“Moral value : ingatlah bagaimana pahlawan memperjuangkan indonesia dan bagaimana pak habibi mencintai indonesia maka manfaatkan waktu luang terutama saat liburan untuk kegiatan yang bermanfaat :)”

Apa kabar liburanmu, Sayang?

Tanya Pak Habiebie pada kita semua generasi muda.

Apakah masih sama dengan liburan-liburan kita sebelumnya? Menghabiskan waktu untuk shopping, menghabiskan waktu untuk nonton, nge-game sampai tak kenal waktu, begadang di depan TV, bangun kesiangan, bangun makan, kemudian tidur kembali. Apakah masih sama seperti itu?

Jika masih begitu-begitu saja, mungkin kita belum sepenuhnya move on. Laykanya mantan liburan tipikal seperti itu sudah seharusnya kita buang. Masih ingat postingan kita  tentang memanfaatkan liburan untuk mensucikan diri? Kunjungi linknya https://gubuktulis.com/ketika-holiday-bermetamorfosa-menjadi-holy-day/

Udah baca kan? Nah, liburan kali ini sedikit upgradelah kulitas liburan kita. Agar tidak begitu-begitu saja. Layaknya sebuah hubungan, mungkin kita perlu klarifikasi untuk meneguhkan komitmen pada ranah yang lebih serius. Iya serius. Kamu juga perlu seriusin kehidupan pribadimu terlebih dahulu sebelum kemudian melangkah untuk serius dengan orang lain. (Eittss.. kok malah baper -_-)

Oke kita lanjut bahas tentang liburan yang berfaedah, versi pendidikan. Why pendidikan? Disadari atau tidak, pendidikan kita (Read: Indonesia)masih berkutat untuk melahirkan pemikir yang tekstual, dan tak pernah mau berfikir secara kontekstual, dengan semisal mengerti lingkungannya sendiri. Masih jauh pendidikan kita perlu berbenah, untuk kemudian melahirkan Ilmuawan yang memiliki jiwa memimpin bangsa seperti Habiebie , melahirkan Kiai yang memikirkan rakyat dan bangsanya dengan ikhlas seperti Gus Dur, melahirkan seorang raden ajeng yang turut memikirkan nasib perempuan lainnya seperti Raden Ajeng Kartini. Ya Indonesia, nampaknya perlu generasi-generasi penerus yang tak hanya hobi bergosip dan ngomongin politik, tapi ketika ditanya Apa kabar Indonesia saat ini? Ia tak tahu harus menjawab apa.

Terkadang kita yang mempunyai gelar sebagai mahasiswa, enggan untuk menyapa masyarakat dipinggiran ketika liburan. Kita yang anak seorang petani, enggan kesawah. Kita yang anak seorang ustadz, enggan untuk datang ke surau. Kita yang anak seorang guru, enggan mengajarkan ilmu. Lalu, untuk apa kita kuliah hingga memiliki sederet title, ar.jika ketika kembali ke kampung halaman, kita hanya mendekam di kamar, dan acuh pada lingkungan sekitar. Kita jauh memilih menuntaskan serial drakor favorit daripada sekedar mengajarkan membaca kepada anak-anak tetangga, yang notabene tertinggal dalam pendidikan. Kita akan menghabiskan pagi saat liburan di depan TV, dan mengabaikan ajakan orang tua untuk sekedar menengok tanaman di sawah, yang padahal kita tahu, dari sanalah kita bisa hidup dan bersekolah hingga saat ini.

Masihkah liburan kita seperti itu?

Mungkin selama di kampus, kita sudah menjadi mahasiswa yang terkenal, mengikuti berbagai turnamen olahraga, jadi delegasi pertukaran pelajara, asisten dosen, dan menajadi duta kampus, tapi apakah ketika pulang kembali ke rumah selama liburan kita hanya menjadi anak rumahan, yang makan, tidur dan nonton saja rutinitasnya? Sungguh, unfaedah sekali bukan?

Eiittss.., Tunggu dulu. Ini masih pagi. Come on! Wake Up Guyss!

Kalian tak ingin bukan mimpi para pendahulu melihat Indonesia lebih maju kandas, karena generasi kita? Sekarang berbenahlah, setidaknya dari skala kecil kita sebagai seorang mahasiswa yang tengah menikmati liburan di rumah masing-masing. Kita dapat melakukan banyak hal, bukankah kita mempunyai gelar agent of change? Ya. Mari kita ubah dunia, setidaknya dari dunia sekitar kita terlebih dahulu.

Kita dapat membuka Taman Baca gratis untuk tetangga-tetangga kita sendiri, kita dapat melakukan penyuluhan kesehatan, memberikan sosialisasi pola hidup sehat, kita dapat membuat alat menanam bibit dengan lebih efisien, kita dapat memberikan pengajian terkait hal-hal ibadah. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana itu bukan? Kita yang mahasiswa jurusan pertanian, sastra, sains, bahkan agama, tentu memiliki banyak sekali pemikiran inovatif yang dapat kita aplikasikan dilingkungan kita. Sederhana menurut kita, tapi tidak untuk mereka. Ya bagi mereka tetangga-tetangga kita yang masih awam dengan ilmu pengetahuan, hal diatas sangatlah bermanfaat. Bahkan bisa jadi itu adalah amal jariah kita.

Jadilah bermanfaat, jika tak mampu untuk dunia, bermanfaatlah untuk negaramu sendiri, jika masih tidak mampu, bermanfaatlah untuk kotamu sendiri, jika tidak mampu bermanfaatlah untuk desamu sendiri, jika masih tidak mampu, bermanfaatlah pada tetanggamu sendiri, jika masih tidak mampu, intropeksi dirilah!

 

Pict by: Aula Zahrotin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here