Judul : SASTRAWAN SALAH PERGAULAN
Penulis : Puthut EA
Penerbit : Mojok
Cetakan : 1, Agustus 2019
Tebal : vi, 106 Halaman
ISBN : 978-623-7284-08-6
Presensi : Bagus Rachmad Saputra

Dengan bahasa yang menggelitik, Puthut EA selaku penulis sukses menulis catatan masa lalunya dengan sosok-sosok yang ada disekitarnya dengan kisah yang jenaka. Menggunakan dialek khas bahasa Jawa karena berlatar peristiwa kehidupan sehari-hari yang ditemui penulis dengan Jogja sebagai latar ceritanya. Tentu pilihan bahasa ngoko atau bahasa jawa dalam konteks pergaulan sehari-hari dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Bagi pembaca yang bukan berasal dari Jawa pun dengan mudah dapat menangkap maksud cerita pendek yang ada di buku berjudul Sastrawan Salah Pergaulan tersebut, karena menggunakan bahasa Indonesia secara umum dengan bahasa Jawa sebagai selipan dalam dialek perbicaraan tokoh-tokoh di cerita pendek tersebut.

Menceritakan kehidupan mahasiswa kampus yang unik-unik, seolah menerjemahkan kisah kehidupan kampus yang penuh dengan ideal-ideal. Namun juga ada banyak hal-hal yang dapat ditertawakan karena dikemas dengan kisah pengalaman secara jenaka. Kisah percintaan, pekerjaan, hingga dunia racik-meracik minuman dikemas dengan dialek yang sangat jenaka. Pembaca akan diajak berfantasi tentang bagaimana kehidupan manusia dengan kantong tipis yang penuh muslihat mempertahankan hidupnya. Seperti cerita berjudul Utang Bakul Dawet, tokoh Andy yang penuh siasat cerdik bisa menjebak pedagang dawet dan temannya sendiri guna mendapatkan keuntungan pribadi. Cerita bergaya kocak dan jika pembaca dapat merefleksikan cerita tersebut, dapat menggambar kehidupan saat ini yang penuh dengan siasat.

Atau cerita patah hati tokoh lainnya, jago berkelahi namun memble soal percintaan. Bagaimana tokoh tersebut menikmati patah hati seperti milenial saat ini yang menikmati patah hati dengan dijogetin aja bersama lagu-lagu Lord Didi Kempot. Patah hati tidak perlu diratapi namun harus dinikmati dengan ketawa ketiwi meski pedih. Selain percintaan, sastrawan salah pergaulan juga menyinggung balada-balada kehidupan seniman dan bahkan disebut langsung oleh penulis nama-nama penulis tersebut. nama-nama seperti Butet Kertaredjasa dan Agus Noor menjadi obyek cerita sastrawan salah pergaulan.
Kritik pendidikan yang diambil dari tokoh di cerita Cantrik Nitiprayan menjadi sisi lain yang bukan hanya menyajikan kisah humor dan percintaan. Namun juga kisah dua orang yang sedang mengkritisi model sekolah dengan obyek buku Sekolah Itu Candu sebagai obyek cerita yang kemudian beralih menjadi perdebatan tentang keberhasilan akademis yang terkadang tak linier dengan pekerjaan. Hingga dialek tokoh yang ada di cerita tersebut berakhir dengan pandangan filosofis masyarakat Jawa tentang ”ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyentosani, setya budya pangekesing dur angkara”. Ngelmu atau ilmu tidak bisa dipisahkan dari tindakan sebagai hasil dari pencarian ilmu itu sendiri. Selain itu tidak bisa lepas dari tujuan etis yakni pangekesing dur angkara. Dimana kalau tidak dilakukan dengan tindakan sebagai proses belajar , tirakat, dan proses internalisasi nilai-nilai, serta tidak dalam rangka pangekesing dur angkara yakni menyingkirkan dan meminimalisir sifat serta tabiat buruk, berarti bukan ilmu.

Bertemunya siswa dengan guru pun sebuah momentum akad suci. Secara praktek, orang tua siswa akan datang membawa anaknya ke guru. Percaya sepenuhnya pada guru dan anaknya terlayani dengan baik oleh sang guru. Pikiran-pikiran kritis tersebut sukses disisipkan di cerita Nyantrik Nitiprayan. Selain Cantrik Nitiprayan, cerita-cerita lain melengkapi kisah memoar penulis yang dikemas jenaka ini. Cerita Katolik, Kalah Tiga Kali Dalam Semalam, Bangkit Dari Kubur, Kisah Tiga Asmara, Utang Bakul Dawet, Awal Kenal, Ngancani Wong Edan, Jasa Pemantik Tawa, Senimang Andy Eswe, Strategi Kopoken, Kromoleo, Pakar Kebangkrutan, Bangkrut itu Bagus, Provokator, Mas Naryo kumpulan cerita-cerita kritik sosial yang terarsip rapi dalam buku Sastrawan Salah Pergaulan yang merupakan satu dari tiga buku yang dikemas secara bersamaan oleh penulis yakni Leladi Bebrayan dan Kitab Rasa.

Demikianlah mengenang balada kehidupan yang terkadang diingat kembali akan mengahadirkan gelak tawa. Mengingat hal-hal yang dianggap bodoh namun justru menjadi pengalaman yang mengesankan di masa depan. Manusia memiliki cerita dan cerita-cerita itulah yang membuat manusia mampu mengemas kehidupan mencari sebuah cerita, yang tentunya dapat ditertawakan dari hal-hal akibat salah pergaulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here