World happines report mencatat indeks kabahagian suatu negara dari ukuran kesejahteraan, keadilan sosial dan pemerataan pendidikan serta masih banyak lainnya. Hasilnya cukup mengejutkan, Finlandia berhasil menggeser Norwegia di klasmen teratas. Finlandialah yang memperoleh negara paling bahagia di bumi.

Menurut PBB, Finlandia telah menduduki predikat negara paling stabil, aman dan dengan pemerintahan terbaik di dunia. Finlandia juga termasuk negara yang paling tidak korup dan berkeadilan sosial. Kepolisiannya paling terpercaya dan memiliki keuangan yang sehat.

Meik Wiking dari Happiness Research Institute mengatakan bahwa PDB per kapita di Finlandia lebih rendah dari negara-negara tetangga Nordik dan jauh lebih rendah daripada AS. Orang-orang Finlandia pandai mengubah kekayaan menjadi kesejahteraan.

“Di negara-negara Nordik pada umumnya, kita membayar sebagian dari pajak tertinggi di dunia. Namun ada banyak dukungan publik untuk itu karena orang menganggapnya sebagai investasi dalam kualitas hidup untuk semua orang. Pendidikan kesehatan dan universitas gratis tetap bertahan selama menyangkut kebahagiaan,” tambah Wiking. 

PBB juga memeriksa tingkat kebahagiaan imigran dari setiap negara. Finlandia lagi, mencetak angka tertinggi terkait kebahagiaan imigran. Finlandia telah melompat dari tempat kelima ke puncak peringkat tahun 2019, dalam tingkat kebahagiaan imigran. Hal itu berdasrkan  Laporan Kebahagiaan Dunia tersebut.

Adapun setelah Finlandia, negera paling bahagia di bumi disusul oleh Denmark, Norwegia, Island, Belanda,Swiss, Swedia, New Zealand, Kanada dan seterusnya. Berdasarkan video yang penulis lihat dari world economic forum, negara tersebut bahagia dengan pola hidup harmonis dengan alam, tingkat keamanan yang tinggi, pemerintah demokratis, sosial masyarakat yang terbuka, berkeadilan gender, porsi kerja yang berimbang dengan bertamasya, dan lainnya. 

Kebahagiaan itulah sebuah kemerdekaan yang nyata, dari diri manusia hingga dalam sebuah tingkatan negara. Akan tetapi, di mana posisi Indonesia saat ini? Sudahkah Indonesia menuai kebahagiaannya di usia ke tujuh puluh empat ini?

Ukurannya sangat sederhana, di negeri yang sangat plural seperti Indonesia ini- sudahkah menerapkan keadilan gender, ras, hingga orientasi seksual. Di mana indeks keadilan gender di Indonesia cukup rendah di ASEAN. Berdasarkan laporan The Global Gender Gap Report yang pada 2017, Indonesia bertengger di peringkat enam dengan indeks kesetaraan gender sebesar 0,691. Indonesia kalah oleh Filipina yang berada di puncak dengan skor 0,790. Studi pembanding lain menyebut, capaian yang Filipina raih termasuk menonjol di Asia, selain Singapura.

Isu itulah yang perlu menjadi perhatian bangsa ini, di usia yang cukup belia sebagai bangsa. Di mana harapan dan doa menuju bangsa yang unggul. Unggul menuju bangsa yang merdeka dan bahagia. Salah satunya adalah merdeka atas diskriminasi, dan menjadi bahagia tanpa membeda-bedakan – menjatuhkan.

Penulis punya kisah menarik hasil obrolan dengan Prof John Roosa, kemarin, saat perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Kala itu, kita mendiskusikan kopi yang ia beri dari Kanada. Kopi yang dibawanya sebagai oleh-oleh buat penulis.

John menceritakan bahwa kopi Allegro yang ia beri adalah kopi dari Kanada, pabriknya di Amerika. Kopi itu punya sejarah menarik. Sebagaimana yang tertulis di kemasannya, “The Ali Forney Center (AFC), based in New York City, is one of the largest agencies dedicated to helping LGBTQ homeless youths in the country- assiting nearly 1400 youths per year through a 24 hour drop-in center.”

Kopi Allegro itu berasal dari Amerika dan sebagian keuntungannya diperuntukkan untuk membantu LGBTQ yang tidak punya rumah. Di mana mereka yang diusir oleh orang tuanya atas orientasi seksualnya itu. Sehingga dia menjadi orang terlantar.

LGBTQ tidak sepenuhnya diterima di Amerika, di sana juga terdapat diskriminasi terhadap LGBTQ. Sebagian orang Amerika menganggap LGBTQ adalah hal yang berdosa atau tidak wajar. Sehingga, tidak ada kata lain selain mendeskriditkan dan membuang mereka ke jalanan.

Tentu hal serupa akan heboh di Indonesia. Bahkan tidak ‘akan’ lagi, tapi sudah heboh. Sebagaimana fatwa Abdul Somad, ia mengatakan bahwa para pembeli kopi Starbucks sama dengan ‘mendukung LGBTQ dan karenanya akan masuk neraka’. Abdul Somad kembali jadi bahan perbincangan karena menyebut bahwa pembeli Starbucks artinya mendukung LGBTQ dan akan masuk neraka.

Anwar Abbas, tokoh Muhammadiyah, tahun 2017 juga meminta pemerintah menarik izin operasi Starbucks karena dukungan mereka terhadap LGBTQ tak sesuai dengan ideologi negara. Seruan pemboikotan disambut media sosial dengan puluhan ribu tagar ‘boikot Starbucks’.

Karena kopi kopi itulah, diskusi kami berlanjut sampai perpolitikan Amerika. Bagaimana kondisi di Amerika di bawah pimpinan Trump. Bagaimana partai politik berkelakar atas kondis warga negaranya.

Sangat menarik perbincangan kami. Politik rasial tengah menggerogoti Amerika secara sistematis. Di mana pemerintah mampu mengatur sekat sekat rasial dengan batasan teritori – Amerika Selatan lebih dikenal dengan rasisnya dan Amerika Utara lebih terbuka dengan semua kelompok. Bahkan, setiap Minggu Trump berpidato di berbagai daerah untuk menguatkan diskriminasi rasial secara inplisit. Tidak hanya itu, warga Amerika berkulit putih berkumpul dalam satu teritori yang sangat eksklusif.

Pertarungan politik di Amerika sangat lugas, ada dua partai besar di dalamnya- Republik dan Demokrat. Partai republik sangatlah kuat dengan diskriminasi  rasnya- ada narasi kebencian terhadap kelompok sosial tertentu, seperti kulit hitam, muslim, yahudi, LGBTQ, hingga orang Meksiko. Sedangkan demokrat lebih terbuka dengan semua itu- meskipun ada sedikit yang rasis. Sedangkan partai kecil seperti partai libertarian dan hijau lebih banya terdistribusi di partai demokrat- dan membuat demokrat lebih bergejolak. 

Berbeda dengan Indonesia, partai politiknya lebih heterogen- sulit diprediksi. Banyaknya partai politik Indonesia tidak menunjukkan warna yang jelas, serta keberpihakan yang jelas- setiap orang bisa keluar masuk sesuai kepentingan politiknya masing-masing. Itu yang membedakan partai politik di Amerika dan Indonesia.

Indonesia akhir ini juga mengalami gejolak politik berbau rasial. Ada diskriminasi terhadap suatu golongan. Beberapa yang kena imbas dari diskriminasi itu di antaranya adalah non muslim, bukan putra daerah, anak PKI, LGBT dan seterusnya. Gejolak itulah yang membuat partai politik atau politisi abu-abu melaksanakan tugas dan keberpihakannya kepada rakyat.

Jauh sebelum perpolitikan akhir ini dengan fenomena 212-nya. Di Malang, ada seorang waria bernama Merlyn Sopjan dengan kekeh ingin membuktikan bahwa waria bisa dan harus mendapat posisi setara dalam politik. Akhirnya dia berkeinginan mencalonkan diri sebagai wali kota Malang tahun 2003, akan tetapi gagal. Akan tetapi, dia tidak menyerah- kemudian dia mencalonkan sebagai caleg DPRD kota Malang, meskipun gagal. 

Stigma masyarakat tentang kaum LGBT yang selalu negatif, membuat Merlyn ingin menunjukkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa tidak ada yang salah dengan pilihan hidup sebagai kaum pelangi. Hal ini juga ia tegaskan dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam acara yang berkonsep debat itu, ia menegaskan bahwa tidak selamanya kaum LGBT adalah negatif. LGBT tidak melulu soal seks belaka. Yang perlu dipermasalahkan adalah mereka yang mengumbar seksualitasnya di publik.

Begitulah kisah demi kisah diskriminasi terjadi lintas peradaban manusia. Mampukan bangsa ini melihat dengan mata kemanusiaannya. Sehingga kita mampu menjadi bangsa yang unggul tanpa diskriminasi, agar supaya kemerdekaan dan kebahagiaan kita dapatkan secara berjamaah. 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here