/1/
Jayapura jelita yang menggendong kenangan berat kolonialisme Belanda meringkuk: tubuhnya yang jenjang melingkar di teluk — saat malam erat memeluk.

Muntahan-muntahan cahaya listrik — berusaha berpendar cantik – lalu tersungkur di air teluk yang tenang tak berkutik. “Segala kesan tentangku, petik!”, ujarnya melalui angin yang pulang ke bukit-bukit hijau yang menampik terik.

/2/
Jauh setelah Ortis de Fretes melukis jejak, Sachse lantas melanggengkan tapak di pergantian abad penuh gejolak. Maka sejarah kolonial ditanam di sini — di dok-dok kota Jayapura. Penuh gedung tua masa Hollandia yang setia melayani — tuan dan puan yang silih berbeda: siapa pegang kuasa. “Meski yang baru terus muncul di sini — tetapi tekaplah abadi yang Belanda”, gumamku mengitari Soekarnopura. Hingga gelap memanggil cahaya — memindahkan lembar kalender di dinding ruang kantor kotapraja.

Lereng-lereng bukit hijau dan pantai yang memeluk teluk masih seia sekata — konon sejak kolonial Belanda sampai zaman merdeka. Kecipak alun ombak yang selamat lolos dari samudra selalu jadi saksinya. Juga siluet cahaya-cahaya lampu yang senantiasa berkaca di jernih air teluk Jayapura. “Kubuang kata-kata karena aku ingin mereguk nikmat malam kota Jayapura”, batinku. Malam menunggu — juga minuman dan makanan yang malas bergoyang bersama lagu.

/3/
Di dalam burung besi berdua di atas ketinggian langit Papua kubayangkan kecantikan Jayapura. Melongok jendela memandang semburat fajar merah dari ufuk timur yang membuka hari — dan bantalan-bantalan mega tebal di lengkung cakrawala — lalu lanskap topografis yang hijau di atas tanah berkontur bukit-bukit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here