Malang, Satu persatu pegiat literasi yang tergabung dalam Tebar Baca Keliling berdatangan. Mereka berkumpul di kantor Tugu Media Group, Jl. Dirgantara, Sawojajar, Kota Malang. Beberapa dari mereka membawa buku-buku, permainan tradisional, dan alat mewarnai.
Semuanya bersiap menuju sebuah desa di lereng Bromo, timur kota Malang. Desa dengan ketinggian 1.200 mdpl ini bisa ditempuh sekira 45-60 menit dari Kota Malang.
Desa Taji terkenal dengan kopinya. Selain kopi ada juga jagung, sayur, pisang, dan lainnya. Di bidang peternakan, warga desa ini juga menggantungkan diri pada ternak sapi.
Jarum jam sudah di angka 07.30 WIB, waktunya bergegas keliling desa Taji. Berangkat dari Sawojajar, melewati Asrikaton Pakis, terus masuk ke wilayah Jabung, ditunjukkan plang Coban Jahe. Setelah perjalanan cukup jauh di persimpangan Coban Jahe dan Desa Taji, jalan semakin naik curam berkelok. Di depan mobil Hyundai yang kita kemudikan, tiba-tiba ada mobil bak di depan kendaraan kita berhenti. Sopir mobil bak pun meminta kita untuk mundur dan putar balik.
“Balik ae Mas, dalane licin, gak iso munggah. Dari pada onok opo-opo,” begitu lontar pengemudi mobil bak.
Seketika rombongan kami memikir ulang untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Taji. Alhasil, kami memilih mundur dan putar balik, karena memang perjalanan kita masih cukup jauh dengan medan jalan sempit, berliku, licin, dan mendaki. Koneksi internet pun hilang. Kabarnya Sukron, pemilik Kopi Taji sekaligus peraih pemuda pelopor bidang pangan 2021 itu sudah mengumpulkan anak-anak di sana.
Kita berjanji akan ke Desa Taji. Selebihnya, kita melipir terlebih dahulu di Kopi Kecek. Di Kopi Kecek kami berdiskusi untuk agenda berikutnya, sembari menikmati kopi, teh, dan gorengan. Dua anak-anak, Kylla dan Leti pun senang bisa berkunjung ke Kopi Kecek, mereka pun menikmati coban atau air terjun di lingkup Kopi Kecek.
Tiket masuk Kopi Kecek terbilang murah, 5.000,- perorang dan 10.000,- untuk parkir mobil. Makanan dan minumannya terjangkau dengan imbalan suasana gemericik air dan segarnya kecek-kecek di aliran air terjun, serta ridangnya pepohonan.
Beberapa jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) di desa Sukopuro, kecamatan Jabung – milik Eko Cahyono. Perpustakaan ini berdiri sejak Orde Baru, 1997. Ratusan ribu buku terkoleksi di sana.
Sesampai di sana, kita disambut ramah oleh tamu lain, nampaknya dari IPNU-IPPNU kecamatan Jabung. Tentu pula disambut ramah oleh Mas Eko, sapaan akrab pemilik PAB. Di sana kita lebih banyak berdiskusi dan bermain, serta mengenal beberapa jenis tanaman obat yang ada di taman kawasan PAB.
Mas Eko mengaku bahwa dirinya sudah banyak berjejaring dengan lembaga lain dalam urusan perbukuan ini. Sudah banyak pula wartawan yang menceritakan tentang riwayatnya dan PAB. Selain sebagai Pustakawan, Mas Eko juga menggeluti olahraga lari. Berangkat dari cita-citanya dulu yang ingin menjadi pelari.
“Sudah banyak asam manis, suka duku dalam membangun PAB. Kadang juga ada konyol dan lucunya.“ Tambahnya Pustakawn peraih Kick Andy Awards satu ini.
PAB kini berusia 25 tahun. Berdiri di lahan sekitar seperempat hektar. Dengan ratusan ribu buku, penghargaan, dan pujian dari berbagai pihak.
Tebar Baca Keliling ini diinisiasi oleh Gubuk Tulis dan Tugu Media Group, serta pendukung lain dari Perempuan Bergerak, Penerbit Kota Tua dan Duta Damai Jawa Timur.










