Secangkir cokelat, hangat kuteguk bersamamu
Aroma nikmatnya, menelisik ke setiap relung ronggaku
Dan …..
Tak terasa, aku terbius dalam kenikmatan yang kau tawarkan.

Gerimis menitikkan air mata kecewa, kepada angin
Yang telah ingkar pada janjinya.
Langit semakin menghitam, memperkelam suasana hati.
Kau yang dulu datang dengan membawa sekeranjang harapan, telah meminang ketulusanku dengan sejuta kepalsuan.
Dan menyuntingku kedunia rekaan yang penuh kepura-puraan.

Kini……
Sebatang cokelat telah jatuh berkeping-keping.
Menghancurkan harapanku, menjadi puing-puing duka yang tak berarti.

Secangkir cokelat hangat yang berasa surga.
Ternyata neraka yang menyembunyikan rasa pahitnya dibalik manisnya gula.
Dan aku…..terperdaya…!!

Biarlah langit hitam menumpahkan air mata dukanya
Menghapus jejak-jejak kaki yang pernah kita lewati bersama, hingga tak tersisa.

Ah …
Bagaimanakah aku bisa mengubah ini duka menjadi cahaya,. Meski kusadari…orang yang bermain api, harus siap tersakiti….???

Biarlah ini menjadi sejarah yang kan kucatat…
Karena mencintaimu adalah kodrat.

Glenmore, 4 Desember 2021.

Karya: Dra. SUKITRI

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Negeri 2 Cluring, Kab. Banyuwangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here