Teringat waktu masih kecil di kampung, diajarkan kalau ada seseorang yang sedang  marah, apalagi sampai-sampai tampak sulit mengendalikan amarah, dianjurkan untuk beristigfar. Istighfar, istighfar, istigfar, begitu biasanya para sepuh berujar mengingatkan seorang yang lagi emosi. Begitulah yang diajarkan Kanjeng Nabi disamping anjuran untuk berwudhu jika sedang marah. Bahkan saat khilaf dan melakukan perbuatan yang memicu kemarahan Tuhan pun, kita diingatkan agar memohon pengampunan pada Tuhan atas dosa yang diperbuat dengan beristighfar.

Paling baik memang tidak harus menunggu berbuat dosa untuk banyak-banyak beristighfar. Karena manusia tempatnya khilaf dan salah, terlebih sering lalai pada apa yang seharusnya dikerjakan dan yang mana sebaiknya dihindari – terutama hal-hal yang jangan didekati. “Tiada tempat lagi yang dituju melainkan satu-satunya hanyalah kepada Dia.”

Tuhan memberi kesempatan pada kita, bahkan “bermurah hati” ditunjukkan dengan sifat-Nya yang Rahman-Rahim, selalu menanti dan menunggu hamba-hamba-Nya kembali “bersujud”. Memohon  ampun dan mengadu mecurahkan segala kerisauan, kegundahan, kegalauan juga problem kehidupan yang terasa teramat sangat…, istilah  kekinian curhat begitu. Tapi akhir-akhir ini, di zaman akhir yang mana teknologi dianggap berada di puncak kejayaannya – dalam bidang informasi-komunikasi muncul fenomena baru – di mana ada semacam peralihan “orbit rotasi” dalam mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran. Dari mengadu kepada Tuhan, bergeser mengadu pada makhluk, sampai yang terbaru dan terlaris – teknologi menjadi sasaran tembak kegalauan yang notabene bikinan manusia sendiri.

Telah kita lihat, baca dan dengar, berapa banyak orang-orang lebih suka dan terang-terangan curhat dan mem-posting di media social. Dari masalah keluarga: suami-istri, orang tua-anak dan mertua-menantu. Tak jarang ada yang curhat atau mem-posting tentang kekasih yang selingkuh (PIL-WIL), perselisihan harta warisan, masalah  di sekolah, hal-perihal di kantor, maupun masalah di tempat-tempat pelayanan publik. Dan masih banyak curhatan-ciutan di media sosial dari yang sepele, ringan-ringan, menengah, berat sampai super pedas dapat kita saksikan beredar luas di dunia maya. Mungkin keadaan seperti itu masih bisa dibicarakan, didiskusikan dan tak dipungkiri terbuka peluang dicarikan pemecahan solusi yang paling baik secara pribadi, kekeluargaan juga  musyawarah tanpa harus melibatkan khalayak khususnya warganet.

Toh. bukankah manusia sebagai makhluk sosial, sebenarnya tidak menyukai kalau ada yang mengetahui atau membocorkan rahasianya? Apalagi rahasia tersebut ada unsur aib bila  tersebar. Tak sekadar menulis kerisauan yang mengganjal terasa gatal kalau tak disebarkan ke warganet. Postingan yang ditulis, terkadang tidak banyak yang mampu menghindar dari lirih angin sepoi kepentingan, ketidaksukaan dan ketidaksepahaman.

Apalagi dan ­– semoga saja tak sampai terjadi –, jika apa-apa yang diposting disebabkan “kipasan” unsur kebencian, tetapi rasanya jarang perihal begitu tidak terjadi. Kalau menulis sebuah laporan atas suatu kejadian, atau mahasiswa membuat laporan “Tugas Praktek Kerja”, biasanya disertai dengan gambar-gambar sebagai penunjang laporan pada lampiran. Begitu juga yang banyak berlaku pada alur pusaran media sosial  sekarang ini, agar lebih bisa menggugah rasa tertarik dan penasaran orang-orang yang membacanya lumrah terjadi curhatan dan ciutan yang ditulis di media sosial, disertai dengan gambar dan video yang saja mungkin sudah di-edit sesuai selera penggugah.

Oh ya, sekadar intermezzo, kadang saya bertanya pada diri sendiri, adakah orang-orang yang entah sengaja atau tidak, memposting gambar atau video akan keadaan dan suasana kamar keluarga (kamar utama) rumah mereka dengan segala isi perabotnya. Mungkin bagi kebanyakan orang, hal itu lumrah dan wajar saja selama tidak ada unsur melanggar kode etik UU IT, terlebih yang diunggah gambar atau video kamar rumah sendiri. Akan tetapi bagi orang desa seperti saya, itu serasa ganjal atau kalau agak ekstrim boleh dibilang ‘tabu’. Sebagai anak desa – diajarkan seorang anak yang ingin masuk ke dalam kamar orang tua harus izin, pamitlah!. Apalagi sampai kamar utama dibuka biar tamu bisa melihat, wah itu pantangan!. Ya sekali lagi!, itu hanya sekadar intermeso bagi saya sendiri atas pertanyaan sendiri.

Kembali pada fenomena maraknya curhat, ciutan atau postingan yang sama-sama telah diketahui di dunia maya, sebenarnya itu mengindikasikan apa? Atau mengapa timbul kecenderungan lebih asyik curhat di media sosial?

Apakah sebagai manusia, kita tak lagi merasa nikmat dan kehilangan kemesraan saat berdoa, memohon, mengadu atau curhat pada-Nya? Atau terkadang sebagai makhluk memang salah paham akan cara, metode atau formula Tuhan menjawab doa-doa kita? Sudah sebegitu nyaman dan percayakah sama media sosial? Ataukah memang sedang kebingungan di pusaran zaman, hingga ingin menarik banyak simpati orang lain ?.

Mungkin tanpa disadari, semua kehebohan yang lalu-lalang dan terbang menjelajahi media sosial sekadar memenuhi hasrat biar popular, punya rating tinggi, menjadi pusat perhatian dan topik utama berita. Atau sekadar ikut trend life style yang jadi perbincangan publik dan semacamnya. Semua itu umum terdengar dan lazim diucap, jika boleh meminjam istilah sekarang viral atau trending. Jadi teringat kata-kata zaman edan, mungkin sebenarnya sedang mabuk di pojok pusaran zaman global, tetapi merasa biasa-biasa saja. Semoga tidak linglung!.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here