Mereka bilang hantu itu menakutkan. Kata mereka hantu itu tak kasat mata, berjalan di samping manusia. Parahnya, mereka menuduh hantu suka meneror. Ada benar dan salahnya pernyataan semacam itu. Satu, hantu juga ada hukum. Tidak boleh menghantui atau menyakiti orang tanpa kontrak ‘Balas Dendam’. Dua, tidak boleh mendatangi dunia kalian dengan alasan apapun, hanya hantu penerawang dan arwah penjaga yang diperbolehkan keluar. Oh, hantu juga tidak suka manusia. Menurut kami, kalian terlalu ribut dan egois. Nah, sekarang perkenalkan, aku adalah seorang hantu dan aku akan balas dendam. Masih jelas tergambar kematian itu. Saat aku memberanikan diri melangkah ke ibu kota. Ternyata kejamnya ibu tiri belum seberapa dengan sadisnya ibu kota. Aku terlahir dari keluarga serba kekurangan. Sepeninggal ayah ibu sendiri berjuang bagiku. Menjadi ibu sekaligus ayah tak persoalan baginya. Aku percaya, Tuhan sengaja membingkai hidup setiap insan. Tidak selamanya air mata berderai tanpa jeda. Terkadang, sengaja tamparan demi tamparan melayang di wajah tanpa maksud menyakiti, tapi menyadarkan. Tak jarang, di tengah perjalanan kaki terantuk dan berdarah, tetapi tidak dibiarkan sampai tergeletak. Cara Sang Pencipta memelihara kita memang unik. Seekor ikan asin pernah menjadi lauk untuk sekeluarga kami. Momen itu hampir memutuskan impianku untuk melanjutkan pendidikan. Di atas penolakan ibu untuk kuliah, aku ditawari beasiswa bidikmisi oleh sekolah. Sehari sebelum tes tertulis, saya menumpang di kos orang lain. Malam itu aku tidur di atas lantai, tanpa alas kepala, tanpa selimut. Alhasil, aku dapat kuliah berkat beasiswa bidikmisi. Impian yang dapat aku tembus setelah ayah, ibu dan kakek gagal mencapainya. Malam tiba aku biasa menaruh tubuh di ruangan pengap sepetak. Almameter kebanggan ialah pemandangan penghantar dan pembangun tidurku. Tak jarang cacing di perut berteriak lapar membuat aku terbangun. Tangis cacing itu membuat tubuhku mengurus. Kala itu, ibu menunggu dengan gelisah. Beberapa kali menatapku yang sulit tidur. Tetapi, kali ini mataku mampu terpejam. Saat itu aku sangat pulas. Sampai tiada lagi gelomang di dada. Tiada juga aliran darah yang merona. Malam itu aku berakhir di ruangan serba putih, sebulan setelah penyakit di tubuhku komplikasi. Ketika masih manusia, setidaknya aku pernah mengabdi bagi negara, namanya Indonesia. Sebelum cacing melahap dagingku, aku sudah menginspirasi anak negeri melalui toleransi dan prestasi. Sebelum tubuhku diselimuti tanah, aku sudah menjadi saksi lahirnya Indonesia. Angin sepoi menerpa helai rambut ketika bersandar di pohon beringin. Pada pohon
beringin yang sama, burung garuda bercengkrama dan menancapkan cakar-cakarnya sembari mengumpulkan nafas. Pohon beringin itu sama tuanya dengan umur garuda itu. Akar-akarnya bagai kaki raksasa kuat bercumbu dengan tanah dan rantingnya terlihat anggun gemulai menyambut ajakan angin untuk menari. Mereka selalu menyambutku dengan pertanyaan yang sama: “Belum melupakan balas dendammu?” Seperti hari biasanya, aku menghela nafas sedalam-dalamnya dan perlahan melepas udara dari terowongan kecil di wajahku. Lalu, aku menjawab dengan kata pertama dari kalimat tanya itu. Beringin kembali menggoyangkan dahannya seolah ikut menertawakan aku. “ Berjalan ke sana-sini sembari dirantai pikiran membalaskan dendam lagi, apakah kakimu tidak letih?”, tanya Sang Garuda. “Aku letih, karena tubuhku tak bisa menembus ruang yang belum pernah aku masuki. Namun, aku pasti bisa menemukan caranya. Lantas, apakah kau tidak letih mengalungi perisai itu?” Garuda mengepakkan sayapnya sambil mengambil langkah kecil di dahan beringin. “Tak ada yang bisa kulakukan selain mendengar kegundahanmu. Kalung perisai ini lebih penting dari detak jantungku. Lebih berharga dari sayapku. Lebih kuat dari cakarku. Lebih tajam dari mata dan paruhku. Aku mampu melawan musuhku karena perisai ini. Memangnya apa urusanmu?” Aku berdecak kagum mendengar ungkapan garuda. Seketika, dadaku merah membara membakar letihku karna semangat balas dendam. “Jelas urusanku. Bukankah tentangmu juga menyangkut tentang kita?” Burung Garuda merasa lebih lega. Untuk kesekian kalinya ia kembali memberi tawaran. “Kau sudah terlalu lama di ruang tersepi. Menghabiskan waktu tanpa daya guna. Ayolah, sempatkan dirimu menengok kabar negeri tempatmu mengabdi dulu.” ucap Garuda sembari membuang pandangan ke pegunungan. “Untuk apa? Apa kau pura-pura tidak tahu tugasku saat ini? Sudahlah. Aku tak kuat memandang keluargaku. Aku juga takut tergoda meneror.” “Apakah kau memilih diam? Asal kau tahu, di sana tengah diserang oleh virus berbahaya. Aku yakin, kau akan menemukan sesuatu.” Ucap Garuda penuh yakin. “Sah. Tapi, kau harus siap terima resiko jika tidak ada yang berubah.”
“Baik. Besok kita bergegas.” Ucap Garuda sembari mengurangi kekuatan cengkramannya karena ia ingin terbang Sejenak kekosongan menyelimuti suara itu. Dahan beringin membungkuk lesu seolah jari jemarinya tak kuat lagi mengenggam butir-butir tanah. Rantingya enggan mengajak angin menari. Mungkin beringin merasa bingung. Aku harap garuda mengerti yang aku makud. Aku bahagia. Senyum sumringah kembali merekah di bibirku. Aku harap ada lapak baru untuk balas dendam. Garuda memang paling paham isi hatiku saat ini. Di sisi lain, aku tidak tega meninggalkan beringin, walaupun sebentar saja. Pasti tiada lagi yang berteduh selain kami. Keteduhan yang dia berikan memikat aku setiap saat. Aku yakin, garuda juga pasti merasakan hal yang sama. Sekejap aku terbayang dengan Indonesia. Negaraku yang kaya raya. Aku tak mampu menghitung kekayaannya. Seketika manusia-manusia merampas kekayaan itu. Ingin sekali kurampas kembali yang mereka rampas. Awalnya, mereka hadir memakai jubah putih, setiap katanya berakhir di kombinasi kata ‘Demi Rakyat’. Aku merasakan hati disayat sembilu tanpa ampun ketika pesta demokrasi. Kalian dominan dijadikan boneka sampai diadu domba. Sungguh, kalian mempermalukan perisai sang garuda pancasila. Ironisnya, kepercayaan diadu oleh kalian. Mataku bengkak, bulirnya tiada tersisa ketika kepercayaan menjadi sasaran kebiadaban iblis di hati kalian. Kekuasaan sungguh menggiurkan. Kekuasaan mengakhiri kepekaan terhadap sesama kalian. Aku melihat Sang Garuda Pancasila melingkar di bangsa ini. Setiap hari bersiaga terhadap lawan. Aku pernah melihatnya terisak penuh siksa. Aku menunggu supaya dia mau bercerita, akhirnya berhasil. Dia berduka karena sifat kalian yang jauh lewat batas. Air matanya mengali menatap teganya kalian untuk berkhianat. Kami menuju ke padang. Mataku menoleh pada beringin dari kejauhan. Beringin seolah berucap bagaikan udara yang menenggelamkan kekosongan. Kesedihannya ialah kesedihanku juga. Penantiannya adalah penantianku. Aku yakin, kerinduanku adalah penemuan kami. Hari ini ialah kedua kalinya aku berkunjung ke padang. Ingatanku siap merekam situsi di padang, seperti rumput-rumput hijau yang rimbun menari mengikuti alunan angin. Sinar matahari yang keemasan telah membungkus setiap jemari-jemari daun yang berembun. Saat malam menjamu, aku berbaring di atas ranjang rerumputan dengan atap langit yang dipenuhi bintang. Mataku berusaha menghitung, tetapi hamparan bintang terlanjur memenuhi mataku.
Namun, ekspetasiku terlalu tinggi. Realita tak mampu mempertahankan ingatanku. Padang itu tak ubahnya seperti seseorang yang berambut rontok parah. Sela-sela rumput kekuningan tampak tanah pecah-pecah menyerupai garis kilap petir. Tak ada lagi dedaunan yang menancap di ranting-ranting pohon, karena memang ranting pun tiada lagi di sana. Biar aku coba meyakinkan dirimu. Mungkin saja garuda salah tempat. Atau keindahan yang kupikirkan jauh dari keindahan di benakmu. Aku memang suka dengan pemikiran yang tidak biasa. Aku berhenti untuk meyakinkanmu ketika melihat para banteng tak lagi bergerombol. Tulang belulang banteng beserak tanpa daging. Hingga kami berhenti sejenak. “Kebetulan sekali kau datang. Apakah kau bisa menunjukkan tempat bagiku untuk menemukan makanan?”, tanya banteng pada elang. “Bukankah selama ini tanyamu selalu menggunakan kata ‘kami’?”, ucapku akhirnya. “Hahaha… Sobat, kata itu hanya berlaku untuk dahulu. Yang berlaku sekarang ialah ‘aku’, katanya sambil mengunyah rumput. “Sejak?”, tanyaku sembari menyamarkan kesedihan. “Sejak manusia-manusia merampas apa yang bisa dimakan. Tidak ada gunanya lagi koordinasi. Aku mencari makan sendiri, jika tidak mau mati.”, tegas banteng Kami kembali melanjutkan perjalanan. Mataku menjelajah ke padang. Memperhatikan banteng yang menyebar di berbagai titik. Tak ada yang bersama. Semua sendiri-sendiri. Sesuatu menderu di dadaku. Memori tentang padang sontak mengaburkan segalanya. Tak ada sepatah kata pun yang terucap setelah itu. Benderang matahari semakin menyinari. Beberapa meter lagi, aku sampai di kediaman kalian. Ketika matahari masih berkuasa, kami harus hentikan sejenak. Tubuh Sang Garuda yang besar dan bulu keemasan menarik hati para pemburu. Kami menunggu datang di sebuah rumah tua. Kaca jendelanya sudah pecah, sehingga kami bisa masuk. Tidak ada kehidupan di sini, kecuali seekor laba-laba. Kami kesulitan mengajak laba-laba berbincang. Mungkin kehadiran kami menganggu kebasannya. Aku pikir wajar saja. Tempat berlalu ini menolak kepercayaaan karena ujungnya mendekatkanmu pada pengkhianatan. Kami menyusuri seluruh ruangan, siapa tahu ada lawan bicara untuk bercakap-cakap. Langkahku terhenti. Pandanganku tersedot pada lahan luas. Aku tebak, dahulu di sana terhampar sebentang sawah berisi padi dikelilingi rumbun pohon kapas. Namun, kini seolah dongeng. Sang Garuda bertengger. Sementara aku duduk di tepi jendela. Aku memandangi bulan menyapa langit, sampai akhirnya ditutup oleh awan. Hitam pekat sudah menyelimuti
langit selah tiada mengenal warna lain. Malam ini hanya ada satu bintang besar yang berpijar. Mungkin beringin dan banteng melihatnya juga. Esok harinya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Rumah beratap-atap rendah terganti dengan bangunan tinggi. Bangunan tinggi itu seolah berniat menyaingi bintang. Kulihat banyak pajangan lukisan Sang Garuda di sana. Seketika aku berandai mereka tertarik memajang rupaku. Mustahil mereka memajang wajah tanpa elok sejak lahir. Ah, lupakan khayalan tak berujung ini. “Bagaimana dengan dendammu?” tanya Sang Garuda. “Aku masih mencari mereka yang berkhianat padamu.” “Aku akan meminta bantuan kepada bintang, bringin, banteng dan laiinya.” Malam mulai menetaskan kegelapan terakhirnya. Aku masih belum menemukan mereka. Sang Garuda juga sudah merasa keletihan mencari mereka. Saat ini, aku melihat kepatuhan kalian. Aku tahu, di antara kalian tengah bersembunyi yang aku cari selama ini. Sesuai hukum hantu, ‘Balas Dendam’ harus tetap kujalankan. Tingkatnya sesuai dengan jenis pelanggaran kalian. Pengingatanku kuat tajam mengenal sosok-sosok itu. Sosok tikus, sosok janji palsu, sosok intoleransi, sosok provokasi dan masih banyak. Negaraku sudah terlalu lama tertatih akibat lawan Sang Garuda Pancasila. Tak kubiarkan itu berlanjut. Bagaimana dengan kalian? Aku memperhatikan dari jendela yang ternganga. Sang Garuda Pancasila serta sahabat-sahabatnya ikut mencari kalian. Mereka pasti berkabar tentang keberadaan kalian. Wajah kalian sudah terlukis di pikiranku. Aku pasti bisa. Aku pasti menemukan kalian. Barangkali, kalian ada di antara kerumunan manusia yang berseragam. Barangkali, bersembunyi di antara bangunan pencakar langit itu. Atau barangkali, kalian ada diantara manusia-manusia yang sedang menyimakku saat ini. Aku di sampingmu dan aku siap balas dendam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here