Judul :Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (Edisi 2)
Pengarang :Mahfud Ikhwan
Penerbit :Bentang
Tahunterbit : April 2018
Tebal ; iv + 379 Halaman

Selain Ahmad Tohari, sejauh ini belum ada satupun pengarang yang secara intuitif berhasil membawa saya seolah hidup dalam setiap jengkal kalimat dalam tulisannya. Membaca karya-karya Ahmad Tohari, saya merasa dipersilakan untuk mengambil andil, memegang peran, atau katakanlah saja menjadi bagian dari cerita yang disuguhkan.

Ada dua kemungkinan. Pertama, barangkali memang itu kepakaran Ahmad Tohari dalam menyuguhkan sebuah cerita. Saya kadang berprasangka, kalau Musa diberi mukjizat lewat tongkat, atau Daud melalui seruling ajaibnya, jangan-jangan Tohari dianugerahi keajaiban pada setiap lentik jari-jemarinya. Kedua, mungkin karena ada keterikatan antara saya dengan Tohari. Keterikatan sebagai sesama produk desa.

Nama Tohari dikalangan generasi milenilal mungkin tidak setenar nama-nama penulis baru yang mulai bermunculan. Perlahan namun pasti, gaya bercerita ala Tohari berganti menjadi gaya tulisan yang cenderung metropolitan. Latar belakang pedukuhan dengan pohon-pohon randu sudah jauh ditinggalkan. Pelataran rumah yang asri, padang rumput, kambing-kambing, pasar, dokar, sudah jauh diganti dengan fenomena coffe shop, rumah bertingkat, mobil-mobil, dan segala gemerlap kota yang riuh dan berdebu.
Saya tidak menafikkan jika itu keren. Paling tidak dengan gaya tersebut banyak anak-anak muda yang mulai tertarik untuk membaca sastra. Itu yang terpenting.

Namun di sisi lain, saya juga tidak bisa begitu saja move on dari gambaran kampung yang hijau dan berkabut. Pertama, karena saya memang anak desa asli. Kedua, sejak SD saya sudah terlanjur suka dengan cerita-cerita berlatar panggung kehidupan desa yang jauh dari asap kendaraan dan bising kemacetan.
Ahmad Tohari memang masih hidup, sehat pula dia. Bukunya banyak yang masih beredar dan dicetak ulang. Tapi bukan itu yang saya cari. Saya memimpikan ada generasi baru yang mewarisi kepiawaian empu-nya “Ronggeng Dukuh Paruk” tersebut dalam melukiskan panorama desa dengan menggunakan tinta keabadian. Setidaknya, ada bacaan yang membuat saya tidak begitu nelangsa ketika masih harus berjibaku dengan serakahnya kota.

Sampai akhirnya, pada Minggu sore yang sedikit berangin, disalah satu took buku di Surabaya saya menemukan buku itu, buku dengan sampul berilustrasi sepasang pohon yang berpaut membentuk jantung. Saya raih buku itu dari raknya, “Kambing dan Hujan: Sebuah Roman” begitu bunyi judul yang tertera.

Saya tak sempat membaca sinopsisnya, dan entah kenapa saya tak menaruh curiga barang sedikitpun untuk menimbang apakah buku ini bakal enak dibaca atau tidak. Padahal, itu adalah ritual wajib yang harus saya penuhi sebelum memutuskan untuk membeli.

Aneh sekali memang. Sejak kali pertama buku itu kepergok oleh saya, saya sudah langsung sreg, seketika cocok. Iya, begitu saja, bahkan tanpa terlebih dahulu melirik kolom harga. Semacam ada ikatan batin. Melihat buku itu, saya seperti melihat kampung halaman, saya seperti melihat pekarangan rumah saya yang dipenuhi anak-anak dan ibu-ibu rumpi sambil menikmati kabut gunung yang berarak turun setiap tiba senja hari.

Benar saja, Mahfud Ikhwan barangkali sengaja dikirim Tuhan untuk menjadi semacam minuman-minuman isotonik. Selain menyegarkan juga mengganti cairan yang hilang. Dengan begini, paling tidak saya sudah menemukan orang kedua setelah Ahmad Tohari. Buku ini menyuguhkan cerita yang lain dari yang lain. Di tengah permintaan pasar yang metropolistis, buku ini dengan beraninya menentukan arahnya sendiri. Maka sangat layak jika buku ini pada akhirnya menjadi pemenang pertama dalam Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2014 silam.
Saya mungkin agak berbeda dalam memandang buku ini. Disaat orang-orang melihatnya sebagai sebuah kisah roman berbalut religi (bisa juga sebaliknya), saya justru memandangnya sebagai sebuah kampanye untuk kembali memperhitungkan potensi lokalitas yang dimiliki setiap desa.

Mengambil latar tempat di salah satu desa di JawaTimur (mungkinTuban mengingat ada beberapa bagian yang menyebut nama-nama seperti Terminal Lama (hanya ada di Tuban), daerah Palang (salah satu kecamatan di Tuban), dan satuan jarak yang menunjukkan daerah tersebut dekat dengan Lamongan.) Buku ini pada dasarnya terbagi kedalam tiga bagian.
Bagian satu, bercerita tentang pergulatan cinta antara Mifdan Fauzia sebagai anak dari dua tokoh agama di desa tersebut. Bagian kedua, intimitas persahabatan antara tokoh Is dan Moek (Fauzan) dengan segala perbedaan ideologisnya. Dan bagian ketiga, adalah upaya Mahfud untuk menghidangkan sebuah konflik ideologis yang bertahun-tahun menjadi api dalam sekam bagi kehidupan masyarakat setempat.

Konflik ideologis yang pada gilirannya saya curigai sebagai sengketa pandang antara Muhammadiyah yang direpresentasikan oleh Mif dan ayahnya (Pak Is), dan NU yang diwakili oleh Fauzia berikut ayahandanya (Pak Fauzan). Bisa dilihat dari perbedaan pandangan keduanya terhadap bacaan Qunut, perdebatan jumlah rakaat tarawih, sampai kasus tahunan mengenai penentuan awal Ramadhan dan awal lebaran.

Tapi entah, bagi saya cerita-cerita itu hanyalah tabir untuk menutupi misi utama Mahfud manakala meluncurkan buku tersebut. Saya tahu, sebagaiamana saya, Mahfud juga berasal dari desa. Mungkin saya sok tahu, tapi saya berhasil menyingkap tirai yang entah sengaja atau tidak diciptakan pengarangnya untuk buku ini. Dan di balik cerita romansa dan kegetiran agama, saya melihat surga di desa yang amat sangat kentara.

Ada beberapa hal untuk membuktikan itu. Seperti misalnya, kebiasaan Is dan Moek menggembalakan kambing, kesukaan mereka tidur terlentang di atas padang rumput di sebuah bukit bernama Gumuk Genjik, pohon rindang dan keramat, kebiasaan mengirim nasi untuk tetangga mana kala sedang digelar sebuah hajatan, suasana musolla sebagai tempat jamaah, ngaji, serta jagongan (nongkrong) yang syahdu, sampai sebuah pesan bagaimana baiknya kita memuliakan tamu, setidak cocok apapun kita dengan tamu tersebut.
Itu semua adalah gambaran lokalitas desa yang luhur, yang tidak saya temui dalam peradaban metropolitan. Gambaran surga yang selalu menjadi alasan untuk pulang.

Kalau ada yang cacat dari buku ini, mungkin itu hanya alur cerita yang terlalu klise. Terlalu mudah dibaca. Cinta terlarang, perseteruan, dan ujung-ujungnya yang sangat mudah ditebak: hidup bersama dengan bahagia.

Tapi lebih dari itu, novel ini sepenuhnya nyaris sempurna. Hanya saja saya kurang setuju kalau sub judul dalam novel ini adalah “Sebuah Roman”. Karena saya melihatnya sebagai sebuah temuan etnografis dan fenomena kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here