Berderu petir bersahutan,
Ledakan-ledakan mercon menggaung menimpali.
Bertabu bedug bergenderang,
Berdendang takbir dari mulut-mulut hamba Ilahi.

“Allah Maha Besar.
Manusia Maha Kecil.
Tiada Tuhan Selain Allah.
Tiada Hamba Selain Manusia.
Segala puji bagi Allah.
Maha Suci Engkau Ya Allah Tuhan semesta alam.”

Orang-orang berderu memujiNya, memohon ampunan kepadaNya, dan senantiasa mengharap kasih sayangNya.
Burung berkicau, menatap langit, hinggap di bulan yang meringis tipis.
Pepohonan bergoyang sopan, menyimak mantra-mantra yang berkumandang.
Asap opor berwujud Aladin, hendak memeriahkan kegembiraan Idulfitri, sembari sang koki mengharap diperjumpakan kembali dengan Ramadan nanti.

Aladin pun melobi Tuhan, agar manusia kekal, seminimalnya tahun depan.

Tuhan pun mengangguk irit.

Idulfitri, semua bergembira.
Memakai busana terbaru,
sebagiannya didaur ulang.
Tak menjadi masalah, asal hati dan pikiran senantiasa mewangi di hadapan Tuhan.

Idulfitri, niscaya ada bagi diri yang suci,
bagi cinta yang tulus bersemi.
Idulfitri, mengurai kegundahan menuai keceriaan.
Idulfitri, membuka samudera maaf dan kasih.
Idulfitri, menghantarkan diri menuju perjalanan abadi.

Idulfitri, keadilan adalah hak segala bangsa.
Idulfitri, menghapus noda-noda keserakahan.
Idulfitri, memaafkan segala yang korup tidak lah mungkin tanpa pertobatan hakiki.
Idulfitri, kesucian membenci segala tindak korupsi.

Batang, 1 Sawal 1444 H
Batang, 22 April 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here