tes PCR adalah lendir pasien yang diambil di tenggorokan atau lubang hidung, PCR akan mendeteksi langsung pada virus target. Sehingga kalau kita umpamakan dengan sebuah kejadian kecelakaan, tes PCR akan mengkonfirmasi sumber utama atau saksi kunci suatu kejadian, bisa seorang yang jadi korban kecelakaan atau orang yang dengan jelas melihat kejadian.

Sementara rapid test adalah tes yang pengukurannya tergantung pada antibody yang tumbuh dalam tubuh ketika tubuh terserang virus. Antibody sendiri tidak ujuk-ujuk muncul, perlu waktu antara virus mulai berinang di suatu tubuh sampai antibody muncul, sehingga saat masa awal inkubasi, saat tubuh sudah terkena virus tetapi antibody belum muncul, rapid test akan non-reaktif meskipun tubuh sudah terserang virus.

Hal ini yang membuat rapid test tidak akurat, karena ia menunggu antibody muncul, ia tidak melakukan tes atas virusnya langsung, tetapi melakukan tes atas respon tubuh ketika ada virus yang masuk. Ibarat kata, tes ini akan menerima info dari orang kedua, bukan saksi utama.

Yang jadi aneh, rapid test digunakan untuk syarat jalan ketika kita mau bepergian, misal dengan kereta atau pesawat.

Apa yang aneh? Terletak pada flow chart-nya.

Yang terjadi saat ini adalah orang diperkenankan terbang ketika hasil rapid test-nya non-reaktif, sementara ketika hasilnya reaktif tidak diperkenankan bepergian.

Apa yang aneh, bukankah ini sudah sesuai dan tepat?

Itu aneh dan salah. Mari kembali pada prinsip rapid test, apa yang ia deteksi dan cara kerjanya.

Harusnya, logika yang digunakan seperti ini; ketika orang yang rapid test reaktif, dia jelas sudah terinfeksi virus dan tidak diperkenankan ke mana-mana. Perlunya cek PCR hanya untuk memastikan dan memasukan data (barangkali ada syarat dari WHO bahwa yang bisa dikatakan positif hanya ketika melalui tes PCR, hanya itu saja). Saat rapid test sudah reaktif, artinya masa inkubasi virus sudah berlangsung lama karena sudah muncul antibody.

Lalu ketika hasil rapid test non-reaktif, harusnya prosedur selanjutnya adalah segera lakukan tes PCR. karena kemungkinan non-reaktif itu ada dua; satu, ia memang tidak membawa virus corona dan dua, ia membawa tapi belum muncul antibody. Sehingga, kalau ada yang non-reaktif, harus segera dirujuk PCR, untuk memastikan kebenaran kondisi pasien.

Bukan malah dibiarkan bepergian. Karena, sekali lagi, non-reaktif adalah kondisi di mana keadaannya masih fifty-fifty, jangan membiarkan orang dengan kondisi tak pasti untuk bepergian. Eh ini malah kondisi tak jelas digunakan syarat untuk jalan-jalan

Sementara yang terjadi di Indonesia ini kan beda. Ketika rapid test ini reaktif, orang-orang gak percaya “pokok kita hanya mau PCR, kita harus nunggu hasil resmi PCR”, giliran non-reaktif dikiranya dia baik-baik saja.

Sungguh logika yang kebolak-balik dan dilanggengkan dengan legal formal pemerintah.

Kok ribet banget? Kok ketat banget? Kalau begini, gimana bisa bepergian?

Jawabannya di esai selanjutnya, tetap di rumah aja ya 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here