Al Muiz Liddinillah
Gembar- gembor literasi digital yang menyesaki layar gawai seolah masyarakat kini telah mencapai kecakapan luar biasa perihal literasi. Sebelum pandemi menyerang, literasi menjadi isu yang viral, hingga negara kelabakan mengimbangi geliat masyarakat di dalamnya. Belum juga tuntas memformulasikan gerakan literasi, kini masyarakat diajak menyelami literasi digital itu sendiri.
Penulis teringat kutipan Djoko Saryono dalam status Facebooknya beberapa hari lalu. Ia menulis yang pada intinya; literasi dasar saja kita belum khatam, sudah dijejali dengan literasi 4.0, bahkan kini dijajakan dengan literasi 5.0.
“Mungkinkah literasi 4.0 diparalelkan dengan nama revolusi industri 4.0 dan literasi 5.0 diparalelkan dengan masyarakat 5.0. Betapa hiruk pikuk gerakan literasi dan kegiatan literasi telah menimbulkan akrobat kata-kata semaunya, serampangan, dan tanpa dasar,” tambah guru besar sastra Universitas Negeri Malang tersebut.
Kita ketahui bersama bahwa literasi menjadi elan vital penunjang keberhasilan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi dengan rumusan yang serampangan tanpa refrensi seperti itu, apa bisa literasi digunakan sebagai konsep besar membangun pendidikan?
Jauh sebelum pandemi, gerakan literasi telah bergeliat dari gang ke gang. Kesadaran milenial dalam menginisiasi Taman Baca Masyarakat pun meningkat. Hal itu, penulis saksikan sendiri saat di kota Malang.
Bahkan, pemerintah sempat membuat program baik, free cargo literacy dari kemendikbud. Tapi, kemudian mekanisme pengiriman buku donasi untuk pengembangan literasi di beberapa daera diperrumit dengan mekanisme baru, bahwa setiap pengiriman buku harus melalui kementerian itu, jadi tidak langsung tik tok dengan POS Indonesia.
Kabar buruknya lagi, per-Maret 2021 ini, program kirim buku donasi ke taman baca diberhentikan. Sudah tidak ada lagi kegiatan donasi buku setiap 17 Agustus. Apakah berarti, keadilan akses literasi di berbagai daerah sudah berjalan?
Penulis tidak yakin betul, tidak yakin bahwa literasi sudah tersebar merata dari hulu ke hilir. Kota mungkin lebih beruntung dari pada peradaban literasi di desa. Dari sanalah, sudah ada kesenjangan literasi.
Singgungan pedas dari Djoko Saryono memanglah benar, literasi dasar di Indonesia saja belum tuntas, tapi seakan mau menari di atas kahyangan. Masyarakat belum merasakan keadilan literasi itu sendiri, yang paling dasar adalah distribusi buku. Infrastruktur perbukuan belum berjalan dengan baik dan merata.
Cobalah tengok kehidupan anak di desa, jangankan di desa, di kota pun bolehlah pembaca tengok pula. Seberapa dekat mereka dengan buku. Lebih dekat mana mereka dengan buku atau gawainya. Apakah yang dimaksud literasi digital itu literasi yang bersumber dari gawai saja.
Tentu itu anggapan yang salah kaprah. Gawai bukanlah bagian utama dari literasi itu sendiri, gawai hanyalah medium untuk mencapai kecakapan literasi. Cakap dan terampil dalam membaca apa yang ada di gawai, cakap dan terampil dalam pemanfaatan gawai, dan cakap dan terampil dalam penggunaan alat-alat yang ada di gawai.
Literasi digital, atau yang lebih ngawang, literasi 5.0. Istilah yang dibangun dan dipasarkan ke masyarakat ini apakah sudah dari pengkajian yang benar-benar komprehensif. Atau hanya buat gaya-gayaan saja.
Apakah literasi 5.0 ini ada sejarahnya, atau hanya konsep kabur. Misal saja, literasi 5.0 ini bermula dari literasi 1.0 tentang keterampilan seorang kancil mencuri timun, literasi 2.0 tentang kancil yang tobat tak lagi mencuri timun, literasi 3.0 tentang kancil yang mulai mencuri uang karena ia tahu bahwa uang lebih berharga dari timun, dan literasi 4.0 tentang kancil yang mulai menabungkan uang hasil curiannya ke bursa saham atau crypto.
Jika tidak ada sejarah atau asal muasal tibanya literasi 5.0, mending pakai saja literasi tak terhingga, atau bisa disimbolkan ~ . Jadi, langsung saja biar terlihat canggih dan tak kalah dengan masyarakat antariksa, gunakan saja literasi ~ . Siapa tahu, dengan literasi tak hingga itu bisa langsung melejit mengatasi masalah literasi di Indonesia; serba kekurangan buku, masifnya pembajakan buku, hilangnya bahasa lokal, dan lemotnya jaringan internet.
Bagi penulis, jika masih saja ada kesulitan literasi seperti itu, tidak perlu lah berlagak menuju literasi 5.0 atau literasi tetek bengek. Ada yang lebih penting dari hanya sekedar menghamburkan uang negara dengan gembar-gembor Gerakan Literasi Digital.
Tuntaskan dahulu persoalan literasi dasar masyarakat kita. Jika mulai membaik, benahi teknologi yang bisa menunjang kerja digitalnya. Sinyal internet di desa saja mendut-mendut, mau melaju kencang bak 5G di Jepang, Cina, atau Negara Lain, ngimpi…
Penulis adalah penikmat tulisan






