Bebas berpikir dan menciptakan kreasi, itulah esensi dari pendidikan yang sesungguhnya. Tanpa adanya kebebasan maka eksplorasi atas suatu objek pengetahuan tidak akan pernah ada. Begitu pula tanpa adanya kreasi, jelas tidak akan ada penemuan-penemuan baru, seperti smartphone yang kita nikmati saat ini.
Saya sedikit paham kekhawatiran beberapa sahabat hipster, mereka mengeluh jika pendidikan mereduksi daya imajinasi dan kreasi mereka. Tidak hanya itu saja, beberapa orang tua juga melihat jika pendidikan kini, semakin hari semakin tidak mutu. Karena para orang tua merasa, jika pendidikan hari ini semakin condong pada reduksi bakat dan minat. Tidak ada yang baru kecuali menterinya, tiap ganti menteri kurikulum selalu berganti, tapi tetap wataknya sama yaitu tidak memanusiakan manusia.

Kemarin saja, seorang siswa curhat mengenai lelahnya mengikuti ujian, jadwalnya padat dan lelah secara fisik serta psikis. Entah orientasi seperti apa yang dijalankan oleh pembuat kebijakan, kurikulum yang sepenuhnya tidak mendukung daya kembang anak. Parahnya dalam pendidikan tinggi juga sama, mahasiswa hanya dijadikan seseorang yang biasa-biasa saja. Mengerjakan sesuatu yang tidak substansial seperti PKM (yang tak jarang bertolak belakang dengan disiplin ilmu), bahkan menjadi agen kampus untuk menaikan derajatnya. Inilah era korporasi pendidikan, di mana bersaing satu sama lain. Jelas, melenceng dari apa yang namanya pendidikan untuk memanusiakan manusia.

Sekolah dimaknai sebagai tempat seseorang menjadi pintar, dapat ranking dan nangkring sebagai pegawai negeri maupun swasta bergengsi. Tujuan dari sekolah hanya mendapatkan ijazah, terlihat intelek dan dihormati tetangga. Namun yang paling menjengkelkan ialah sekolah untuk merubah derajat seseorang. Dari yang anak petani kemudian dapat beasiswa, lalu menjadi ahli di bidang misalnya pertanian. Si orang tua akan menuntut anaknya bekerja di perusahaan besar seperti Monsanto, Indofood atau PNS, minimal membahagiakan mereka dengan tawakal dan istiqomah ikut CPNS. Langgam berpikir seperti ini umum kita jumpai, mengapa demikian?

Jika kita merunut secara historis, kejadian itu merupakan sebuah dominasi kebudayaan (hegemoni). Di mana saat era Orde Baru pandangan-pandangan seperti itu dikonstruksikan, wajar saja memang pendidikan itu jalan untuk mendominasi. Pertama konstruksi politik, menurut Yudhistira (2013) era politik orde baru saat itu ialah pembangunan dan dominasi kekuasaan, di mana struktur masyarakat seperti sebuah hirarki dalam keluarga bercorak patriarki. Di mana sang bapak dominan, sang anak harus menuruti sistem yang dibuat oleh bapak. Sampai urusan cita-cita akan menjadi soal yang harus dikonstruksikan, apalagi dalam pembangunanisme dibutuhkan banyak sumber daya manusia. Maka tak heran jika cita-cita terdahulu ialah menjadi tentara, insinyur dan dokter semua untuk mendukung pembangunan. Jikalau ada yang menjadi PNS, tak lebih juga karena “dogma” mengabdi pada negara dan sisi komersial ingin hidup dalam tataran hirarki yang terhormat.

Selanjutnya kebudayaan menurut Geertz (1973) merupakan sesuatu yang bersifat publik, dihasilkan dari interaksi yang terangkai secara historis, lalu menjadi sebuah wadah di mana manusia terkungkung di dalamnya. Kebudayaan di sini adalah konstruksi hasil kesepakatan manusia, yang terangkai dalam proses cipta dan karya. Begitu pula ketika mengutip Edward Said (1995 dalam Yudhistira, 2013) yang mengatakan kebudayaan ialah hasil dari proses sejarah dan tradisi yang berlangsung cukup lama.

Itulah mengapa konstruksi orde baru begitu mendominasi, sampai pada level pendidikan yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendukung politik pembangunannya. Sehingga menciptakan kepatuhan-kepatuhan dan cita-cita yang tidak organik. Sisa-sisa konstruksi semacam itu masih kita jumpai, bahkan tidak serta merta hilang ketika era reformasi muncul sebagai pembaruan.

Transformasi pendidikan di era reformasi juga sangat terpengaruh oleh arah politik di era reformasi. Kita bisa melihat mengapa sistem rangking, kompetisi masih dipertahankan ? Secara sederhana itu bagian dari corak ekonomi politik sekarang. Menuntut seseorang untuk kompetitif, agak egois, cukup individualis agar sesuai dengan iklim pasar bebas. Secara menakutkan ini akan menciptakan klasifikasi sosial, lihat saja di sektor buruh ada penyebutan buruh dan karyawan padahal esensinya sama. Lalu, bagaimana stigma pada mereka yang mempertahankan budaya misal suku di Papua, Samin di Jawa Tengah dan Badui di Jawa Barat, mereka akan menganggap sebagai masyarakat yang anti kemajuan. Karena yang mereka lihat pekerjaan yang hebat itu dikontrak dan berseragam, budaya yang keren itu suka kemewahan, tak peduli eksploitasi dalam bentuk apapun, baik individu maupun alamnya.

Hal itulah yang menjadikan, sekolah menjadi tempat yang sedemikian mengerikan. Pola-pola tersebut terajut mutakhir namun sebenarnya tidak baru. Student loan misalnya pernah ada di tahun 80an, atau model kompetisi itu lahir di era Orde Baru. Sekarang langgam pendidikan masih sama, hanya berbeda kulit saja. Paling yang membedakan hanyalah status sekolahan yang terakreditasi, internasional, nasional atau tidak. Pendidikan sekarang hanya bagaimana kita “berjualan.”

Ini hanya pendapat berdasarkan pengalaman. Ki Hadjar dalam kumpulan karyanya tentang pendidikan (Jilid 1, cetakan ketiga 2004) mengemukakan bahwa pendidikan itu disesuaikan dengan minat dan bakat berprinsipkan kemanusiaan dan berorientasi kepada kemerdekaan. Seperti berdiri di kaki sendiri, tidak menggantungkan pada orang lain dan dapat mengatur hidupnya sendiri. Bukan individualis di sini, tapi melihat pada independensi diri dalam bersikap serta menentukan diri sendiri. Kemudian secara mendasar untuk membangun independensi yang berkarakter, beliau menekankan pada prinsip budi manusia, baik budi pekerti dan keluhuran budi manusia. Mendidik manusia ke arah kolektivitas, manusia-manusia sosial yang peduli sesama, itulah pendidikan humanis Ki Hadjar yang pernah diterapkan di Taman Siswa.

Pendidikan bukan menciptakan robot, menciptakan predator tapi menciptakan manusia yang memanusiakan manusia. Adanya kekerasan di sekolah, baik oleh murid, wali murid atau guru merupakan dampak dari pendidikan yang masih tidak berubah langgamnya. Guru dari generasi lama masih ditempatkan sebagai sosok tunggal yang dominan, murid dalam era kekinian memiliki keberanian, wawasan luas serta pemikiran yang cukup skeptis. Itulah yang tidak pernah diakomodasi oleh sekolah, era perkembangan manusia telah mutakhir tapi pendidikannya masih sama. Kemudian ditambah dalam pemutakhiran pendidikan yang juga tidak mutkahir, karena apa ? tidak melihat kebutuhan dan condong masih diskriminatif.

Pendidikan merupakan kunci dari pondasi pembangunan suatu masyarakat. Apa kalian tahu ? Kerusakan alam yang begitu masif juga dipengaruhi oleh pendidikan ? Itu ada hubungannya dengan dominasi budaya yang saya sebutkan di isi artikel ini. Bagaimana mau mempertahankan alamnya, jika secara budaya dialienasikan dari budaya endemiknya. Begitulah kerja pendidikan sebagai sarana dominasi (hegemonik). Semakin tidak mutunya pendidikan menandakan bahwa demokrasi kita masih “sakit.”

Referensi
Yudhistira, Aria. W. Kamis, 2 Mei 2013. Anak-Anak Orde Baru dan Indonesia Sekarang. Dipublikasikan oleh Etnohistori.org. http://etnohistori.org/anak-anak-orde-baru-dan-indonesia-sekarang-esai-oleh-aria-wiratma-yudhistira.html
Geertz, Clifford James. 1973. The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books Inc. Publishers.

  • Penulis: Wahyu Eka S. (Walhi Jawa Timur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here