It’s okay not to be okay adalah drama yang menceritakan tentang kisah asmara yang menjadi penyembuh luka emosional di kehidupan masa lalu, dibintangi Seo Ye-Ji sebagai Go Moon-Young; Kim So-Hyun sebagai Mong Kang-Tae yang memiliki seorang kakak penyandang autis yakni Mong Sang-Tae yang dibintangi oleh Oh Jung-Se. Drama Korea ini sedang popular dalam beberapa pekan. Go Moon-Young berprofesi sebagai penulis dongeng anak-anak. Kang-Tae berprofesi sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa dan kakaknya, Sang-Tae, berprofesi sebagai freelance illustrator. Kang-Tae dan Sang-Tae tinggal di rumah sewa milik ibu temannya yang sangat ramah dan mengerti kondisi Sang-Tae.

Semasa kecilnya, Kang-Tae sangat membenci ibunya, sebab ibunya selalu lebih memperhatikan kakaknya, Sang Tae. Ketika sedang makan jjampong bersama, ibunya lebih memperhatikan Sang-Tae, begitu juga ketika tidur bersama, ibunya memeluk Sang-Tae. Pada suatu hari, ibunya sedang memeluk Kang-Tae dan berkata, “Kamu harus melindungi kakakmu, itulah mengapa Ibu melahirkanmu.” Kang-Tae pun merasa sedih.

Suatu hari ibunya menemui luka memar pada Sang-Tae, Ibunya sontak memarahi dan memukul Kang-Tae sebab ia dinilai tidak becus melindungi kakaknya. Padahal, saat itu Kang-Tae ingin memberi tahu ibunya betapa bahagianya ia telah berhasil menempuh ujian sabuk merah taekwondo. Kang-Tae pun marah, “Aku ingin dia mati saja!”

Suatu saat, Kang-Tae membaca dongeng Kisah Hidup Zombie karya Go Moon-Young:
Di sebuah desa kecil lahirlah seorang anak laki-laki yang memiliki kulit pucat dan mata besar. Saat anak itu bertambah besar, sang ibu menyadari bahwa anak laki-laki ini tidak memiliki perasaan. Dia hanya memiliki nafsu makan seperti zombie. Sang ibu mengurung anaknya di ruang bawah tanah untuk menghindari penduduk desa. Setiap malam, sang ibu memberinya makan dengan hewan ternak yang dicurinya. Hari ini, ia mencuri ayam. Hari esok, ia mencuri babi. Dia melakukannya bertahun-tahun. Hingga suatu hari wabah menyebar membuat semua hewan ternak mati. Banyak orang yang meninggal. Orang yang selamat pergi meninggalkan desa. Sang ibu tidak bisa meninggalkan anaknya. Demi meredakan rasa lapar anaknya, Sang ibu memberikan salah satu kakiknya, kemudian salah satu tangannya. Setelah kaki dan tangannya, hanya tubuhnya yang tersisa. Sang ibu memeluk anak itu untuk terakhir kalinya dan memberikan sisa tubuhnya. Dengan kedua tangannya anak itu memeluk erat tubuh ibunya dan berbicara untuk pertama kalinya, “Ibu, kau hangat sekali”

Setelah membaca dongeng itu, Kang-Tae menangis teringat masa kecilnya, yaitu ketika ia sedang tidur, ia melihat ibunnya memeluk Sang-Tae, ia menghampiri ibunya untuk memeluknya juga dan ia baru sadar bahwa tubuh ibunya sangat hangat.

Suatu hari, pasien Rumah Sakit Jiwa tempat Kang-Tae bekerja tiba-tiba kabur. Kang-Tae pun mengejarnya. Pasien tersebut membuat gaduh pada acara kampanye calon parlemen Kwo Man Soo. Ternyata pasien itu adalah anak dari Kwo Man Soo. Lalu, pasien itu dipukuli dan dimarahi ibunya, “Jadilah anak berguna!” Pasien tersebut hanya tertawa saja. Ia sangat bahagia sebab baginya pukulan ibunya tanda bahwa ibunya masih sayang dan masih memperhatikannya. Kang-Tae pun tertegun, ia teringat ibunya saat memukulinya karena dianggap tak becus melindungi kakaknya. Apakah itu juga tanda bahwa ibunya sayang padanya?

Kang-Tae selalu merasa sedih ketika ia teringat perlakuan ibunya terhadap dirinya. Kemudian, Kang-Tae mengajak Jang-Tae minum bersama di atap rumah. Tiba-tiba Ibu pemilik rumah menghampirinya, lalu berkata, “Menjadi ibu itu tak mudah apalagi yang dialami oleh ibumu, ditingal ayahmu dan dan harus mengurus dua anak yang satunya seperti kakakmu.” Kang-Tae pun teringat momen saat ibunya memperhatikan Sang-Tae ketika makan jjampong bersama, jjampong rasanya pedas dan Sang-Tae tak begitu tahan dengan rasa pedas itu, sedangkan ibunya tetap mengajaknya ke restoran itu karena Kang-Tae sangat menyukai makanan tersebut.

Menjadi ibu bukanlah hal yang mudah. Seringkali kita menilai ibu selalu serba salah, kurang memperhatikan kita atau pilih kasih dengan saudara kita. Tetapi sebenarnya terkadang kita sendiripun tidak paham mengapa ibu melakukan hal-hal tersebut, hal-hal yang menurut kita tidak adil. Saat dewasa nanti, akhirnya kita bisa menyadari dan memaklumi, ibu hanyalah manusia biasa, it was her first time being a mother. Itulah kenapa ibu selalu salah dimata kita. Karena menjadi ibupun tidak bisa instan. Perlu ada proses yang harus dilalui. Dan dialog antara ibuk dan anak sangatlah penting. Dengan begitu, antara ibu dan anak dapat saling memahami kondisi satu sama lain. Jika ada ketidaksempurnaan padanya, maka maafkanlah. Memaafkan, melakukan dialog bersama dan saling memahami keadaan adalah proses menumbuhkan relasi yang positif dalam keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here