Kabar virus corona menimpa Wuhan di Tiongkok sudah sampai di tangan kami. Saya dan kawan-kawan di tempat kami bekerja terus membahasnya. Meski, kami tidak ada yang memiliki latar belakang medis atau hubungan internasional.

Kami terus membahas dengan berbagai sumber yang kami baca. Termasuk mentautkan beberapa referensi yang pernah kami baca.

Isu corona di dunia saat itu memang belum menyentuh Indonesia, versi pemerintah. Justru beberapa pejabat berkelakar jika di Indonesia tidak ditemukan virus itu.

Dalam diskusi kecil, kami sudah berpendapat seharusnya ada langkah antisipasi. Minimal memberikan pengetatan di titik yang menjadi lalu lalang orang dari luar negeri. Misal, bandara atau pelabuhan. Tapi, itu tidak terjadi.

Hari itu akhirnya tiba, WHO mengumumkan virus corona sebagai pandemi pada Rabu 11 Maret 2020. Sebab, jumlahnya orang yang terjangkit mulai banyak dan terus tertambah. Bahkan, korban yang meninggal akibat virus ini juga tinggi.

Di awal Maret pula, Presiden mengabarkan ada dua orang Indonesia yang terjangkit virus ini. Awalnya di daerah Depok. Kemudian kabar terus berlanjut. Hingga akhirnya mulai tersebar ke beberapa titik. Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya.

Pemerintah dituduh lamban dalam bersikap. Tapi, meski pemerintah sudah diberikan arah agar semua orang mengurangi aktivitas di luar rumah, faktanya orang-orang masih saja belum tergerak melakukan itu.

Bahkan, masih saja ada kelompok yang masih belum yakin virus ini menyebar dan mematikan. Berdalih dengan berbagai macam teorinya. Termasuk orang-orang yang menggunakn dalil agama untuk tetap beraktivitas di luar rumah. Bersikap biasa saja. Bahkan, tetap berkerumun dengan jumlah massa yang besar.

Padahal, mereka para pemuka dan pemikir agama telah mengkaji dan memberi fatwa agar tetap menjaga diri serta orang lain.

Saya melihat kepanikan itu terjadi di perkotaan. Semua masyarakat kota yang hitung-hitungan mulai mengkalkulasi hidupnya. Berapa aset yang harus diselamatkan. Uang cash harus disipkan. Membeli segala kebutuhan.

Mereka khawatir jika kelak karantina kesehatan dilakukan mereka tak bisa makan. Mereka yang kaya khawatir berlebihan akan melakukan aksi borong bahan-bahan yang dianggap itu bisa menyelamatkan dirinya. Misalkan masker hingga cairan pencuci tangan yang mengandung alkohol itu. Buktinya sekarang cukup langka.

Disaat seperti ini saya ingat pesan para sesepuh. Mereka bilang, “Sak rekoso-rekosone urip kuwi enek neng ndeso.” Artinya, sesengsara-sengsaranya hidup itu lebih baik berada di desa.

Desa yang dimaksud bukan desa yang telah berlinang dana desa dan masuknya budaya perkotaan dan teknologi. Melainkan desa yang masih tetap menjaga budaya, adat hingga tindak-tanduknya.

Di desa, pada umumnya akan hidup berdamai dengan alam. Niat menguasai lahan itu tidak banyak muncul di desa. Jika pun ada mereka pasti pernah mencicipi manisnya hidup di kota.

Jika kelak semua orang harus membatasi diri tidak boleh keluar lingkungannya karena virus corona. Maka, orang-orang desa yang setidaknya paling aman. Dengan catatan, para perantauan kota tidak perlu kembali ke desa untuk sementara waktu. Kita sama-sama saling jaga.

Begitu juga masyarakat desa, mereka yang orang lawas tidak akan pernah punya bayangan untuk pergi ke kota selain ke kota Mekkah. Mentok, mereka akan datang ke pasar. Jika pasarnya sudah tradisional maka yang dijual hanya hasil kebun dan kebutuhan lainnya.

Sekali lagi, bayangan saya tertuju pada masyarakat desa yang tetap ndesani.

Dari masyarakat desa kita bisa belajar tentang berbagi. Di desa, jika satu keluarga tidak punya cabai atau bawang merah. Sangat biasa sekali akan berkunjung ke samping atau depan rumahnya lalu meminta. Mereka biasa seperti itu. Saling berbagi.

Saat pagebluk datang di desa. Semua sigap. Tidak ada yang saling menyalahkan. Mereka akan taat pada tetua yang ada di sana. Jika memang ada ritual yang akan digelar. Mereka akan menggelarnya. Termasuk adanya larangan. Mereka akan patuh.

Terkadang, larangan zaman lawas itu terbawa hingga sekarang. Larang-larangan yang kadang tidak masuk akal itu benar-benar dijalani oleh masyarakat desa.

Kini, kita harus sadar diri. Adanya pandemi virus corona mari kita belajar dari masyarakat desa yang ndesani itu.

Pertama, kita taat dengan arahan yang sudah ditentukan. Yakni menjaga diri. Hidup bersih dan tidak bertemu dengan orang lain untuk sementara waktu.

Tidak sombong. Ini penting. Kadang kita angkuh atas kondisi kita yang sehat. Mari belajar dari masyarakat desa yang hidupnya biasa-biasa saja. Jika mereka sehat saat diminta jaga diri ya mereka akan jaga diri. Jangan mendekat di sumur keramat. Mereka juga tidak akan mendekat.

Kemudian jangan kemaruk atau serakah. Jadi, tidak perlu memborong sembako. Mari kita saling berbagi dengan orang lain. Yang dulu kita tidak pernah melihat tetangga kita di sekitar perumahan sudah saatnya kita bergerak bersama. Yang kaya membantu yang tidak punya. Jika perlu tidak usah akad hutang. Saat pagebluk orang desa akan neriman dengan memakan yang dia punya.

Mari sama-sama belajar dari mereka dari desa yang ndesani itu. Intinya menahan diri. Dengan begitu ekonomi akan tetap stabil dan yang terkena virus tidak terlalu banyak. Semoga pagebluk ini segera hilang. Mari kita berdoa bersama. Dan bersama-sama melawan corona.

Salam Cah Ndesa sing Ndesani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here