Kalau kamu beli susu, biskuit, margarin, permen, bedak, minyak goreng dan apapun yang diproduksi oleh pabrik, kamu berhak mendapat informasi tentang tanggal produksi, kadaluarsa dan informasi nutrisi. Karena hal itu dapat menjadi salah satu pertimbangan yang dapat digunakan oleh konsumen untuk menentukan mau membeli produk yang mana.

Memperhatikan tanggal produksi itu penting nggak?

Ya penting dong!.

Emang ada diantara kita yang akan memiliki pendirian seperti ini “aku beli gorengan di mbok Sri aja, di sana gorengannya sudah dingin semua, gorengan jam 3 pagi. Enak gak panas, gak usah nyebuli

Ya ada lahhhh, katanya gak mau memutlakkan sesuatu!

Iya iya ada. Tapi dikit, Heuheu

Tapi setjara subjektif, teman-temanku lebih sering ngajak aku beli gorengan di warungnya mbok Yuyun, yang terkenal gorengannya baru digoreng, masih pada anget dan kriyes-kriyes.

Ya kira-kira seperti itu lah, kenapa kita perlu memperhatikan tanggal produksi dari suatu produk. Oke ya, simpel ya, simpel dong. Sekarang kita lanjut, ke informasi nutrisi di bungkus makanan dan disambung dengan perbincangan tentang tanggal kadaluarsa.

Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama-sama, kalau di produk makanan tertulis, misal “mengandung 500 mg vit C”. apakah itu pasti di makanan itu mengandung 500 mg vit C?

Ya iyalah!, kan tulisannya emang gitu, kalau gak percaya itu, mau percaya siapa lagi!

Sek sek, ra usah ngegas, hehe

Coba cek tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa dulu. Kalau di sana tercantum tanggal produksi September 2015 dan tanggal kadaluarsa September 2019 dan sekarang sudah September 2018. Apa iya masih 500 mg kandungan vit C-nya? Produk itu sudah pergi dari gudang pabrik 3 tahun yang lalu lo, dan tahun depan sudah kadaluarsa. Emang ada makanan basi yang kadar nutrisinya masih pas sama persis dengan saat dia dikeluarkan dari pabrik? Yo gak to.

Makanan yang kadaluarsa artinya makanan itu sudah rusak, bisa secara fisik, biologi dan kimia. Secara fisik, misal jelly sudah gak kenyal, tapi sudah encer. Secara biologi, seperti kandungan bakteri di roti sudah terlalu banyak. Secara kimia, seperti air minum yang sudah gak seger karena terlalu sering diletakkan di bawah sinar matahari, artinya kondisi dan komposisi H2O dan mineral-mineral yang terkandung di sana sudah berubah.

Nah, pertanyaan selanjutnya, perubahan-perubahan itu berjalan berlahan-lahan atau langsung jeglek/mak bedunduk/sak jek sak nyuk?

Pakek contoh gorengan ademnya mbok Sri aja ya. Apakah gorengan anget itu perlahan-lahan menjadi adem atau selalu anget dan pas ketika kadaluarsa tiba-tiba jadi adem? Lak perlahan-lahan to.

Kalau gorengan digoreng pukul 7.00, ya jam 8.00 masih lumayan baik lah, meskipun sudah gak terlalu hangat, tapi masih ada kriyus-kriyusnya. Kalau sudah jam 9.00 dan 10.00 sudah semakin adem dan gak kriyus-kriyus kan, nah, apalagi sudah jam 14.00, jangankan adem, gorengan itu ya pasti udah letoy.

Nah, produk yang dikeluarkan pabrik/industri ya gitu, menuju kadaluarsa itu prosesnya gak ujuk-ujuk rusak, tapi sejak pertama kali diproduksi, kandungan nutrisinya perlahan-lahan berkurang dan parameter kadaluarsa secara fisika, biologi dan kimia perlahan-lahan meningkat.

Jadi, makanan yang kita bicarakan tadi sudah tak tepat 500 mg kandungan vitamin C-nya. Gak terus mentang-mentang karena produksi pabrik, lalu menggunakan kaidah ujuk-ujuk. Nasib produk olahan pabrik juga sama seperti gorengannya mbok Sri yang perlahan-lahan adem.

Sudah semakin jelas ya, pentingnya kita melihat tanggal produksi, nilai nutrisi dan tanggal kadaluarsa?

Jadi jadi jadi..

Kalau nganter temen cewek belanja di Indomerit terus mereka pilih-pilih barangnya lama, ra usah protes berlebih, mungkin mereka sedang menghitung jumlah kandungan nilai gizi yang masih tersisa di produk yang mau dibeli.

Tuh kan, tuh kan, tuh kan. mulai stereotip lagi, dikira yang rewel saat beli hanya cewek, katanya sudah belajar gender, huffttt

Iya iya, maaf, khilaf.. Yang rewel tak hanya cewek, siapapun bisa berpotensi rewel

Eh mas, kalau makanan tadi sudah tak mengandung vitamin C sebesar 500 mg, kenapa jualnya dengan harga yang sama seperti saat barang itu baru keluar dari pabrik, yang kira-kira nutrisi masih sangat dekat dengan 500 mg?

Ehh iya juga ya, harusnya dapat kompensasi ya. Nutrisi udah berkurang, udah setahun lagi kadaluarsa, harusnya harga lebih murah ya. Ehh, tapi gorengannya mbok Sri tetep 500 rupiah per gorengan tuh meskipun belinya udah jam 15.00 dan kondisi gorengan udah pada letoy

Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here