Pada saat masih kanak-kanak,  mungkin banyak dari kita selalu berkhayal ketika usia kita telah dewasa. Menantikan usia tersebut dengan tidak sabarnya,  hari demi hari berharap bangun dari tidur dalam masa dewasa yang dinantikan. Selalu membuat daftar rencana yang akan dilakukan ketika dewasa dan seolah masa dewasa adalah suatu impian yang diidamkan. Karena masa dewasa bagi anak-anak adalah masa dimana kita dapat memutuskan segala sesuatu secara sendiri atau sesuai keinginan. Dapat melakukan ini itu,  makan, minum ini itu,  pergi kemana- mana tanpa harus takut terkena omelan Ayah dan Ibu karena ketentuan jam pulang dan lainnya  yang mereka buat untuk kita. Dengan kata lain melakukan apapun sesuka hati tanpa khawatir dan takut  ada kalimat “jangan dek !” hampir disetiap kegiatan yang kita lakukan. Sebab di usia anak-anak banyak hal yang rentan terjadi dan inilah latar belakang orang tua menjadi khawatir bahkan over protective.

Namun,  lain halnya dengan orang-orang yang telah menginjak usia remaja bahkan memasuki usia dewasa. Mereka merasa permasalahan hidup kian hari makin ada saja. Entah itu masalah rumah maupun di luar rumah. Dari masalah kehidupan yang umum terjadi hingga masalah asmara. Ya, tidak menutup kenyataan bahwa usia-usia tersebut merupakan usia dimana individu mulai mencari jati diri. Siapa dirinya, apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan. Hingga muncullah angan bahwasannya ingin kembali menjadi anak kecil,  kebalikan dari angan-angan di usia kecil tadi.

Menjadi dewasa sendiri adalah suatu fase yang pasti dialami manusia,  meski kata dewasa itu memiliki waktu yang tidak sama untuk setiap orangnya. Usia dua puluhan misal,  ini sering dianggap sebuah awal masa dewasa. Namun menurut sebuah penelitian dari Cambridge University, mengungkapkan bahwa usia dewasa dimulai sejak usia tiga puluhan (sumber: detikhealth). Karena pada usia dua puluhan masih dianggap belum sebenarnya dewasa, lantaran tidak jarang kita jumpai usia dua puluhan masih terlihat kekanak-kanakan. Namun,  pada usia dua puluhan inilah sumbernya.

Seolah mendung yang datang sebelum hujan, segala persoalanpun datang dan pergi meninggalkan perasaan tak karuan. Banyak hal yang seolah menyudutkan diri. Entah masalah keluarga,  keuangan,  asmara,  masalah sosial  dan yang paling membuat sedih adalah ketika melihat pencapaian mereka yang memiliki usia sama dengan kita. Banyak dari kita berpikir,  mengapa dia yang sejatinya punya usia sama dengan kita bisa punya pencapaian lebih? Mengapa mereka bisa lebih sukses? Mengapa seolah waktu cepat sekali berpihak pada mereka untuk segera sukses? Yah,   itu hal yang  umum terbersit difikiran kita bukan? Namun satu hal yang perlu kita ingat bahwa kehidupan setiap manusia tidak akan memiliki kisah dan takdir yang sama.

Permasalahan akan terus kita hadapi selagi kita masih diberikan kehidupan oleh Tuhan. Satu-satunya jalan adalah bagaimana kita hidup dengan cara berdamai dengan diri dan keadaan. Terus berusaha untuk menggali kemampuan dan lakukan apapun sesuai keinginan selagi itu menghasilkan sebuah kebaikan. Meraih pengalaman-pengalaman hidup yang dapat membangun diri kita sehingga diibaratkan besi yang terus ditempa,  diri kita akan menjadi terbentuk dari pengalaman yang  diperoleh sepanjang perjalanan yang kita lalui. Ketahuilah setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing dan pasti memahami tentang diri mereka masing-masing. Sehingga kebahagiaan seperti apa yang kita inginkan,  hanyalah diri kita yang tau.

Jadi, yakinkan pada diri kita bahwa kita bisa dengan waktu yang kita punya. Kita dapat mencapai kebahagiaan yang menjadi hak kita. Kebahagiaan tiap manusia tentu berbeda-beda. Bila kesuksesan menjadi kebahagiaan kita,  itu bukan sebuah ketidak-mungkinan . Ukuran sukses sendiri juga tidak melulu soal jabatan dan kekayaan,  melainkan kebahagiaan dalam hidup dan menjadi manusia yang terus berbuat baik serta  bermanfaat bagi orang banyak merupakan bagian dari kesuksesan. Satu hal,  pastikan kita terus dekat dengan Tuhan. KarenaNya merupakan sumber dari segala kehidupan.

Jadi,  seperti mendung yang hadir mengawali hujan, maka pelangi yang akan mengakhiri derasnya hujan. Terus berusaha dan lakukan terbaik yang kita bisa! Usaha dan do’a yang kita panjatkan tidak akan pernah berkhianat. Tuhan menjamin itu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here