Setelah nonton sexy killers lalu membuat anda merasa sangat penting dalam berperan menjaga kualitas lingkungan dunia? Seraya anda mengutuk korporat tengik yang sudah mengeruk habis isi perut bumi Indonesia? Omong kosong!

Lagian, kalian yang sudah mencak-mencak setelah nonton sexy killer dengan seraya buat stori “Ini film dokumenter terbaik yang pernah aku tonton”, “nonton ini bikin nangis”, “film ini penuh muatan politik” apakah terus membuat kalian ujuk-ujuk ndak menggunakan listrik lagi karena termasuk dari bagian rantai panjang pengerukan batu bara? Ya nggak juga to!. Habis nonton film itu, kalian juga ngecas gadget kalian.

Oke, mari kita mulai pelan-pelan.

Diawali dari perkembangan teknologi penerangan yang dibuat manusia. Kok rasanya ya, kalau tak ingat-ingat, teknologi penerangan kita ini gak bergerak banyak dalam sejarah umat manusia. Sejak manusia ada, teknologi penerangan pertama yang digunakan selain cahaya alam berupa sinar matahari, dulu manusia menggunakan api. Lalu setelah viralnya penemuan bola lampu oleh Alfa Edison, barulah kita beralih dari api ke listrik untuk lampu. Artinya dalam segi teknologi penerangan, selain sebenarnya kita tidak bergerak jauh-jauh amat karena hanya berubah dari api ke listrik, selama ini yang terjadi hanya sedikit variasi pada tiap teknologi. Misal bola lampu, dimulai dari lampu yang paling sederhana sampai lampu yang amat canggih seperti sekarang yang bisa nyala dan mati sendiri. Tapi tetap dalam koridor prinsip yang sama, yakni cahaya itu keluar kalau ada listrik yang mengalir.

Dalam memproduksi alat penerangan tadi, sudah pasti kita akan mengambil sesuatu dari alam. Saat kita menggunakan api, kita juga akan mengunakan kayu di hutan, dan saat teknologi berubah jadi listrik kita mengambil bahan-bahan di alam, misal batu bara, untuk dimanfaatkan dalam memproduksi listrik.

Jadi, mau api kek atau listrik kek, tetap ada sumber daya alam yang terkuras dan itu memastikan bahwa mau pakai apapun, alam kita akan tetap berubah karena ulah tangan manusia. Alam tetap digunakan sebagai sumber utama dalam menyediakan kebutuhan manusia.

Oke, dari bahan baku produksi kita bergeser ke proses produksi. Proses produksi secara garis besar akan membuahkan dua hasil, yakni yang kita ambil manfaatnya dan yang kita buang atau biasa kita hina dengan sebutan limbah.

Aku kira, dalam buanyak proses, sering kita temui bahwa hasil produksi tidak terdiri dari satu variabel saja, alias hanya punya manfaat saja, tapi ada yang manfaat dan ada juga yang tidak. Jadi hampir rata-rata setiap proses kita akan menghasilkan limbah. Seperti semisal proses kita makan, selain ada nutrisi yang diserap tubuh dan menghasilkan energi, proses makan kita juga menghasilkan limbah berupa tai yang tidak dimanfaatkan tubuh dan akhirnya bermuara di saptictank.

Kembali ke api dan listrik

Api memiliki manfaat berupa cahaya penerangan, dan limbahnya adalah abu bekas pembakaran. Abu berupa kayu bekas yang dibakar dan jelaga yang biasanya membuat hitam langit-langit. Sementara listrik, selain manfaat yang berupa cahaya lampu, listrik juga memiliki limbah.

Iya po? Kok kayanya rumahku bersih-bersih aja

Ya limbah produksi listrik ini ndak di rumahmu ndes, limbahnya ya berada di tempat produksi si listrik itu sendiri. Lah memang pembangkit listrik tenaga bla bla bla itu tidak menghasilkan limbah? Soal batu bara yang dimanfaatkan di PLTU, limbahnya berupa fly ash dan gas buang zat kimia yang cukup berpengaruh pada ekosistem alam seperti meningkatnya produksi hujan asam.

Sekali lagi aku pengen katakan, mau api kek, mau listrik kek, selain mengubah kondisi alam, ya keduanya menyumbang limbah juga untuk lingkungan.

Sampai sini, biasanya mulai ada orang-orang yang membicarakan sumber energi terbarukan. Misal, PLTU pakai batu bara emang gak oke. Coba ganti dengan angin, matahari, nuklir sampai mulut pedas netizen. Nah itu kan bisa jadi solusi alternatif untuk kita tidak terus mengeksploitir alam!

Komparasi ini kalau di film sexy killers, yang dibahas adalah perbandingan soal biaya produksi, yang mana batu bara lah yang paling murah dan efisien dari pembangkit listrik tenaga bla bla bla yang lain.

Tapi disini aku ingin membahas soal limbah yang dihasilkan aja, tepatnya bukan limbah apa saja yang dihasilkan, tapi bagaimana cara mengetahui limbah-limbah apa saja yang dihasilkan dari masing-masing pembangkit listrik.

Emang, antum kira energi dari gas organik, angin, matahari sampai nuklir tidak menghasilkan limbah?

Awalnya sih, aku mengira bahwa energi matahari dan angin itu bisa nihil limbah, la gimana gak nihil, sumber energinya ndak ada di bumi tapi cementel di angkasa. Eh ladalah, aku pernah disalahin sama mahasiswa teknik nuklir gara-gara ngebacot kek gitu, katanya panel surya itu mencemari lingkungan karena mengandung logam timbal.

Dari sana aku jadi mafhum, ternyata limbah itu ndak hanya dari proses produksi yang tak berguna. Tapi juga dari serangkaian peralatan yang digunakan selama produksi. Kayak si panel surya tadi, dia kan jadi limbah juga kalau kinerja panel sudah tidak segemilang pas baru digunakan.

O ya ya ya, oke juga!

Eh tibaknya, temen yang teknik nuklir tadi meneruskan bicara gini “jadi sebenarnya yang paling green itu nuklir!”

Ealah dul, ternyata koe promosi. Wkwkwkw

Batinku, lah emang nuklir itu ndak butuh senyawa radioaktif macam uranium, la bukane itu nambang juga, hais iso-iso ae sukamto iki rek, menafikan energi surya karena penyumbang timbal, padahal bahan nuklir sendiri juga ditambang!

Jadi, aku menyimpulkan ada satu trik untuk kalian bisa nyacati satu alternatif energi. Begini, coba ngomong dengan orang yang fokus di bidang-bidang tertentu. Misal, kalau kalian pengen ngerti efek buruk –termasuk limbah- dari pembangkit listrik tenaga angin, coba tanyakan pada pegiat sumber energi tenaga air, insyaAllah kalian akan temukan kecacatan dari pembangkit listrik tenaga angin, wkwkw. Kalau kalian mau kritisi panel surya, ya jangan tanya ke orang yang konsern di pembangkit listrik tenaga surya, ra nyucuk. wkwkwk

Memang kita itu paling suka kalau nyacati orang lain, dan paling lemah melihat kesalahan diri sendiri. Astaghfirullah

Terus kalau tiap sumber energi itu memiliki efek buruk, kita akan hidup seperti apa? Dunia akan segera hancur dong, semuanya buruk.

Hee, kamu tiap pagi juga eek, dan dunia gak segera hancur karena eekmu itu. Kecuali eekmu itu satu truk.

Lah kok jadi ke eek?

Tadi aku sempat bilang, limbah itu niscaya, pasti ada, dia tidak perlu dibenci hanya perlu diolah, yang diperlukan adalah tidak membuangnya secara berlebihan. Jadi kalau limbah tidak berlebihan, penggunaan juga tidak berlebihan. Sehingga mendorong setiap dari kita, dari hulu sampai hilir untuk tidak berlebihan itulah kunci dari segala kunci. Meskipun meminta industri tidak berlebihan itu cukup buat pesimis sebelum disuarakan, lawong industri itu prinsipnya memproduksi massal je, yo kudu akeh.

Jadi, sebenarnya kerusakan alam karena pengerukan batu bara yang dipakai untuk PLTU itu asal muasal masalahnya adalah sifat berlebihan itu. Industri memang punya kecenderungan ingin memproduksi sesuatu secara masal dan kadang sering kebablasan. Nah berlebihan inilah yang sebenarnya ndak oke.

Jadi kamu mau pakai apapun sumber energinya, kalau ada berlebihan di sana ya jadinya gak oke. Lawong sebenarnya pakai sumber apapun ya asik-asik saja awal mulanya. Ya, to?

Kita di zaman batu pun, kalau kita pakai kayu secara berlebihan untuk menghasilkan cahaya dari api, yo hutan gundul, ndes.

Aku masih percaya, Tuhan buat uranium itu ya untuk nuklir juga kok, emang harus dimanfaatkan. Tapi selama ada satu saja orang berlebihan di dunia ini, ya bumi tak akan cukup dalam mencukupi kebutuhan manusia.

Tabik…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here