Pendidikan Humanisme Sebagai Sarana Pemersatu Bangsa

0
150

Elaborasi Peran Sila Kedua Pancasila dalam Konteks Kebhinnekaan di Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang terdiri atas banyak suku, budaya, bahasa, agama dan kelompok. Kebhinnekaan ini menjadi wajah dan juga brand Indonesia di hadapan bangsa-bangsa di dunia. Kerukunan dan toleransi yang dibangun bangsa Indonesia dalam wajah kebhinnekaan ini sudah berlangsung selama berabad-abad. Dengan kata lain, kebhinnekaan adalah, meminjam istilah Habermas, konsensus bersama bangsa Indonesia jauh sebelum negara ini berdiri. Dalam program Mata Najwa “Politik Beranda Istana” (Rabu, 23 November 2016), Presiden Joko Widodo memberikan penegasan dan makna mendasar dari kebhinnekaan di Indonesia. Menurutnya, kemajemukan di Indonesia merupakan sebuah anugerah dari Tuhan sekaligus juga sebagai sebuah kekuatan jika manusia Indonesia bisa menjaga dan merawatnya.

Dalam perjalanannya, kebhinnekaan mengalami penurunan makna. Banyak pihak yang tidak melihat kebhinnekaan sebagai kekuatan, namun justru sebagai kelemahan. Ketua MPR, Zulkifli Hasan, mengatakan bahwa semenjak reformasi digalakkan, kesadaran bangsa ini akan semangat kebangsaan justru semakin menurun (Mata Najwa “Menjaga Bhinneka”, 2 November 2016). Orang-orang sudah tidak lagi memahami arti kebangsaan yang di dalamnya kebhinnekaan menjadi perekat.

Menurunnya kesadaran akan bhinneka ini tampak dalam beragam konflik horizontal yang melanda negeri, misalnya penurunan patung Budha di Tanjung Balai, pengusiran kaum Syiah di Madura, pengusiran jemaat Ahmadiyah di Bangka, konflik antar suku Dayak dan Madura di Kalimantan, konflik antar suku di Lampung dan masih banyak lagi lainnya. Sentimen SARA maupun hatespeech juga kuat menggema di media sosial beberapa waktu belakangan. Kata “bunuh, habisi” menjadi begitu mudah untuk diungkapkan ke hadapan publik. Baru-baru ini juga , kasus bom molotov di Samarinda mengguncang nurani bangsa. Intan Olovia Banjarnahor, gadis kecil berusia 2 tahun lebih, harus menjadi korban kebencian antar agama dan radikalisme. Kematian Intan ini menjadi tamparan keras bagi NKRI untuk segera meletakkan lagi paham kebhinnekaan dan toleransi sebagai pondasi tata hidup bersama.

Beragam konflik ini, jika dibaca dalam skala yang lebih besar, merupakan pelecehan besar terhadap kemanusiaan. Di dalam terminologi “kemanusiaan”, beragam suku, budaya, agama dan bangsa mendapat tempat yang sejajar. Para pelaku dan pemicu konflik abai dalam melihat kemanusiaan sebagai hal yang sangat fundamental dalam hidup bersama. Dengan alasan ideologi maupun sentimen SARA, manusia dengan mudahnya meneror maupun membunuh manusia lainnya. Konflik semacam ini pada dasarnya adalah konflik kemanusiaan.

Pancasila, sebagai ideologi bangsa, sebenarnya sudah memberikan dasar yang kuat untuk menjaga dan merawat kebhinnekaan di Indonesia lewat konsep kemanusiaan. Pancasila telah hidup di dalam diri bangsa ini jauh sebelum ia sendiri disusun secara definitif oleh para bapak bangsa. Pancasila adalah kristalisasi dari beragam pergulatan, falsafah dan karakter bangsa Indonesia. Dengan demikian, jika Indonesia ingin kembali memperkuat, merawat dan menjaga kebhinnekaan, satu-satunya cara adalah dengan melihat kembali Pancasila. Tulisan ini akan menggali makna filosofis Pancasila, secara khusus Sila Kedua, sebagai sarana untuk mempersatukan kemajemukan bangsa Indonesia.

 

Manusia sebagai Subjek Multidimensional: Menggali Hakekat Manusia dalam Beragam Pemikiran Filosofis

Sebelum memahami arti kemanusiaan secara lebih jauh, pertanyaan “siapakah manusia” mungkin menjadi sangat penting untuk memulai elaborasi ini. Kemanusiaan adalah hakekat dari manusia itu sendiri. Kemanusiaan pada manusia itu mirip dengan kayu pada kursi. Keduanya tak bisa dipisahkan. Karena itu, belajar tentang kemanusiaan haruslah menggali pemahaman tentang manusia terlebih dahulu.

Manusia sebagai Subjek Rasional

Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang rasional. Karakter rasionalitas menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Ia menggunakan akal budinya untuk berpikir dan menemukan solusi atas bermacam-macam hal. Dengan rasionalitasnya, manusia menjadi sangat kreatif dan inovatif. Kreativitas dan inovasi inilah yang banyak mengembangkan peradaban dunia.

Plato (427-347 SM) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang dengan rasionalitasnya mengejar pengetahuan untuk menemukan kebenaran. Itu sebabnya ia beranggapan bahwa rasionalitas manusia tidak akan bisa berdamai dengan  sesuatu yang salah. Kodrat rasionalitas manusia in nature adalah berjalan beriringan dengan kebenaran. Tidak hanya sampai di situ, manusia sendiri pada dasarnya tidak dapat berdiam diri terhadap apa yang salah. Akal budi tidak akan tahan berdiri di hadapan sesuatu yang salah tanpa menyuarakan kesalahan tersebut.

Aristoteles (383-322 SM) lebih lanjut membagi rasio manusia ke dalam dua fungsi, yaitu rasio pasif dan rasio aktif. Rasio pasif terbentuk dari asumsi-asumsi dan kesan-kesan inderawi. Karenanya rasio pasif bersifat sementara. Ketika realitas inderawi berubah, maka rasio pasif juga akan berubah. Rasio aktif bersifat lebih menyeluruh, utuh dan permanen. Frederick Copleston mengutip pernyataan Aristoteles tentang rasio aktif dan pasif dalam bukunya De Anima (De An., 3, 5, 430a 17 ff):

This Nous is separable and impassible and unmixed, being essentially and actuality. For the active is always of higher than the passive, and the originative principle than the matter. Actual knowledge is identical with its object; potential knowledge is prior in time in the individual, but in general it is not temporally prior; but Nous does at one time function and at another not. When it has been separated it is that only which it is in essence, and this alone is immortal and eternal. We do not remember, however, because active reason is impassible, but the passive reason is perishable, and without the active reason nothing thinks.

Dari pernyataan ini, Aristoteles menunjukkan bahwa rasio aktif berada di posisi lebih tinggi dari rasio pasif. Ketika berhadapan dengan objek, rasio aktif akan melihat objek tersebut secara menyeluruh. Bagi Aristoteles, rasio aktif inilah yang menjadi isi pemahaman manusia secara menyeluruh karena mampu melihat dan memahami realitas melampaui pengalaman inderawi (beyond the reality).

Manusia pada dasarnya harus selalu digerakkan oleh rasio aktif, bukan rasio pasif. Ketika rasionalitas manusia digerakkan oleh rasio pasif, efeknya akan sangat berbahaya. Jika ada isu negatif (misalnya) yang belum teruji, rasio pasif akan tergerak berdasarkan kesan-kesan inderawinya terlebih dahulu tanpa mengkaji atau menganalisanya secara lebih menyeluruh. Beragam konflik besar yang dipicu oleh isu-isu tak berdasar seringkali disebabkan oleh manusia yang digerakkan oleh rasio pasifnya. Aristoteles menekankan pentingnya manusia untuk selalu menggunakan rasio aktifnya dalam melihat realitas sehingga pemahaman yang diperoleh dari proses tersebut bisa lebih komprehensif dan berimbang.

Immanuel Kant (1724-1804) menjelaskan bahwa dengan karakter rasionalnya, manusia mampu membuat keputusan mereka sendiri, menyusun visi hidupnya dan melakukan apapun dengan alasan-alasan yang jelas. Karena rasionalitasnya juga maka manusia tidak dapat menggunakan manusia lainnya, memanipulasi mereka, ataupun juga berlaku jahat terhadap mereka dengan alasan untuk mencapai tujuannya sendiri, seberapa baik dan mulianya pun tujuan tersebut. Dengan menjadi rasional berarti bahwa manusia mampu menghargai nilai-nilai universal, tata hidup bersama dan kebaikan di dalam dirinya sendiri.

Manusia sebagai Subjek Kritis

Kritis merupakan karakter dasar dari rasio manusia. Karakter kritislah yang menyebabkan akal budi manusia tidak bisa berdiam diri atas kesalahan sebagaimana yang dinyatakan oleh Plato. Karakter ini menyebabkan manusia selalu mempertanyakan hidupnya, mengobrak-abrik realitas, menggoyang tatanan yang sudah mapan. Kekritisan manusia ini akan selalu membawa manusia pada kebenaran, bukan kemunafikan. Karakter kritis mencari kebenaran seperti membuka lapisan-lapisan bawang. Kebenaran menampakan wajah dunia sebagaimana adanya, tanpa tipu muslihat. Dari dimensi inilah bisa dikatakan bahwa kebenaran membebaskan manusia.

Manusia sebagai subjek kritis selalu ingin mengetahui dan memahami hal-hal sedalam mungkin. Ia selalu memverifikasi apa yang ditangkap oleh inderanya, membenarkannya, membuktikannya, sampai akal budinya yakin bahwa itu adalah itu, bukan yang lain.

Manusia sebagai Subjek Komunikatif

Martin Heidegger menjelaskan kodrat manusia dalam status “keterlemparannya” di dunia. Manusia ada di dalam dunia tanpa persetujuan dari manusia itu sendiri. Ia mengada dalam ruang dan waktu. Dalam keadaan demikian, manusia harus hidup dalam relasi dengan manusia lain. Relasi intersubjektivitas menghadirkan kodrat subjektif manusia yaitu komunikatif.

Hidup sebagai manusia, menurut Heidegger, berarti hidup sebagai subjek yang selalu terarah keluar dari imanensi (kemapanan) dan berkomunikasi dengan subjek lain. Dengan demikian, jika subjektivitas manusia selalu terarah keluar, maka manusia akan selalu berada dalam posisi dialektis (komunikatif) antara dirinya, subjek lain dan realitas lain di luar dirinya. Menerima dirinya (subjektivitasnya) berarti juga menerima dunia dan segala pola komunikasi (dialektika) di dalamnya karena manusia pada dasarnya berada-dalam-dunia (in-der-Wel-seint).

Kehadiran manusia adalah sebuah kehadiran komunikatif. Tidak ada ruang dalam peradaban dimana manusia dapat menutup dirinya terhadap realitas. Kebersamaan manusia dengan realitas lainnya, walau tanpa bersuara pun, sudah menunjukkan karakter komunikatifnya. Dengan adanya realitas di luar dirinya, manusia mampu mendefinisikan siapa dirinya.

Jurgen Habermas menegaskan bahwa apapun tindakan manusia dalam hidup bersama adalah sebuah tindakan komunikatif. Tindakan komunikatif ini, betapapun buruk (perkelahian, konflik dan lainnya) maupun baiknya (diskusi, berdialog), akan selalu terarah pada konsensus bersama. Konsensus inilah yang kemudian menjadi pegangan dan dasar bagi tata hidup bersama dalam societas.

Dalam kodrat komunikatifnya ini, manusia memerlukan bahasa sebagai jembatan untuk mengkomunikasikan gagasan antar subjek. Michael Polanyi menyatakan bahwa bahasa adalah salah satu bentuk keunggulan utama manusia atas hewan. Tanpa bahasa, kemampuan akal budi manusia akan menjadi sia-sia. Karena itulah pemahaman tentang bahasa termasuk poin penting dalam memahami hakekat komunikasi.

Singkatnya, ketika manusia menyadari fakta bahwa dirinya tidak hidup sendiri, pada titik itulah ia menyadari hakekatnya sebagai subjek komunikatif. Bentuk rasionalitas tertinggi dari kodrat komunikatif antar manusia ini adalah kesepakatan untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Manusia sebagai Subjek Etis

Bagi Aristoteles, manusia selalu terarah untuk mengejar kebaikan. Apapun yang ia lakukan akan selalu terarah untuk mencapai apa yang baik, entah untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Kenyataan ini membuat manusia, dengan rasionalitasnya, menyusun dasar-dasar etika yang tepat untuk ia gunakan.

Kenyataan ini membuat manusia, dengan rasionalitasnya, menyusun dasar-dasar etika individual yang tepat untuk ia gunakan dengan mengacu pada nilai-nilai personal yang ia yakini. Dasar-dasar ini, ketika berhadapan dengan subjek lain dalam societas, seringkali berbenturan. Karena itu, kelompok masyarakat akan menggunakan etika publik yang mengacu pada nilai-nilai universal ketika mereka bertemu dalam societas.

Jalan Terjal Humanisme

Paham tentang humanisme memliki rekam jejak historis yang cukup panjang dan terjal. Hal ini dikarenakan penerimaan setiap dekade waktu selalu berbeda-beda mengenai humanisme. Ada masa dimana humanisme masih seperti bayi yang belum tahu apa-apa. Ada juga masa dimana humanisme diliputi kegelapan karena pengakuan atas kemanusiaan masih dianggap hal tabu. Ada pula masa dimana humanisme kembali memunculkan “batang hidungnya” untuk kemudian membangun dasar-dasar kokoh bagi perkembangannya. Karena itu, melihat kembali sejarah humanisme secara singkat sembari melihat beberapa gagasan filosofis yang mendasarinya tentu sangat menarik.

Humanisme dimulai pada masa primitif dimana relasi yang paling kuat terjadi antara manusia dan alam. Pada masa ini, manusia hanya menghamba pada alam. Ia mencari makan, hidup dan berpikir bersama alam. Dari alam pula manusia membangun sistem kepercayaannya. Tentu tidaklah mengherankan bahwa kepercayaan manusia purba selalu memiliki hubungan dengan alam (dinamisme).

Humanisme mulai masuk ke elaborasi gagasan filosofis sejak Thales menyelidiki hakekat dunia dengan meneliti kenyataan-kenyataan alam di tanah Yunani. Pada masa ini, humanisme masih tetap berada dalam wilayah permenungan alam. Sokrates yang kemudian mulai mengalihkan perhatian dari filsafat alam kepada filsafat manusia. Ia mulai memikirkan tentang manusia, rasionalitas dan kodratnya. Para penerusnya seperti Plato dan Aristoteles, juga tetap menggali hakekat manusia dan juga polis sebagai medan hidup bersama.

Abad pertengahan (abad V-XV M) bisa dikatakan sebagai masa dimana humanisme mengalami kegelapan. Pada masa ini, teologi dan paham ketuhanan (secara khusus Kristiani)  begitu menguasai alam berpikir dan cara hidup manusia. Tidak ada sendi kehidupan yang tidak dipengaruhi oleh teologi. Gereja pada saat itu memiliki kuasa yang begitu besar karena merasa mendapat legitimasi wahyu dari Allah. Filsafat sangat berciri teosentris. Ilmu pengetahuan seringkali dianggap sihir. Bahkan beberapa ilmuwan yang teorinya dianggap melawan ajaran Gereja dibunuh. Hampir tidak ada pemikiran tentang humanisme pada abad ini.

Humanisme baru mengalami kebangkitan pada masa renaissance. Gerakan renaissance adalah gerakan budaya yang diperkirakan muncul pertama kali di Italia. Gerakan ini ingin menjatuhkan dominasi Gereja yang begitu besar akan banyak hal. Salah satu filosof yang menjadi kunci perkembangan humanisme pada saat itu adalah Rene Descartes (1596-1650).

Saya perhatikan bahwa kebenaran ini: saya berpikir, jadi saya ada (cogito ergo sum), begitu kokoh dan meyakinkan, sehingga semua anggapan kaum skeptik yang paling berlebihan pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Karena itu, saya menilai bahwa tanpa takut salah saya dapat menerimanya sebagai prinsip pertama dari filsafat yang saya cari.

Rene Descartes meletakkan rasionalitas manusia sebagai pusat dari dunia. Dengan demikian, fokus pemikiran dunia bergerak dari ilmu-ilmu teologi ke arah ilmu tentang manusia.

Humanisme pada periode awal renaissance ini bertujuan untuk menghidupkan kembali humanisme klasik yang sudah dibangun pada masa Sokrates, Plato ataupun Aristoteles. Berbeda dengan gaya humanisme klasik yang berfokus pada relasi antara manusia dan alam (polis), humanisme awal renaissance lebih berciri individual dan anti-Tuhan. Pengalaman masa kegelapan ketika teologi begitu menguasai alam berpikir manusia membuat para filosof saat itu menyusun gagasan filosofis yang memunculkan keagungan manusia.

Setelah Rene Descartes, pemikiran-pemikiran tentang humanisme berkembang pesat. Karl Marx (1818-1883) misalnya melihat manusia sebagai produk dari pekerjaannya sendiri. Gagasan ini muncul sebagai bentuk kritik Marx atas kapitalisme yang mencabut manusia dari kemanusiaannya sendiri. Sistem kerja perusahaan yang memperbudak manusia menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya. Belum lagi ajaran-ajaran agama yang, menurut Marx, membuat manusia terlena dengan keadaannya yang tertindas. Agama adalah candu yang membuaikan manusia. Pekerjaan menjadi aktivitas khas manusia menurut Marx disebabkan oleh: pertama, pekerjaan merupakan pemenuhan kebutuhan manusia. Kedua, pekerjaan merupakan realisasi potensi-potensi diri manusia. Ketiga, pekerjaan menunjukkan aspek sosialitas manusia. Keempat, manusia melalui kerja meninggalkan kebudayaan bagi generasi berikutnya.

Jean Paul Sartre (1905-1980) mendeinisikan manusia sebagai pribadi yang bebas. Ia bahkan mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan dengan demikian merupakan  esensi dari manusia. Manusia yang bebas dapat memilih, mengatur dan juga memberi makna pada realitas.

Jika dilihat secara garis besar, pemikiran-pemikiran humanisme pada dasarnya menolak peran Tuhan dalam hidup manusia. Sebagaimana kebanyakan kaum eksistensialis, manusia dianggap sebagai pribadi otonom yang bisa berpikir secara bebas. Tuhan dinilai tidak perlu “ikut campur” dalam pergulatan filosofis tentang manusia.

Perjalanan humanisme setelah renaissance bukannya tanpa cacat. Ada banyak peristiwa yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan, misalnya pembantaian jutaan bangsa Yahudi yang dilakukan oleh Nazi, konflik Israel-Palestina, Perang Bosnia, Politik Apertheid di Afrika dan masih banyak lagi lainnya. Peristiwa-peristiwa sadis ini membuat banyak orang terdiam dan berpikir lagi tentang arti kemanusiaan.

Buah dari pergulatan humanisme dari masa ke masa adalah dirumuskannya Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Perumusan ini menjadi bukti nyata bahwa humanisme (kemanusiaan) merupakan prinsip universal yang terdapat di dalam diri setiap bangsa dan juga sekaligus prinsip yang harus dihidupi. Poin-poin dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia menjamin secara jelas kesempatan bagi setiap manusia untuk hidup layak.

Makna Kemanusiaan dalam Sila Kedua Pancasila dan Hubungannya dengan Keempat Sila Lainnya

Sebelum memasuki pemahaman tentang makna kemanusiaan dalam Sila Kedua Pancasila, baik kiranya jika diberikan selayang pandang historisitas munculnya poin kemanusiaan sebagai dasar negara Indonesia. Sebagaimana diketahui, Pancasila merupakan kristalisasi dari kehidupan bangsa Indonesia sejak berabad-abad. Dengan demikian, bibit-bibit kemanusiaan pada dasarnya sudah tertanam di dalam diri bangsa ini sejak lama.

Dalam pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945 (konteks rapat pada saat itu adalah pembicaraan tentang dasar negara), Muh. Yamin secara tegas memasukkan humanisme (kemanusiaan) sebagai dasar untuk hidup berbangsa dan bernegara. Kemanusiaan menjadi sangat fundamental sebagai dasar negara disebabkan, selain merupakan karakter bangsa Indonesia, oleh posisi Indonesia dalam peta relasi antar bangsa di dunia. Sebagai bangsa yang akan berdaulat, Indonesia pada saat itu akan memasuki keluarga baru sebagai sesama bangsa merdeka di dunia. Karena itu, humanisme yang didasarkan pada prinsip-prinsip universal juga harus menjadi karakter bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno, pada tanggal 1 Juni 1945, memberikan penegasan serupa mengenai pentingnya bangsa Indonesia hidup dalam nilai-nilai kemanusiaan universal. Keberadaan Indonesia di tengah-tengah keluarga dunia mengharuskan Indonesia untuk turut pula menghidupi nilai-nilai universal tersebut. Soekarno menamakan prinsip kemanusiaan sebagai internasionalisme. Paham internasionalisme pada dasarnya lebih merujuk pada persaudaraan antar bangsa. Namun demikian, Soekarno tidak hendak mengatakan bahwa ia mengabaikan rasa kebangsaannya. Ia mencintai Indonesia. Tetapi dalam lingkup dunia, ia menyitir pernyataan Mahatma Gandhi: “My nationality is humanity!”.

Piagam Jakarta menjadi bukti otentik pertama mengenai pengesahan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam Piagam Jakarta, paham kemanusiaan mendapat bentuk bakunya yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Paham kemanusiaan ini tampaknya, setelah rapat-rapat panjang BPUPKI, mendapat kontekstualisasinya di Indonesia yaitu dengan digandengkannya prinsip keadilan dan keadaban.

Dalam kursus Pancasila di depan kader-kader Pancasila pada tanggal 5 Juli 1958, Soekarno secara panjang lebar menguraikan makna “perikemanusiaan” dalam Pancasila. Menurut Soekarno, paham kemanusiaan pertama-tama harus dilihat dalam bingkai kebhinnekaan (perbedaan). Paham kemanusiaan pertama-tama dapat dipahami melalui lambangnya dalam simbol negara. Kemanusiaan digambarkan dengan rantai. Ia mengatakan bahwa rantai yang tak putus-putus melambangkan semangat kemanusiaan yang ada di dalam diri pria dan wanita yang tak akan pernah putus. Lambang rantai juga menunjukkan kenyataan bahwa bangsa Indonesia hidup dalam kekeluargaan dengan bangsa-bangsa lain yang tak terputus.

Soekarno memberikan penekanan yang berbeda antara “kemanusiaan” dan “perikemanusiaan”. Kemanusiaan, menurutnya, adalah alam manusia. Kemanusiaan ini sudah ada sejak dulu kala, sejak manusia pertama kali diciptakan. Perikemanusiaan adalah hal yang berbeda. Menurut Soekarno, perikemanusiaan adalah paham tentang manusia yang mengalami evolusi dari masa ke masa. Perikemanusiaan adalah hasil dari pertumbuhan kebudayaan. Apa yang pada jaman dulu orang anggap baik secara perikemanusiaan, saat ini hal itu belum tentu sama. Perikemanusiaan dengan demikian, menurut Soekarno, mengalami evolusi.

Berhadapaan dengan kebhinnekaan di Indonesia, Soekarno menyadari bahwa paham perikemanusiaan adalah jembatan yang dapat mempersatukan semuanya. Paham perikemanusiaan tidak memandang latar belakang seseorang. Perikemanusiaan melihat dan menghargai manusia sebagai manusia. Soekarno mengatakan bahwa pada dasarnya setiap agama mengajarkan konsep perikemanusiaan di dalamnya.

Apa yang dilakukan Hitler dengan nasionalismenya, bagi Soekarno, adalah sesuatu yang sangat salah. Nasionalisme yang dibangun oleh Hitler adalah nasionalisme chauvinis. Indonesia tidak hendak dibangun dalam semangat nasionalisme semacam itu. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan: nasionalisme yang mencari cara agar segala umat manusia dapat hidup bersama sebagai satu keluarga besar yang bahagia.

Jika dielaborasi secara lebih jauh, prinsip kemanusiaan adalah prinsip yang mendasari perilaku dan sikap yang sesuai dengan norma-norma moral dalam tata hidup bersama atas dasar tuntutan nuraninya. Prinsip kemanusiaan inilah yang dalam terminologi Soekarno disebut sebagai “perikemanusiaan”. Manusia harus hidup dan berperilaku sesuai dengan harkat dan martabatnya. Prinsip kemanusiaan, secara sederhana, adalah memperlakukan sesama manusia sesuai dengan hak asasinya. Undang-Undang Dasar 1945 menguraikan prinsip kemanusiaan dalam pasal-pasal (Pasal 27-34). Prinsip-prinsip kemanusiaan itu meliputi hak-hak dalam bidang politik, pendidikan, sosial-budaya, kebebasan beragama, bela negara, penghidupan yang layak, hak untuk hidup bebas tanpa ancaman maupun diskriminasi dan lain sebagainya.

Dalam hubungan dengan sila-sila yang lain, Sila Kedua pada dasarnya didasari dan dijiwai oleh Sila Pertama (Ketuhanan). Sila Kedua kemudian mendasari dan menjiwai Sila Ketiga (Persatuan), Keempat (Permusyawaratan Perwakilan) dan Sila Kelima (Keadilan Sosial). Dengan kata lain, setiap sila saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain. Satu sila tidak dapat dibaca terpisah dari sila yang lainnya.

Humanisme “Berke-tetapi-an”: Humanisme a la Indonesia dalam Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Humanisme yang terdapat dalam Sila Kedua Pancasila merupakan prinsip humanisme yang khas Indonesia. Itulah sebabnya walau para Bapak Bangsa seperti Muh. Yamin dan Soekarno menyatakan bahwa humanisme Indonesia sejalan dengan humanisme universal, Pancasila tetap memasukkan corak keindonesiaan di dalamnya. Humanisme yang dianut adalah humanisme universal, tetapi coraknya adalah keindonesiaan.

Corak pertama tampak dalam prinsip humanisme berkeadilan. Humanisme berkeadilan memiliki makna bahwa setiap manusia di Indonesia memiliki hak dan derajat yang sama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras ataupun golongan. Negara dengan demikian menjamin bahwa hak-hak asasi setiap manusia Indonesia harus terpenuhi secara adil dari Sabang sampai Merauke. Manusia secara pribadi juga harus berlaku adil terhadap dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta  lingkungan hidup.

Corak kedua adalah humanisme keberadaban. Adab yang dimaksud jelas merupakan adab Indonesia. Indonesia menganut prinsip ketuhanan. Karena itu humanisme yang dianut di Indonesia tidak akan menafikan peran Tuhan di dalamnya. Kemanusiaan dibangun atas dasar iman kepada Tuhan.

Penjelasan mendalam tentang humanisme keberadaban tampaknya paling jelas diberikan oleh Presiden Soeharto dalam beberapa pidato dan pengajarannya tentang Pancasila. Sila Kedua ini menempatkan manusia sesuai dengan harkatnya sebagai makhluk Tuhan. Karena itu, setiap manusia Indonesia harus menghidupi sikap saling menghargai dan tenggang rasa (tepa selira) dalam kebhinnekaan, bukan sikap dendam. Dengan berlaku demikian maka keadilan, ketentraman, keselarasan dan kekokohan masyarakat akan terwujud.

Humanisme keberadaban ini juga tidak mengijinkan adanya penindasan manusia oleh manusia lain. Maka sudah jelas, sikap rasialisme akan sangat ditolak dalam hidup bersama di Indonesia. Humanisme yang adil dan beradab ini akan membawa manusia Indonesia sampai kepada taraf hidup yang lebih tinggi dimana kebahagiaan bisa dinikmati oleh setiap orang, bukan kebahagiaan individual dengan mengorbankan orang lain. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan yang adil.

 

Pendidikan Humanisme sebagai Jalan Perekat Kebhinnekaan di Indonesia

Pada bagian Pendahuluan sudah ditunjukkan beberapa kasus yang menodai kebhinnekaan bangsa Indonesia yang sudah dibangun sejak lama. Kasus-kasus semacam ini pada dasarnya tidak perlu terjadi jika setiap manusia di Indonesia berpegang teguh pada Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila menjadi begitu penting karena prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya sudah teruji oleh waktu dalam menjaga kebhinnekaan.

Salah satu prinsip yang dapat mempersatukan dan memperkuat kebhinnekaan di Indonesia adalah humanisme. Uraian yang cukup panjang di atas menunjukkan bagaimana humanisme telah menjadi nilai universal yang dapat menyatukan semua manusia dari beragam bangsa. Humanisme tidak dibangun dari perbedaan. Humanisme dibangun dari penghargaan atas manusia dan kehidupan bersama. Perbedaan budaya, suku, bangsa, agama dan golongan tidak ditolak di dalam humanisme. Semua itu adalah identitas masing-masing manusia. Namun jauh di dalam diri manusia, kemanusiaanlah yang menjadi perekat dan penghubung antar manusia yang berbeda.

Pendidikan merupakan pintu gerbang pertama bagi humanisme agar dapat dibawa kembali pada kehidupan manusia Indonesia. Pendidikan adalah suatu usaha untuk memanusiakan manusia muda ataupun mengangkat manusia ke taraf yang lebih insani (Driyarkara). Lewat pendidikan, generasi muda Indonesia bisa memahami humanisme dalam Pancasila sehingga mereka dapat berpikiran terbuka terhadap kebhinnekaan dan menghargai sesama manusia sesuai kodratnya.

Pada kenyataannya, pendidikan Pancasila (Pengamalan Moral Pancasila) sudah lama ditinggalkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Karena itu, bisa dimengerti bahwa banyak generasi muda Indonesia tidak memahami prinsip-prinsip dasar Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial. Karena itu, pendidikan Pancasila pada dasarnya sangat mendesak untuk dikembalikan ke bangku persekolahan, terutama jika melihat situasi NKRI yang sedang dilanda krisis kebhinnekaan.

Pendidikan deliberatif menurut Jurgen Habermas kiranya dapat menjadi salah satu alternatif bagaimana pendidikan humanisme bisa dialami oleh guru dan para peserta didik. Dalam pendidikan deliberatif, para peserta didik dan guru terbuka untuk berkomunikasi dan mengadakan diskursus tentang persoalan sosial, politik dan lainnya akan membuka wawasan mereka tentang dunia yang plural. Di dalam kelas pendidikan deliberatif, humanisme Pancasila bisa menjadi topik yang didiskusikan oleh guru dan peserta didik. Mereka bebas untuk memberikan argumen, opini ataupun sanggahaan yang logis berkaitan dengan tema ini. Jika para guru dan peserta didik terbiasa untuk mendiskusikan humanisme Pancasila dalam kesehariannya, menurut Lawrence Kohlberg, nalar mereka akan terbentuk secara otomatis untuk memiliki sikap moral yang humanis sesuai dengan Pancasila.

Humanisme yang dibawa masuk ke ranah pendidikan akan mengembangkan rasionalitas para peserta didik karena humanisme ini didiskusikan dengan dasar-dasar metodologi ilmiah yang jelas. Dengan rasionya, para peserta didik menalar segala kemungkinan yang terbuka dari humanisme untuk kemudian darinya ia mengkritisi realitas yang ia hidupi. Diskusi juga membuka kemungkinan bagi mereka untuk belajar komunikasi satu dengan yang lainnya, memahami gagasan masing-masing dan kemudian membentuk konsensus bersama. Konsensus ini pada hakekatnya tentu, secara etis, terarah pada kebaikan.

Bentuk pendidikan humanisme yang lain adalah dengan mengajak para peserta didik dan guru terjun langsung untuk mengalami pengalaman kemanusiaan sebagaimana yang aiajarkan oleh John Dewey dalam gagasan learning by doing. Para guru dan peserta didik pergi menemui kelompok-kelompok lintas budaya dan agama, lintas status sosial dan lainnya untuk belajar langsung mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan melihat dan mengalami kebhinnekaan, mereka akan belajar tentang pentingnya humanisme sebagai salah satu perekat kebhinnekaan tersebut.

Penutup

Humanisme akhirnya bisa dikatakan sebagai “bahasa universal” yang menyatukan manusia dari pelbagai latar belakang yang berbeda. Ketika kebencian dan penindasan menjadi “bahasa” sebagian kecil orang yang membenci perdamaian, humanisme hadir dan menjadi “lidah” bagi setiap orang yang merindukan kedamaian dan keadilan.

Para Founding Fathers telah berjuang keras untuk memasukkan prinsip humanisme ini ke dalam lima dasar negara. Perjuangan ini bukannya tanpa tantangan dan kesulitan. Kecenderungan untuk memahami humanisme sebagai paham yang “anti-Tuhan” merupakan hal yang paling besar mempengaruhi. Selain itu, kecenderungan untuk melihat humanisme dalam kerangka nasionalisme chauvinistik jelas bisa memperkeruh suasana. Dengan langkah bijak, para Founding Fathers ini kemudian mengambil jalan tengah yaitu dengan memberi humanisme universal sebuah wajah keindonesiaan.

Rumusan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” merupakan sebuah rumusan penting yang menjadikan humanisme universal sebagai milik bangsa Indonesia sendiri. Humanisme ini dirumuskan dari pengalaman bangsa Indonesia sendiri selama berabad-abad. Membangun kemanusiaan berarti memberi ruang bagi keadilan dan juga adab keindonesiaan.

Akhirnya, humanisme Indonesia ini hanya bisa menjadi nyata dan “mendarat” lewat pendidikan. Pendidikan mampu mengubah wajah manusia Indonesia ke depannya. Karena itu, generasi muda Indonesia harus kembali pada falsafah bangsa, mengenali dan menghidupi humanisme Indonesia agar ke depannya kebhinnekaan bukan lagi menjadi kelemahan melainkan kekuatan.

*Penulis: Trio Kurniawan

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here