Oleh: Ach Dhofir Zuhry *

Apakah Anda termasuk orang yang belum mengizinkan diri sendiri untuk menyinta-dicintai orang lain? Adakah Anda bahagian dari pribadi-pribadi yang belum berdamai dengan “isi” kepala dan dada Anda sendiri? Benarkah Anda belum dan bahkan enggan untuk memaafkan diri sendiri dan apalagi orang lain? Pernahkah Anda tiba-tiba menjadi pembenci akut stadium empat, yang bukan hanya membenci manusia, bangsa dan agama lain, Anda bahkan membenci diri sendiri, Tanah Air dan cenderung memusuhi Tuhan?

Sesekali, datang dan lalu masuklah ke dalam gua (jika belum sempat, bayangkan saat ini juga), lintasi ceruk-ceruknya secara seksama, ayunkan langkah secara perlahan, pandangilah tiap stalakmit-stalaktit (speleothem) berikut tetes demi tetes airnya, rentangkan mata dan pikiran, amati dan rasakan!

Nah, setelah hening di sekeliling, sekarang berteriaklah, panggil nama seseorang, ejek-cemooh lah apa pun dan siapa pun dia, sanjung-pujilah sesuka Anda! Apa yang terjadi? Apa yang terdengar? Mula-mula, Anda akan memanggil perlahan, “halo”, terdengar sepersekian detik kemudian suara yang sama. Lalu, sembari meneruskan langkah, Anda memekik, “siapa itu?”. Lagi-lagi terdengar jawaban yang sama”. “Hai, kurang ajar, kau”, kini kelihatannya Anda mulai jengkel, namun demikian, jawaban yang sama lagi-lagi terdengar kian mengejek, mengaduk-aduk emosi Anda.

Nah, setiap Anda membentak, “kamu bodoh dan tak berguna!” Tak lama kemudian, suara yang sama persis bergaung-gema, bahkan kini terdengar lebih galak-menyalak. Sebaliknya, manakala Anda berujar, “hai kawan, hai cantik, kau kekasih Tuhan, kau akan sukses, bahagia dan mulia, tak lama lagi jomblo akan jatuh tempo!” Ajaib, suara balasan yang sama segera terdengar dari ujung gua, bahkan suara itu lebih merdu dan berkarakter. Anda pun tersenyum simetris.

Itulah Law of Feedback, itulah Hukum Timbal-Balik. Tak peduli apa pun yang Anda berikan pada dunia, dunia akan mengembalikannya untuk Anda. Nah, sekarang sadarlah Anda bahwa: (1) suara-suara jawaban di dalam gua itu adalah pantulan suara Anda sendiri yang menggema melalui dinding-dinding gua; (2) kini Anda akan lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan apalagi bertindak kepada dunia, kepada sesama. Kebencian berbalas kebencian, cinta berbalas cinta.

Jika Anda masih berada di dalam gua, keluarlah sekarang juga. Lalu bayangkan sekali lagi bahwa gua tersebut adalah pikiran Anda sendiri, hati Anda sendiri. Jadi, perjalanan yang baru saja Anda lakukan adalah perjalanan ke dalam diri, melintasi pikiran dan hati, mengitari relung jiwa dan palung sukma—dalam buku saya: Tersesat di Jalan yang Benar (2006) disebut Inner Journey. Inilah perjalanan paling inti dan murni, paling jujur dan alami. Sesuatu yang layak untuk direnungi-diinsyafi.

Hukum Timbal-Balik adalah bagian dari hukum universal yang ditentukan oleh pikiran-pikiran manusia sendiri. Jadi, bahagia dan derita, mulia dan hina adalah “gema” dan “gaung” dari pikiran kita sendiri. Hukum Timbal-Balik menyatakan bahwa apa yang pergi pasti kembali, apa yang naik akan turun. Lebih dari dua milenium silam, Mahafilsuf Socrates mengajarkan bahwa jalan menuju ke atas dan jalan menuju ke bawah adalah satu dan sama. Dan, kini kita baru memahaminya. Tak penting memang, apakah kita yang terlambat memahami Socrates atau beliaulah yang terlalu dini dan buru-buru mengemukakan pandangannya.

Barangkali paparan di atas, masih menyisakan kecamuk tanya di kantong Anda: mengapa orang tua atau guru yang telah pergi (meninggal dunia), tak pernah kembali? Mengapa pula ketika menyinta seseorang, kadang malah kebencian yang kita dapati; menolong malah dimusuhi; membantu malah dicurigai?

Baiklah, Anda sudah terlanjur kenal dan bertawassul dengan Socrates, kini saya perkenalkan dengan leluhurnya, yakni Lao Tzu (silahkan periksa buku saya Filsafat Timur, 2012). Nabi Lao Tzu mengatakan bahwa orang yang telah meninggal tidak hilang atau lenyap begitu saja, sebab energinya “termanifestasi ke bentuk yang lain” kepada keluarga, ahli waris, pengikut dan murid-muridnya. Bagaimana mungkin seeorang bisa dikatakan mati, kalau masih bisa kita lihat gambarnya, kita pelajari dan lalu kita sebarkan petuah dan ajarannya, kita dengar suara dan refleksinya. Dan, berita baiknya, Anda yang membaca tulisan ini telah menerima manifestasi energi-energi itu. Lebih-lebih jika Anda bergabung dengan pusaran energi semesta, yakni cinta universal.

Bagaiman dengan cinta yang berbalas kebencian tadi? Kadang, kebencian adalah cinta yang sudah kadaluwarsa, pun sebaliknya. Berikan saja cinta Anda tanpa pamrih pada semua! Jika Anda ingin bahagia dalam memberi, jangan pernah berharap imbalan dengan sekian kalkulasi dan apalagi matematisasi yang rumit.

Apakah hal ini bukan memaksakan cinta namanya? Jelas tidak demikian, sebab harga yang harus Anda bayar (belum lagi ongkos sejarah—historical cost) untuk kebencian dan emosi-emosi negatif jauh lebih besar dari pada menyinta dan memaafkan.

Dan, berita buruknya adalah, membenci jauh lebih melelahkan dan melemahkan dari pada mencintai. Nah, mulai detik ini, maafkan mereka para pembenci, maafkan diri Anda sendiri yang salah mengerti, cinta-sayangi mereka, doakan agar bahagia dan mulia. Lalu, semuanya menjadi sederhana, semua kebaik-tulusan itu akan berbalik arah kepada diri Anda sendiri, sebab Anda adalah magnet bagi setiap pikiran, perkataan dan perbuatan Anda. Kembalilah pada diri, berpulang pada yang sejati.

Dalam literatur Tasawuf, kembali menjadi semula, kembali ke awal, menormalisasi hati dan menetralisasi diri adalah fakultas (maqam) pertama yang disebut inabah alias taubat.

*Penulis buku best seller Peradaban Sarung: Veni, Vidi, Santri dan Kondom Gergaji. Rektor STF Al Farabi Kepanjen dan Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here