Suatu ketika di sore yang menenangkan, layaknya anak indie yang hobi menunggui senja dengan secangkir kopi. Tiba-tiba terisak oleh obrolan sekumpulan anak muda di sampingku, tampaknya mereka sedang berdiskusi sore. Aku lihat salah seorang di antara mereka berapi-api dalam berargumentasi, sementara yang lain hanya terbelalak melihatnya. Entah kagum atau bingung, itulah pertanyaan yang muncul di benakku pada saat itu juga. Sayup-sayup mereka ternyata sedang mendiskusikan hal yang berkaitan dengan politik pragmatis.  Si pemuda yang berapi-api tadi sedang berceramah mengenai kehebatan senior-senior mereka yang sedang bertarung di pemilu legilsatif. Mencoba mempersuasi kawan-kawan lainnya, agar dapat membantu ia memenangkan senior-senior pilih tanding yang sedang menjajaki karir sebagai politisi.

Tak luput juga ia mengagung-agungkan senior mereka yang menjadi pemimpin daerah, politisi nasional dan aneka macam profesi yang tak jauh-jauh dari dunia bercahaya bernama politik. Bagai petir yang menyambar di siang bolong, tiba-tiba salah seorang di antara mereka ada yang nyeletuk, kurang lebih menanyakan keuntungan mereka mendukung senior-senior tersebut. Si pemuda yang berapi-api tadi, lalu berubah menjadi motivator MLM yang viral di youtube tempo hari, menyatakan jika salah satu di antara senior tersebut jadi, maka kegiatan akan lebih mudah dijalankan. Si penanya tersebut lalu dengan nada ceria berucap, “wah lancar, tak usah kita bantingan, sekretariat baru, acara lancar dan tentu ngopi pun aman.”

Percakapan itu lalu ditutup dengan nada motivasional oleh si pemuda berapi-api, “tugas kita mudah, membantu senior untuk menang, Insya Allah semua lancar.” Harapan yang selalu hadir kala pemilu datang, beberapa orang akan tampak ceria, karena itu waktunya mereka bekerja. Kalau istilah Burhanudin Muhtadi dalam ‘money politics’ mereka adalah tim sukses atau ‘broker’ yang melancarkan si calon, khususnya yang punya modal. Tentu, semua itu dilakukan agar si pemberi uang atau calon ini memenangkan kontes. Dan mereka semua pun bersepakat akan membantu senior-senior yang menapaki jalan suci sebagai politisi dengan tujuan mendapatkan imbalan, entah visi dan misinya seperti apa, niat berpolitik karena apa, semua itu tak penting, karena yang utama ialah rokok ngebul, internet lancar, kopi lancar dan tak berpusing ria memikirkan dana program rutinan.

Pasca mendengarkan percakapan itu, tiba-tiba aku teringat salah seorang kawan akrab. Ia satu organisasi dengan pemuda-pemuda yang aku jumpai tersebut, jalan berpikirnya benar-benar jauh dari pemuda-pemuda tersebut. Ia tidak pernah berniat menjadi tim sukses tanpa syarat, apalagi demi mengais keuntungan pribadi dengan menggadaikan idealismenya. Pun saat itu dia membantu seniornya yang terjun di dunia politik, karena ia paham seluk beluk mengapa seniornya itu mencalonkan diri. Visi dan misinya jelas, bahkan basis dukungannya jelas, tidak butuh lagi pelicin untuk meraup suara rakyat. Ia pun sukarela membantu tanpa embel-embel janji segudang, atau perjanjian-perjanjian sesat yang dapat mengancam independensi organisasi. Masih banyak juga pemuda-pemuda yang seperti kawanku, jadi harapan itu selalu dan tidak akan pernah layu.

Saat itu juga aku teringat oleh Bapak yang lahir di tanggal 27 Juli tahun 1933, sebenarnya ia bukan Bapak biologisku, tapi aku nyaman memanggil ia seperti itu. Jangan berpikir aku pernah bertemu dengannya, karena saat ia berpulang pada 1 Oktober 1995, usiaku masih sangat belia dan belum tahu apa-apa tendang dia. Bapak merupakan penulis yang hebat, organisatoris ulung dan pendekar yang tak pernah takut lapar. Semua ia kritik, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Ia tak takut dipenjara atau dikucilkan, faktanya ia selalu berdiri di jalur yang menurutnya benar. Mulai dari presiden pertama yang kharismatik dengan basis massa besar, berkali-kali dihantam dengan tulisan satire yang menggelitik tapi penuh kritik. Lalu, saat masa presiden kedua berkuasa yang terkenal bertangan besi dengan senyuman mematikan, ia tak gentar untuk menghujamnya dengan tulisan-tulisan satirenya yang sarat dengan kritik pedas. Bahkan kyai kharismatik yang kelak menjadi presiden ke empat juga tak bisa mengelak dari kritiknya. Konon katanya mereka berdua pernah berdebat di sebuah forum besar, kala membahas langkah taktis gerakan sebuah organisasi besar.

Walau bapak suka mengkritik, tapi ia selalu berpedoman dengan realitas yang ada, tidak ngawur atau mengada-ada demi terkenal dan dapat uang. Bapak yang saya lihat jejak rekamnya benar-benar seorang kader yang independen, berdiri di atas keyakinan politik yang ia perjuangankan. Tidak pernah ia menggadaikan diri agar sekedar menjadi pejabat, atau pimpinan parpol. Mungkin ia telah berkali-kali ditawari jabatan, uang dan hak istimewa lain, tetapi itu semua ditolaknya. Bapak lebih memilih menjadi kolomnis, penulis buku daripada menggadaikan idealismenya. Karya-karyanya banyak, mungkin kalau kita ke toko buku akan menemukan sebagian dari karyanya. Seperti Binatangisme, Kolom demi Kolom, Asal Usul, Dari Hari ke Hari dan banyak yang lainnya mungkin.

Bapak juga terkenal sebagai pribadi jenaka, itu tercermin dari sikapnya. Walaupun ia mengkritik presiden pertama, tetapi Bung Besar tak pernah marah kepadanya, bahkan sangat menghormati dan menyukai tulisan-tulisan Bapak. Bapak juga seorang manusia yang tidak takut lapar atau mati, ia pernah dipenjara di era presiden dengan senyum mematikan. Usut punya usut, saat itu ia sedang berupaya menyelamatkan demokrasi, keluar masuk kampus untuk berceramah. Presiden yang suka senyum itu pun merasa terancam, Bapak dimasukkan ke penjara Nirbaya pada 1978 dengan tuduhan subversif. Di penjara pun Bapak tak merengek atau mengiba ingin dikeluarkan, tercatat ia menulis beberapa karya selama di penjara. Beberapa di antaranya ialah, menerjemahkan novel berjudul Road to Ramadhan karya Husen Haikal, dan menulis novel yang berjudul Angin Musim.

Entah, mengapa aku sangat terinspirasi oleh Bapak, seorang ketua umum tiga periode organisasi mahasiswa nasionalis-religius-tradisionalis yang pemikirannya tidak pernah kompromi. Ia juga seorang penggerak yang gigih di organisasi rakyat berbasis kyai dan santri. Bapak tak pernah lelah mengajarkan ilmunya kepada adik-adiknya, bahkan selalu berupaya agar mereka semua memiliki suatu perspektif kritis.Andai pemuda-pemuda itu mengenal Bapak, mungkin tak seperti itu gelagatnya, minimal seperti kawanku yang memiliki visi dan pijakan ideologis yang jelas. Semoga ke depan banyak pemuda-pemuda yang mengenal Bapak, agar kelak mempunyai idealisme serta sikap pendekar, khususnya yang tak takut lapar dan tak gila jabatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here