Feminisme, kata yang sering kita dengar akhir akhir ini bukan? Pernahkah kalian mendengar kata feminis? Seksis? Misoginis?. Yaaah itu adalah kata kata yang sering diucapkan atau istilah yang ada dalam faham feminisme.

Banyak orang yang tidak setuju dengan faham ini, namun tidak sedikit pula yang mendukungnya. Sebenarnya apa sih feminis itu?

Feminisme bisa diaktakan sebagai gerakan, aliran atau faham yang mengajak kepada keadilan, menentang diskriminasi kepada salah satu jenis kelamin manusia. Feminis berasal dari kata feminim yang berarti kasih sayang, rasa cinta dan kasih sayang dari seorang perempuan. Para pejuang feminis tidak hanya memperjuangkan hak-hak perempuan saja, namun juga hak laki-laki, karena relasi laki-laki dan perempuan merupakan kunci keseimbangan bumi. Dalam hal ini mengapa harus memakai kata feminis? Hal itu identik dengan perempuan. Karena kasih sayang dan cinta kasih dari seorang perempuan tidak memandang jenis kelamin, seperti ibu yang mencintai anak-anaknya. Selain itu ada hak-hak perempuan yang tertindas, mulai dari beban ganda, stereotip, marginalisasi dan lain sebagainya, itulah yang menjadi salah satu alasan munclnya faham ini, dimana perempuan tidak mendapatkan haknya sebagai manusia.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menolak atau menentang faham ini?

Mungkin mereka beranggapan bahwa feminis itu adalah faham para perempuan yang ingin berkuasa dan bermaksud untuk menindas laki-laki, dan ada yang berangagapan feminisme sebagai upaya perempuan mengambil alih dunia. Bukan.. bukan itu yang dimaksud oleh feminisme, feminisme memperjuangkan keadilan untuk manusia. Memperjuangkan perempuan untuk diperlakukakan sebagai manusia, mungkin terdengar aneh bagi teman-teman yang belum bisa menerima itu… gerakan feminis merupakan gerakan yang sudah dinanti lama agar perempuan mendapatkan haknya sebagai manusia.

Kalau dilihat dari perkembangannya, perempuan di Indonesia masih dianggap sebagai warga negara kelas dua, bahkan beberapa keluarga merasa belum afdol kalau belum punya anak laki-laki, yang paling parah perempuan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu seksual laki-laki saja. Misalnya kalau ada perempuan yang diperkosa, bukannya diperhatikan, dibina agar trauma hilang, malah bertanya pakaian apa yang dia kenakan, apakah dia ikut menikmati atau tidak? Saat itulah korban disalahkan, sedangkan pelaku bebas melenggang.

Feminis hadir memperkenalkan faham-faham keadilan, kesetaraan dan keharmoninsan relasi laki-laki dan perempuan. Karena feminis memberikan kebebasan kepada perempuan, bukan bebas tanpa aturan,  bebas disini berarti perempuan bebeas memilih pekerjaan apa yang mereka inginkan, bebas memilih makanan apa saja yang ingin mereka makan, dan bebas memilih apa saja sesuai haknya sebagai manusia. Bebas masih dalam lingkup yang tidak keluar dari norma agama dan adat yang mereka yakini, bebas dalam arti melakukan kebebasan dan hak sebagai manusia, layaknya laki-laki.

Karena beberapa perempuan hanya mempunyai keinginan, tanpa bisa merealisasikan. Keinginan hanya sebatas keinginan karena terbentur norma-norma sosial yang melarang mereka untuk mengejar apa yang mereka inginkan.

Negarapun tidak pernah membedakan hak warag negara nya berdasarkan jenis kelamin, dalam UUD 1945 dalam Bab Hak Asasi Manusia, tidak ada pengecualian hak untuk laki-laki maupun perempuan. Agama pun tidak membedakan laki-laki dan perempuan, karena berdasarkan agama yang saya yakini, Tuhan hanya membedakan seseorang melalui ketaqwaan, bukan jenis kelamin.

 

Penulis: Nur Fitriani

Aktivis perempuan bergerak. Senang menulis tentang perempuan dan telah menerbitkan buku dengan judul “Melacak Jejak Keadilan Perempuan”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here