Karena pada dasarnya saya malas, saya terbiasa menghemat waktu dalam melakukan penelitian. Alih-alih membaca buku, saya hanya pergi ke orang-orang yang ahli dibidang yang ingin saya ketahui. Misalnya dalam sebuah novel, ada banyak detail tenang industri pengalengan ikan di Danau Erie, meskipun itu tidak terjadi tema utama karangan saya.

Saya mendapatkan sebagian besar informasi hanya dengan bertanya kepada kapten dan kru kapal penangkap ikan di danau tersebut. Sisanya saya mengamati kondisi di sekitar danau itu ketika berjalan menuju dermaga di sana. Karena saya tahu sebelumnya rincian detail info yang saya butuhkan, riset saya itu hanya butuh waktu satu hari.

Jika saya berusaha mempelajari segala sesuatu yang perlu diketahui tentang industri perikanan sebelum menulis cerita, dengan niat baru memilah data yang saya butuhkan ketika menulis kisah, waktu sebulan mungkin tak akan cukup untuk penelitian. Padahal, dengan waktu riset yang singkat, sudah bisa mengumpulkan bahan untuk cerita yang memikat.

Saya menuliskan sedikit pengetahuan saya soal aktivitas memancing dan penangkapan ikan dalam dua halaman novel tadi. Ketika saya menunjukkan bagian dari novel yang berkisah soal aktivitas memancing ke kapten kapal kenalan saya, dia menilai cerita itu seolah-olah dikisahkan oleh orang yang pernah jadi kapten kapal penangkap ikan.

Jadi saya pun melakukan riset dengan cara lebih rumit karena harus mempelaj diingat bahwa mari segala sesuatu tentang fakta yang bisa saya ketahui. Kemudian ketika anda sudah memiliki semua informasi yang dibutuhkan, gunakan dengan hemat ditulisan. Perludiingat bahwa meskipun pembaca menyukai cerita dengan banyak detail, mereka tidak suka seolah-olah digurui. Fakta demi fakta, detail demi detail, hanya layak ditulis untuk mendukung jalannya cerita*

 

*Disarikan dari artikel Richard Deming-Maret 1956. Dalam buku Memikirkan Kata- Panduan Menulis untuk Semua

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here