Beberapa saat lalu telah viral tagar #muslimahtolakgenderequality di media sosial twitter. Tagar tersebut viral tak lama setelah diselenggarakan Konferensi Internasional Online di Youtube bertema “Beijing +25: Apakah Kedok Kesetaraan Gender telah Terbongkar”

Apa itu kesetaraan gender?
Kesetaraan gender merupakan hubungan kesalingan antara perempuan dan laki-laki untuk saling melengkapi, saling berlomba-lomba dalam kebaikan atau fastabiqil khairat, bukan saling menggunggulkan diri untuk menjatuhkan satu sama lain.
Setara tidak merubah kodrat perempuan. Perempuan tetap bisa melakukan perannya di dalam rumah tangga yakni; menjadi ibu, istri, dan bekerja sama dengan suami dalam mengurus rumah tangga. Dalam mendidik anak pun harus menerapkan prinsip kesetaraan gender.

Bagaimana pendapat Ibu tentang tagar #Muslimah Tolak Gender Equality dibadingkan dengan perjuangan Ra Kartini?
Kesetaraan gender telah diajarkan jauh sebelum RA. Kartini lahir yaitu pada jaman Nabi Muhammad SAW. Kesetaraan gender merupakan misi kenabian Rasulullah sebagai tugas kemanusiaan yaitu menghilangkan perbudakan, menetapkan mahar sebagai hak milik perempuan, mengapresiasi kemanusiaan perempuan.
Manusia hendaknya mengaplikasi konsep ketauhidan dalam hidupnya, yakni satu-satunya Tuhan yang disembah adalah Allah SWT. Konsep tauhid ini akan tertanam kuat agar manusia tetap menegakkan nilai keadilan, hidup tanpa diskriminasi maupun penindasan.

Apa tolok ukur keberhasilan kesetaraan gender?
Tolok ukur keberhasilan kesetaraan gender yakni saat semua kebijakan publik tidak lagi diskriminatif maupun eksploitatif terhadap kali-laki maupun perempuan. Seperti RUU P-KS harus diperjuangkan agar segera disahkan karena jumlah kasus kekerasan seksual di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Peningkatan ini tidak diimbangi dengan aturan yang mempermudah korban dalam proses penanganan maupun pendampingan.

Kesimpulan
Kesetaraan gender harus diperjuangkan. Agama islam sudah lebih dulu mengajarkan ini. Kesetaraan gender tidak mengubah kodrat perempuan dan laki-laki. Tapi, bagaimana peran perempuan dan laki-laki saling melengkapi satu sama lain.
Solusi menhadapi budaya patriartki adalah merekontruksi (membangun ulang) budaya baik dari keluarga, pendidikan, dan memahami islam secara khaffah bukan budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here