Aku Adalah Bulan

Aku adalah bulan
Yang bila mana senantiasa mengitari bumiku tiada henti
Tak kenal lelah ke berputar dalam ruang hampa
Tanpa sesaat pun bagiku ‘tuk berehat

Aku adalah bulan
Yang masih tertampak hari demi hari
Fase silih berganti aku tampak lain
Namun aku tetaplah bulan, bulan saja

Aku adalah bulan
Yang mana sinarku tak banyak diingat manusia
Pandangi dan kagumi sejenak, lalu tinggalkanku
Dimana mereka letakkan akal mereka?

Aku adalah bulan
Aku juga bisa merasa sedih

Aku hanya ingin sinari kegelapan dan bunuh gulita
Meski kutahu ku tak ‘kan bisa
Namun, mentari berkata lain
Beribu debu angkasa berjatuhan menghujamku
Singkirkan sepiku di malam purnama ini
Redakan tangis yang kikis bebatuanku
Hapuskan teriknya sinar yang tak kuharap
Beri aku kebebasan dan kehendak tuk bahagiakan bumiku

Aku adalah bulan
Aku hanya ingin kebebasan dan bahagia walau hanya sesaat
Aku Tak ‘Kan Mati

Aku tak ‘kan mati
Hidupku masih berarti disini

Aku tak ’kan mati
Cintamu masih penuhi sukmaku

Aku tak ‘kan pergi
Dunia ini masih inginkan kita

Aku tak ‘kan pergi
Selama nafasku masih berhembus

Aku tetap disini
Selamanya dalam dunia kita berdua
Dunia cinta yang ukir nama kita
Dua dalam satu dunia

Matiku tak ‘kan mengahmpiriku selagi kau di sisiku
Peluk hangat jiwaku
Dan cinta tulus yang kurasa hingga akhir hayat

Aku dan Diriku yang Lain

Semilir udara menusuk kalbuku
Berkata dalam hatiku penuh sesal
‘Ada apa dengan dunia ini?’
Tikaman angin itu permainkan hatiku
Biarkanku seorang diri dalam lamunan

Lamunku kembali merajai
‘Apakah manusia benar-benar akan binasa? Dan apa yang akan terjadi pada mereka?’
Asaku ‘tuk berlari tak sanggup merenggut kembali
Dan aku masih terperangkap dalam lamunan dan terdengar suara sesaat
“Tentu saja, tentu ‘kan kembali pada Penguasa Semesta.”

Kulihat arus awan
Begitu indah di tengah hari ini
Tak begitu terik dan cukup bagiku ‘tuk menikmatinya
Udara ini tenangkan jiwaku dan aku berujar dalam hati
‘Siapa lagi yang dapat buatku damai?’
Dan dalam benakku diriku yang lain bersahut tanpa kuasaku
“Tentu Dia ‘lah yang ‘kan damaikanmu.”

‘Kenapa? Kenapa diriku itu dan mengapa disini?’
Tanyaku dalam sesaat penuh ambisi
“Kau masih saja tak paham,”
Bentaknya menggema di pikiranku
“Aku disini ‘tuk tunjukkan jalan lurus bagimu.”

‘Mengapa? Apa maksudnya?’
Lamunku masih dipenuhi tanya tanpa ujung
‘Apa dia pikir jalan yang kulalui selama ini adalah suatu kesalahan?’

“Keangkuhanmu ‘lah yang merajaimu,”
Suara diriku yang lain itu tiba lagi kini dengan jiwa sucinya
“Angkuhmu lupakan arti sebenar hatimu. Buatmu terpaku pada indahnya duniawi dan terlupa pada pada Penguasa Semesta.”

Aku terdepak
Dia tak mungkin diriku
Namun aku yakin raga dan jiwanya adalah aku
Ujarnya telah merasuk jiwaku dan buatku melangkah seorang
Terus saja melangkah jauh

Namun, kemana aku melangkah?
Tak ‘kan ku melangkah menuju kehancuran?
Aku masih ingin hidup dan jalani hari di sisa hidupku

Dia kendalikan jiwaku dan arahkan ragaku
‘Kembali, kembalikan kehendakku. Biarkan aku raih kebebasan selamanya’
Bentakku sesaat pecahkan emosiku

“Kau memang bisa bebas di dunia ini,”
Kini suaranya terucap oleh diriku sendiri
“Namun kau tak ‘kan dapat berbebas di dunia ini selamanya. Dunia ini fana dan bukan hal bijak bagimu termenung tanpa arah disini.”

‘Apa? Apa yang di ucap padaku?
Aku masih terdiam membeku dan berkata dalam hati
‘Lalu apa yang harus kuperbuat? Kemana ku harus melangkah? Dimana ku harus berlindung?’

“Aku adalah kamu,”
Lirih diriku yang lain belai hatiku
“Ingatlah pada Penguasa Semesta yang Agung. Tak terhingga nikmat Dia limpakan padamu,”
Aku tersentuh sejenak dan dia menghela nafas panjang
“Tidak, tidak hanya padamu. Namun pada segenap manusianya. Tanpa terkecuali meski tak sedikit yang membangkangnya.”

“Kau hanya perlu terus berjalan di jalan-Nya. Dan kau ‘kan bertemu dengan-Nya di Surga-Nya,”
Dan aku sungguh tersentuh kali ini sedikit menangis dalam sesal
“Dan kebebasan, dan ketenangan ‘kan senantiasa terlimpah padamu.”

Kini diriku yang lain telah pergi jauh
Jiwaku begitu damai kini dan tangisku mereda
Ataukah diriku yang lain merasuk jiwaku?
Dan buatku tersungkur bersujud pada-Nya
Beri aku waktu ‘tuk kembali pada jalan-Nya

Tuhan, beri hambamu ridha ‘tuk kembali
Beri hamba cinta yang kekal pada-Mu
Dan aku ‘kan senantiasa bersyukur dan mengabdi pada-Mu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here