Botol minum, sedotan, kantong kresek, bungkus makanan ringan dan lain-lain yang terbuat dari plastik saat ini harus dikendalikan penggunaannya, karena diketahui memang plastik tidak cukup baik ketika berada di lingkungan, dia terlalu stabil.

Tapi tulisan ini bukan untuk membahas ketika plastik menjadi sumber bencana biota laut. Semisal data tentang paus meninggal yang perutnya penuh sampah atau ribuan bahkan jutaan ikan kecil yang tak sengaja menelan mikro plastik. Tidak, tidak soal itu. Karena urusan bumi kotor bukan salah si plastik, tetapi salah kita sebagai manusia kenapa tidak mau membuang dan mengelola plastik dengan benar.

Kalau kita fokus pada plastik, mari kita bicarakan saja soal kenapa dia sulit sekali hancur. Bahkan diperkirakan plastik terurai memakan waktu sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Sungguh waktu yang tidak singkat.

Untuk mengetahui kenapa plastik begitu sulit didegradasi, mari kita mulai mengenal dulu apa itu sebenarnya plastik.

Plastik adalah polimer, dan dari polimer ini memiliki banyak sekali jenis. Kalau kita lihat di pantat botol minum, di sana tertera banyak jenis plastik, diberi kode 1, 2, 3 dan seterusnya. Yang paling umum untuk botol minum, biasanya mengunakan jenis polimer 1. Kalau mau gugling, kode satu ini merujuk pada jenis polimer “Polyethylene Terephthalate”.

Polimer adalah hal yang harus kita kenal terlebih dahulu dalam memahami studi kasus ini. Polimer bersumber dari dua suku kata, yakni “poly” yang artinya banyak dan “mare” yang artinya bentuk. Sehingga kalau aku mau gatuk-gatukkan, polimer adalah sekawanan zat kimia yang bentuknya sama, berjumlah banyak dan mereka membentuk rantai yang panjang. Saling taut menaut antara satu bentuk dengan bentuk yang lain.

Oke, sampai situ saja informasi yang ilmiah, selanjutnya mari kita bahas dengan lebih sederhana dengan sesuatu yang bisa kita andaikan dengan melihat kejadian di sekitar kita. Mari dimulai.

Saya punya contoh yang –menurut saya- baik untuk dapat menjelaskan apa itu polimer. Seperti keterangan di muka, bahwa polimer adalah susunan bahan kimia yang bentuknya sama dan berjumlah banyak. Nah, ini mirip dengan tentara. Kalau kita lihat, tentara adalah sekawanan orang pilihan yang memiliki bentuk hampir-hampir mirip. Tidak hanya karena diberi seragam yang sama, tetapi tentara memiliki postur tubuh yang mirip.

Nah, yang membuat tentara menjadi contoh yang baik adalah karena tentara memiliki sifat korsa yang kuat, sifat setia kawan.

Bayangkan semisal tentara itu hanya sendiri, tentu bisa dengan cukup mudah ditaklukkan. Mau diserang dari depan, belakang, samping dan atas, tentu bukan perkara yang cukup menyusahkan. Bahkan kalau misal musuhnya adalah seseorang yang tidak terlatih, tetapi dengan jumlah yang lebih banyak, masih besar kemungkinan tentara sendiri itu bisa ditaklukkan.

Tetapi coba kalau tentara itu jumlahnya puluhan, ratusan atau bahkan sampai ribuan. Apalagi mereka memiliki strategi dalam menyerang dan bertahan. Adanya keselarasan stategi ini tentu dibangun dari jiwa korsa yang sudah tertanam. Tentara dilatih sakit bersama, lapar bersama, capek bersama. Satu dengan yang lain sudah bak saudara yang akan tidak rela kalau yang lain kesusahan. Ikatan emosional inilah yang membuat tentara semakin kuat, dan semakin lihai menerapkan stategi berperang.

Ditekan dengan serangan yang keras pun, tentara masih bisa bertahan dan tidak mudah tumbang.

Ya begitulah polimer. Satu tentara itu bernama Ethylene Terephthalate, tetapi saat menjadi sekawanan tentara yang kuat dengan jiwa korsa, namanya menjadi Polyethylene Terephthalate, mendapat kode 1 di setiap botol minum. Tentara disatukan dengan jiwa korsa/kesetia kawanan yang kuat, dan monomer disatukan dengan ikatan kovalen antar bentuk (mare) dan membentuk polimer.

Tentara seperti itu juga kan? Sendiri bernama –misal- Rudi, tetapi saat masuk ke kelompok menjadi pasukan merah putih.

Kekuatan tentara selain karena individunya sendiri yang sudah kuat, tetapi juga karena kelihaian bekerja bersama. Nah inilah yang seperti plastik. Tingkat kekuatannyatidak hanya bergantung pada jenis monomare (tentara tunggal) tetapi tergantung juga pada jenis ikatan rantai (jiwa korsa) yang digunakan.

***

“Kalau plastik baru bisa terurai ratusan tahun, berarti jiwa korsa mereka kuat sekali ya?”

“Ya tentu”

“Lalu bagaimana cara menghancurkan mereka, masak semua harus menunggu selama ratusan tahun?”

“Tentu tidak juga, ratusan tahun itu keadaan alam, semisal ada keadaan khusus, dia bisa dihancurkan atau dikalahkan. Kembali ke contoh tentara, kalau musuh tentara ini kuat dan lihai memainkan strategi pertahanan tentara, tentu tentara bisa kocar-kacir dan kalah”

“Ooo jadi ada ya cara agar plastik bisa terdegradasi dengan mudah, dengan cara apa semisal?”

“Dibakar, plastik dibakar kan rusak dan membuatnya hacur berkeping-keping, tidak perlu menunggu ratusan tahun”

“Iya juga si, tetapi kan membakar plastik tidak solusi, akan muncul masalah baru dari gas buangnya yang beracun”

“Ya memang benar, akan muncul masalah baru, tapi pertanyaanmu kan hanya soal bagaimana menghancurkan plastik, soal hasil degradasi yang harusnya juga aman untuk lingkungan adalah hal yang lain lagi”

“-_-”

***

Plastik adalah benda yang memang memiliki sifat dasar stabil di alam, sehingga ya dia selow banget bertahan hidup di dunia, manusia wes do sambat, dia sek selow ae.

Selama ini, yang merusak plastik di alam adalah bakteri dalam tanah. Sayangnya bakteri ini hidup perlu air, sementara plastik kedap air. Hal ini yang membuat proses degradasi semakin lama. La piye, bakteri ini menyerang pertahanan plastik saja belum. Kok membahas kapan plastik rusak.

Ini kayak musuh perang tentara adalah orang yang phobia senjata api. La piye, sama senjata api ae gemeter, kok pengen mengalahkan tentara.

Tetapi, saat ini tentu ada banyak sekali metode degradasi plastik, tidak hanya dipasrahkan pada bakteri tanah, semisal kita mengelola panas atau tekanan. Panas dan tekanan yang tepat akan menghancurkan pertahanan tentara.

Ya seperti contoh percakapan tadi, kenapa plastik hancur saat kenak api, karena ini seolah-olah tentara mendapat musuh godzila, ya tentu ra nyucok to bos, tentu tentara mudah sekali kalang-kabut berkelahi musuh godzila.

Jadi untuk dapat musuh yang sepadan, tentara harus memanggil ultraman dalam menghadapi godzila.

Nah polimer kuat seperti ultramen yang tidak cepat kalah dengan panas ini contohnya seperti ban atau body rangka motor. Mereka polimer yang lebih kuat dan tahan panas.

***

“Ooo jadi ban dan body rangka motor itu polimer juga? Jadi sulit didegradasi juga ya?”

“Ha mbok piker, wkwkwk, polimer ini teman kita sehari-hari, banyak yang kita manfaatkan bahkan bermesra-mesraan. Jadi, saudaranya plastik yang saat ini kita salahkan dan menjadi sebab rusaknya ekosistem alam itu wakeh, mung kita ndak sadar ae”

 

Ilustrasi by: Aula Zahrotin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here